Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) menuntut jaminan tertulis dari FIFA agar institusi militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak dilecehkan selama putaran final Piala Dunia 2026. Kepastian partisipasi Timnas Iran kini bergantung pada perlindungan terhadap delegasi resmi mereka dari diskriminasi otoritas imigrasi di Amerika Utara, dilansir dari Suara.
Ketua FFIRI, Mehdi Taj, menyatakan bahwa komitmen ini diperlukan untuk menghindari insiden serupa yang pernah dialami pejabat sepak bola Iran di Kanada. Hal ini berkaitan dengan ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington yang berada pada titik terendah pasca konflik militer sejak Februari 2024.
“[Pihak] Amerika, jika mereka menjamin untuk tidak menghina institusi militer kami dan IRGC, kami akan pergi,” tegas Taj kepada media pemerintah IRIB.
Langkah ini diambil setelah delegasi FFIRI sebelumnya mendapat perlakuan buruk dari petugas imigrasi di Toronto saat hendak menuju Vancouver. Otoritas Kanada diketahui telah menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, yang memicu penolakan masuk bagi sejumlah pejabat Iran.
“Jika mereka memberikan jaminan sedemikian rupa sehingga insiden seperti Kanada tidak terjadi dan mereka benar-benar memastikannya, kami akan pergi,” tambah Taj.
Melalui keterangan tertulis, pihak federasi menegaskan bahwa penghinaan terhadap organ angkatan bersenjata adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Delegasi yang sempat tertahan dilaporkan langsung kembali ke Iran melalui penerbangan pertama dari Turkiye.
“Mereka [delegasi] kembali ke Turkiye dengan penerbangan pertama yang tersedia karena perilaku petugas imigrasi di bandara yang tidak dapat diterima dan penghinaan terhadap salah satu organ paling terhormat dari angkatan bersenjata bangsa Iran,” jelas FFIRI.
Taj dijadwalkan menemui Presiden FIFA Gianni Infantino di Zurich untuk menekankan bahwa tanggung jawab menjaga atmosfer turnamen berada di tangan penyelenggara. Ia menegaskan bahwa simbol sistem negara Iran harus tetap dihormati sepenuhnya selama delegasi berada di wilayah tuan rumah.
“Kami membutuhkan jaminan di sana, untuk perjalanan kami, bahwa mereka tidak berhak menghina simbol sistem kami – terutama Korps Garda Revolusi Islam,” ujar Taj.
Federasi berpendapat bahwa jaminan tersebut harus bersifat jelas agar tanggung jawab keamanan dan kehormatan delegasi dipikul secara kolektif oleh pihak terkait. Hal ini demi mencegah provokasi politik yang dapat mengganggu jalannya kompetisi sepak bola terbesar di dunia tersebut.
“Ini adalah sesuatu yang harus mereka perhatikan dengan serius. Jika ada jaminan seperti itu dan tanggung jawab diasumsikan secara jelas, maka insiden seperti yang terjadi di Kanada tidak akan terulang lagi,” ungkap Taj.
Meskipun ancaman boikot mencuat, skuad Team Melli tetap menjalani persiapan teknis dan dijadwalkan melakukan pemusatan latihan di Turkiye. Taj menegaskan bahwa hak Iran untuk bertanding merupakan hasil dari kualifikasi yang sah di bawah naungan federasi internasional.
“Kami pergi ke Piala Dunia because kami lolos kualifikasi. Tuan rumah kami adalah FIFA, bukan Tuan Trump atau Amerika,” tegas pimpinan sepak bola Iran tersebut.
Berdasarkan jadwal yang telah dirilis, Iran akan berhadapan dengan Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni 2026. Selanjutnya, mereka akan melawan Belgia pada 21 Juni dan menghadapi Mesir di Seattle untuk laga pamungkas fase grup.