Kapten Timnas Inggris Harry Kane memimpin skuad Tiga Signa menuju Piala Dunia 2026 di Amerika Utara dengan ambisi menghapus memori pahit kegagalan penalti pada turnamen sebelumnya di Qatar. Penyerang Bayern Munich tersebut menjadikan momen dramatis di Stadion Al Bayt sebagai landasan kekuatan mental untuk mengakhiri dahaga gelar juara dunia yang telah berlangsung sejak 1966.
Sebagaimana dilansir dari Suara, Kane yang kini menyandang status pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris melampaui Wayne Rooney, mengklaim bahwa tragedi melawan Prancis justru menjadi titik balik dalam karier profesionalnya. Ia menekankan pentingnya ketangguhan mental bagi setiap pemain untuk bangkit dari kegagalan di panggung internasional yang penuh tekanan tinggi.
"Itu secara pribadi merupakan momen yang sangat sulit dalam karier saya untuk dilalui," kata Kane dalam wawancara bersama FIFA.
Penyerang senior tersebut menjelaskan bahwa keberhasilan melewati masa kelam tersebut telah memberikan dampak positif bagi kualitas permainannya saat ini. Pengalaman tersebut ia gunakan untuk memotivasi diri sendiri dalam mengejar ambisi tertinggi di kompetisi sepak bola paling bergengsi sejagat.
"Pastinya, saya harus menjadi sangat kuat secara mental untuk melaluinya – dan saya berhasil. Saya hampir merasa itu membuat saya menjadi pemain yang lebih baik pada akhirnya," kata Kane.
Fokus utama Kane menjelang Piala Dunia 2026 adalah membantu para pemain muda Inggris agar tidak terhambat oleh rasa takut gagal saat mengenakan seragam nasional. Ia berharap rekan-rekan setimnya dapat menikmati setiap detik kompetisi tanpa harus merasa terbebani oleh ekspektasi publik yang sangat besar.
"Intinya adalah ini yang kamu impikan sejak kecil, dan saya pikir kadang-kadang mudah untuk sampai di sini [ke Piala Dunia] dan kemudian mungkin takut akan momen tersebut atau takut gagal, tetapi itu adalah bagian dari kehidupan," ujar Kane.
Eksplorasi kemampuan dan kebebasan berekspresi di lapangan hijau dianggap sebagai kunci bagi tim asuhan Thomas Tuchel untuk mencapai performa maksimal. Kane mengingatkan bahwa karier seorang pemain profesional sangat singkat sehingga tidak boleh disia-siakan dengan kecemasan yang berlebihan.
"Inilah tujuan kita hidup. Itulah mengapa kita berada di lapangan, itulah mengapa kita berlatih setiap hari, untuk memiliki kesempatan ini dan mengekspresikan diri kita pada momen tersebut," kata Kane.
Status sebagai unggulan tidak lagi dianggap Kane sebagai beban, melainkan hasil dari progres konsisten Inggris yang sempat mencapai final Euro berturut-turut. Pengalaman bermain di tiga edisi Piala Dunia membuat gairahnya semakin meningkat untuk membawa pulang trofi ke tanah kelahiran sepak bola.
"Ini jelas lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tetapi di situlah mungkin pemain berpengalaman seperti saya dapat membantu beberapa pemain muda untuk merasa bebas. Akhirnya, ini adalah karier yang pendek, dan kamu tidak mendapatkan kesempatan bermain di banyak turnamen besar, jadi mengapa menyia-nyiakannya dengan rasa takut? Pergi saja ke sana dan ekspresikan dirimu," kata Kane.
Kane juga menyoroti betapa spesialnya turnamen ini bagi para penggemar yang telah lama menanti sejarah baru tercipta. Meskipun sadar akan tantangan berat yang dihadapi, ia percaya bahwa dorongan semangat dari seluruh pendukung menjadi faktor krusial dalam perjuangan mereka di Amerika Utara.
"Bagi saya, Piala Dunia adalah puncak dari karier pemain sepak bola profesional. Ini akan menjadi yang ketiga bagi saya, dan kegembiraannya hampir semakin kuat karena kamu tahu betapa berartinya hal itu," ujar Kane.
Di luar sepak bola, Kane mengaku terinspirasi oleh dedikasi atlet NFL Tom Brady dalam menjaga umur panjang kariernya di level tertinggi. Ambisinya bahkan mencakup kemungkinan mencoba profesi sebagai penendang di olahraga American Football setelah gantung sepatu dari lapangan hijau nanti.
"Itu adalah sesuatu yang sulit bahkan untuk dipikirkan. Itu akan menjadi jembatan yang harus diseberangi ketika kita sampai di sana, saya rasa, karena masih ada jalan panjang yang harus ditingpuh," kata Kane.
Inggris kini berada di bawah arahan taktis Thomas Tuchel yang menekankan pada penguatan ikatan emosional dan suasana kekeluargaan di dalam skuad. Kane meyakini bahwa persaudaraan yang solid selama delapan minggu masa turnamen akan menjadi modal utama dalam mendaki gunung besar menuju gelar juara.
"Sudah lama sekali [sejak Inggris memenangkan Piala Dunia] dan saya tahu betapa setiap penggemar Inggris mendambakan Inggris untuk menang. Kita semua berharap bisa menjadi bagian dari sejarah itu, dan mengukuhkan nama kita dalam sejarah itu, tetapi kita juga tahu ada gunung besar yang harus didaki untuk sampai ke sana," kata Kane.
Persiapan matang yang dibangun sejak lama diharapkan dapat membuahkan hasil nyata dalam turnamen mendatang. Kane memberikan apresiasi terhadap fondasi kebersamaan yang terus diperkuat oleh jajaran pelatih baru untuk menciptakan tim yang tangguh secara kolektif.
"Hal baik yang telah kami bangun dari waktu ke waktu, bahkan sebelum bos ada di sini, adalah kebersamaan itu. Thomas sangat menekankan hal itu sejak dia datang," ujar Kane.
Aspek taktis dan koneksi antar pemain menjadi dua hal yang berjalan beriringan dalam visi kepemimpinan Tuchel di Timnas Inggris. Kane menekankan bahwa hubungan yang kuat di luar lapangan akan tercermin pada performa mereka saat menghadapi tim-tim terbaik dunia.
"Tentu saja, kamu punya taktik dan sisi sepak bolanya, tetapi ketika kamu pergi bersama rekan setim selama delapan minggu, ini banyak tentang bagaimana kamu terhubung dan persaudaraan yang kamu miliki," kata Kane.