Harga Laptop Impor Naik Imbas Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Harga Laptop Impor Naik Imbas Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Lonjakan harga laptop terjadi di pasar Indonesia dengan kenaikan mencapai lebih dari 10 persen dibandingkan tahun lalu akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menekan industri gadget berbasis impor pada Kamis (21/5/2026).

Dilansir dari Suara, kenaikan harga ini dirasakan oleh hampir seluruh merek laptop yang mengandalkan jalur impor karena fluktuasi kurs mata uang asing. Tren peningkatan tersebut sudah mulai berlangsung sejak akhir tahun lalu dan semakin signifikan dalam beberapa bulan terakhir di berbagai platform e-commerce.

Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia, Matius Tirtawirya, memberikan penjelasan mengenai dampak situasi mata uang asing tersebut terhadap operasional perusahaan.

"Untuk dampak sih pasti ya, karena mau gimana pun ini produk impor. Tapi yang pasti adalah kita maintain dari sisi competitiveness harga di market sehingga konsumen Acer tetap bisa membeli Acer ke depannya dan tidak berpindah ke yang lain," ujar Matius Tirtawirya, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia.

Pria yang akrab disapa Mas Jon ini menambahkan bahwa pergerakan harga di pasar digital ikut memengaruhi harga jual akhir produk.

"Kalau dibandingkan Desember tahun lalu kemudian di beberapa bulan belakangan ini bisa dilihat sebenarnya peningkatannya lebih dari 10 persen. Itu bisa dilihat di semua brand, terjadi di semua e-commerce," jelas Mas Jon, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia.

Kondisi pasar di platform digital saat ini diakui turut memberikan tekanan tambahan pada struktur harga.

"Apalagi platform memberikan harga lebih tinggi lagi," imbuh Mas Jon, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia.

Guna menyiasati kondisi tersebut, Acer tetap mempertahankan ketersediaan produk pada segmen harga favorit masyarakat, khususnya pada rentang Rp8 juta hingga Rp10 juta yang memiliki daya beli kuat.

"Kita lebih melihat daya beli orang yang strong. Contoh misalkan market Indonesia besar di Rp8-10 juta, kita tetap harus punya SKU di situ. Point of View kita bukan di SKU dulu, tapi di mana orang bisa beli laptop," jelas Mas Jon, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia.

Meskipun tekanan ekonomi dari kurs rupiah belum mereda, performa penjualan perusahaan tercatat masih berada dalam kategori aman dan positif.

"Tren penjualan dari kita so far masih oke. Cuma kita terus berharap pemerintah Indonesia punya improvement sehingga daya beli masyarakat ini tidak menurun ke depannya," ungkap Mas Jon, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia.

Perusahaan kini mengalihkan fokus pada momentum masa kembali ke sekolah yang diproyeksikan mampu mendongkrak angka penjualan lewat program khusus.

"Sebentar lagi back to school, kemudian nanti kita juga ada promo-promo yang lebih menarik biar semua itu bisa sukses," tutup Mas Jon, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi