Sutradara Ho Wi Ding Raih Puncak Netflix Lewat Esok Tanpa Ibu

Sutradara Ho Wi Ding Raih Puncak Netflix Lewat Esok Tanpa Ibu

Film berjudul Esok Tanpa Ibu sukses merajai tangga film terpopuler di Netflix dengan menggeser beberapa judul besar lainnya. Berdasarkan data terbaru dari layanan streaming raksasa tersebut, film ini kokoh di posisi puncak.

Keberhasilan sinema ini melampaui film komedi horor Agak Laen: Menyala Pantiku! yang harus puas di posisi kedua. Sementara itu, posisi lima besar disusul oleh Alas Roban, Sebelum Dijemput Nenek, dan film horor religi Qorin 2.

Seperti dikutip dari Suara, film ini cukup diminati karena memiliki premis berani yang menggabungkan duka mendalam dengan kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Esok Tanpa Ibu disutradarai oleh Ho Wi Ding, sutradara berbakat yang dikenal lewat tangan dinginnya dalam mengemas drama manusia yang kompleks. Karya ini menjadi panggung bagi Ali Fikry, aktor muda dengan kemampuan akting yang kian matang.

Ali Fikry bersanding dengan nama-nama besar seperti Ringgo Agus Rahman dan ikon film Indonesia, Dian Sastrowardoyo. Kehadiran Aisha Nurra Datau dan Bima Sena turut memberikan warna tersendiri dalam jajaran pemain yang solid ini.

Cerita berfokus pada kehidupan Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang memiliki hubungan sangat erat dengan ibunya, Laras (Dian Sastrowardoyo). Sayangnya, kehangatan tersebut berbanding terbalik dengan hubungannya terhadap sang ayah, Hendy (Ringgo Agus Rahman).

Rama dan Hendy seringkali tidak sejalan dalam banyak hal. Kondisi ini menciptakan jurang komunikasi yang lebar di dalam rumah mereka.

Dunia Rama mendadak runtuh ketika Laras mengalami kecelakaan medis yang menyebabkannya jatuh ke dalam kondisi koma berkepanjangan. Di tengah keputusasaan menghadapi rumah yang sunyi serta sosok ayah yang sulit dijangkau, Rama menemukan sebuah harapan tidak lazim.

Rama dibantu oleh sahabatnya, Zyla (Aisha Nurra Datau), seorang jenius teknologi yang tengah mengembangkan proyek ambisius bernama i-Bu. Program AI canggih tersebut mampu merekonstruksi wajah, suara, hingga pola pikir seseorang berdasarkan data digital.

Melalui perangkat i-Bu, Rama kembali bisa melihat ibunya, mendengar suaranya yang menenangkan, bahkan berkonsultasi tentang masalah hidup. Namun, Rama memiliki ambisi lebih besar dari sekadar melepas rindu.

Ia memanfaatkan stimulasi dari AI tersebut sebagai terapi sensorik untuk merangsang saraf otak Laras agar terbangun dari koma. Terapi ini sekaligus ditujukan untuk menjembatani hubungan yang renggang dengan sang ayah.

Artikel terkait

Rekomendasi