Film Children of Heaven versi Indonesia dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026. Karya aslinya yang berasal dari Iran diakui secara global sebagai salah satu film keluarga terbaik dan sempat menembus nominasi Academy Awards atau Oscar pada 1999 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.
Kisah menyentuh mengenai perjuangan kakak beradik tersebut kini dikemas ulang dengan arahan sutradara Hanung Bramantyo. Seperti dikutip dari Medcom, rumah produksi MD Entertainment menyatakan kepuasan mendalam terhadap hasil akhir sinema ini.
Produser Manoj Punjabi menyebut proyek ini sebagai salah satu karya terbaik yang pernah dilahirkan oleh rumah produksinya.
"Bagi saya ini salah satu film terbaik dari MD, dari saya atau yang pernah saya buat. Saya puas sekali. Saya beruntung ini cerita bisa jatuh ke tangan MD Entertainment," ujar Manoj Punjabi.
Visi penyutradaraan Hanung Bramantyo dinilai berhasil mengalirkan emosi yang kuat namun tetap mempertahankan kesederhanaan cerita. Faktor krusial lain yang menghidupkan suasana adalah ketepatan dalam pemilihan pemeran.
Adaptasi ini menampilkan dua aktor cilik baru, yaitu Jared Ali yang memerankan tokoh Ali dan Humaira Jahra sebagai Zahra. Chemistry natural yang terbangun di antara keduanya menjadi pusat emosi sekaligus kekuatan utama dalam menggambarkan kehangatan hubungan saudara.
Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa genre drama realistis merupakan pendekatan yang paling nyaman bagi dirinya dalam menggarap sebuah cerita.
"Saya memang menyukai realisme, drama saya memang saya suka. Saya ingin buat film film ini serealistis mungkin," kata Hanung.
Meskipun terdapat dorongan untuk menyajikan visual dalam skala yang lebih masif, Hanung memilih setia pada ritme penuturan yang tenang dan emosional. Proses penyuntingan gambar bahkan diawasi secara ketat demi menjaga nuansa alamiah cerita.
"Pada saat bikin film ini saat editing, editingnya saya jagain betul karena saya tidak mau banyak cut, saya nggak mau. Karena film ini pelan, berusaha untuk pelan," jelasnya.
Langkah membatasi potongan gambar cepat sengaja diambil karena kekuatan Children of Heaven bersumber pada kesederhanaan konflik. Penonton diharapkan dapat menyelami kedalaman emosi dari perjalanan para karakter tanpa distraksi visual.
Mengenai kekhawatiran bahwa film ini sekadar menjadi tiruan mentah dari versi Iran, Hanung menegaskan adanya perbedaan identitas dan pendekatan sosial yang mencolok. Unsur budaya lokal diintegrasikan ke dalam cerita, walaupun esensi utama mengenai sepatu sekolah tetap dipertahankan.
“Kalau copy paste sudah pasti enggak, karena yang satu Iran, yang satu Indonesia. Konteks sosial di Iran saat itu seluruh masyarakat perempuan harus menggunakan jilbab baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Serepresif itu,” ujar suami Zaskia Adya Mecca.
Hanung juga menggarisbawahi bahwa fokus utama film ini sama sekali bukan untuk mengeksploitasi kesedihan atau kemiskinan.
“Jangan menjual kemiskinan, kesedihan, tapi yang paling penting ketika ada di situasi yang sangat terbatas, terimpit, maka kita harus tetap menjaga martabat sebagai manusia. Tidak boleh jatuh (mengiba) belas kasihan orang lain apalagi menjual harga diri,” jelasnya.
Nilai-nilai harga diri tersebut direfleksikan secara kuat lewat tindakan Ali dan Zahra. Kedua anak tersebut memilih berjuang menyelesaikan kendala mereka sendiri tanpa ingin menambah beban orang tua yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
“Ketika sepatu hilang, logikanya anak itu menangis lalu minta tolong pada orang yang lebih dewasa. Ini enggak. Kedua anak ini, berusaha memecahkan persoalan tanpa memberi tahu orang tua mereka karena takut membuat ayah ibu merana,” tutur Hanung Bramantyo.