Produsen ponsel asal China, HONOR, menyatakan komitmen untuk tidak menaikkan harga jual perangkat dalam waktu dekat meskipun industri sedang tertekan pelemahan nilai tukar rupiah dan krisis pasokan cip global. Langkah strategis ini diambil guna menjaga daya beli konsumen di tengah fluktuasi ekonomi pada tahun 2026.
Head of Public Relations HONOR Indonesia, Aryo Meidianto Aji, mengakui bahwa kenaikan biaya logistik dan depresiasi rupiah menjadi tantangan nyata bagi seluruh produsen gadget. Dilansir dari Teknologi, perusahaan saat ini masih mengandalkan efisiensi rantai pasok untuk meredam lonjakan biaya operasional.
“Namun, sampai saat ini, HONOR sepertinya belum memiliki rencana untuk menaikkan harga smartphone dalam waktu dekat,” kata Aryo Meidianto Aji, Head of Public Relations HONOR Indonesia.
Untuk memitigasi risiko kelangkaan komponen, HONOR memperkuat kerja sama dengan pemasok utama seperti Qualcomm guna memastikan ketersediaan chipset. Selain itu, optimalisasi produksi dilakukan agar fitur premium tetap bisa hadir di segmen menengah dengan harga yang kompetitif.
“Dengan begitu, konsumen merasa ‘worth it’ meski budget terbatas,” kata Aryo Meidianto Aji, Head of Public Relations HONOR Indonesia.
Pihak Xiaomi Indonesia turut menyoroti bahwa dinamika industri saat ini sangat dipengaruhi oleh perubahan perilaku konsumen dan ekspektasi terhadap inovasi yang lebih terintegrasi. Perusahaan memilih fokus pada penguatan ekosistem produk untuk mempertahankan minat pasar.
“Hingga ekspektasi yang semakin tinggi terhadap inovasi dan pengalaman penggunaan yang lebih terintegrasi,” kata Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Kondisi pasar smartphone secara global memang sedang mengalami kontraksi, di mana IDC mencatat penurunan pengiriman sebesar 4,1 persen pada kuartal I/2026. Meski demikian, wilayah Asia Tenggara menunjukkan stabilitas yang lebih baik dengan koreksi hanya sekitar 1 persen sepanjang 2025.
Persaingan di pasar domestik Indonesia sendiri tetap kompetitif dengan Samsung yang memimpin pangsa pasar sebesar 16,78 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Oppo dengan 16,4 persen dan Xiaomi sebesar 14,5 persen berdasarkan pengolahan data StatCounter.
Research Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, memberikan peringatan bahwa tantangan utama vendor saat ini justru berasal dari keterbatasan komponen memori. Kelangkaan ini diperkirakan akan memicu kenaikan biaya input yang signifikan bagi produsen perangkat.
“Selain itu, keterbatasan pasokan juga telah mendorong kenaikan signifikan harga komponen memori. Hal ini semakin menekan vendor, karena kenaikan biaya input tidak hanya membatasi produksi, tetapi juga berkontribusi pada meningkatnya harga perangkat di pasar,” kata Vanessa Aurelia, Research Analyst Devices Research International Data Corporation Indonesia.