Isu sensitif mengenai pemasungan dan mitos lokal kembali diangkat oleh sutradara Helfi Kardit melalui karya sinematik terbarunya. Sekuel berjudul Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai ini menyajikan kombinasi antara horor psikologis, kritik sosial, dan unsur budaya lokal, seperti dikutip dari Suara.
Film Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai dijadwalkan tayang pada Kamis (28/5/2026) malam ini pukul 21.30 WIB di stasiun televisi ANTV. Karya ini membawa penonton kembali ke era kolonial Belanda pada tahun 1920-an.
Alur cerita berpusat pada tokoh Giandra, seorang dokter muda yang diperankan oleh Aditya Zoni. Kisah dimulai saat Giandra membaca pemberitaan di surat kabar Javasche Courant mengenai seorang gadis bernama Layla yang diperankan Aisha Kastolan.
Layla dipasung oleh warga di sebuah desa terpencil bernama Karuhun karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Melalui sudut pandang medisnya, Giandra menolak metode perantaian tersebut dan meyakini bahwa kondisi Layla harus disembuhkan melalui ilmu kedokteran modern.
Dorongan kemanusiaan membawa Giandra nekat mendatangi Desa Karuhun untuk menolong Layla. Di lokasi tersebut, ia bertemu dengan Rikke yang diperankan Aurelia Lourdes, jurnalis yang pertama kali menulis berita pilu tersebut.
Rikke memberikan gambaran situasi desa melalui tiga kata kunci, yaitu kultur, mistik, dan tahayul. Upaya medis yang coba dilakukan oleh Giandra menghadapi perlawanan sengit dari masyarakat setempat.
Warga Desa Karuhun meyakini bahwa kesembuhan Layla hanya bisa dicapai melalui ritual adat. Pertentangan antara dogma tradisional dan logika medis memicu ketegangan yang mendalam sepanjang cerita.
"Penonton akan diajak merasakan langsung kengerian kisah dua wanita yang dipasung dan tak bisa lari. Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman menegangkan," kata sutradara Helfi Kardit kepada wartawan saat acara gala premier.
Aktris senior Muthia Datau turut memperkuat jajaran pemeran sebagai Nenek Layla sekaligus tetua adat. Karakternya menjadi figur sentral yang menghubungkan pertahanan tradisi lokal dengan pendekatan logika modern.
Visualisasi film ini memaksimalkan penggunaan pencahayaan alami selama momen transisi menuju waktu Magrib. Pengambilan gambar di lokasi yang otentik berhasil memperkuat impresi ruang yang terisolasi dan mencekam bagi penonton.
Akting fisik dari Aisha Kastolan sebagai tokoh yang dipasung menjadi sorotan utama dalam menyampaikan penderitaan karakter tanpa bergantung pada dialog. Sinema ini merefleksikan realitas sosial mengenai stigma kesehatan mental yang masih kerap terjadi di wilayah pelosok Indonesia.