Islands: Dialog Tubuh dan Identitas dalam Balon Raksasa Hitam

Islands: Dialog Tubuh dan Identitas dalam Balon Raksasa Hitam

Ruang teater Komunitas Salihara yang berbentuk black box malam itu tak menampilkan properti megah apapun. Penonton yang hadir memilih kursi terbaiknya hanya untuk melihat satu-satunya objek yang ada di tengah panggung: sebuah balon besar berwarna hitam pekat.

Plastik berukuran raksasa itu membentuk gelembung udara yang tingginya hampir menyentuh langit-langit ruang teater. Kesunyian pecah ketika seorang penari pria yang semula duduk tenang di deretan kursi penonton mulai menggerakkan tubuhnya dengan lihai. Ia melangkah menuju area panggung, lalu perlahan masuk ke dalam dekapan balon raksasa tersebut.

Di dalam sana, sang penari menggeliat. Sisi lainnya memperlihatkan ia seolah berkelahi dengan angin, menendang, lalu menjatuhkan tubuhnya lagi ke lantai. Balon yang menyimbolkan sebuah 'pulau besar' itu dipermainkan oleh sang penari hingga bergeser menuju pojok ruang. Tak lama kemudian, adegan berganti dengan munculnya satu penari lagi yang mulai berebut plastik tersebut. Tingkah kocak yang saling tarik-menarik, antara rasa sayang dan benci, berkelindan menjadi satu kesatuan pertunjukan tari yang emosional.

Selama 55 menit, penonton disuguhi permainan gerak tubuh yang intens, sebuah penggalian ingatan dari dua koreografer, dan visualisasi pulau sebagai ruang yang hidup. Dari ruang itulah, identitas manusia mulai terbentuk dan dipertanyakan kembali. Penggalan cerita dalam pertunjukan tari tanpa dialog ini bertajuk Islands.

Pentas tari kontemporer ini merupakan buah kolaborasi antara koreografer sekaligus penari Wang Yeu-kwn dari Shimmering Production asal Taiwan dengan Danang Pamungkas, seniman tari berbakat asal Indonesia. Pertemuan mereka di atas panggung bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sebuah dialog mendalam mengenai akar budaya.

Kurator Tari Komunitas Salihara, Tony Prabowo, menyampaikan bahwa kolaborasi ini memiliki kedalaman artistik yang kuat. Kisahnya berangkat dari relasi panjang dua seniman yang pernah berada dalam lingkungan pembelajaran yang sama di masa lalu.

"Kerja sama seniman seni pertunjukan ini bermula dari pertemuan dua koreografer dan penari Indonesia-Taiwan, Danang Pamungkas dan Wang Yeu-kwn, yang pernah belajar bersama di bawah bimbingan Lin Hwai-Min dari Cloud Gate Dance Theater," ungkap Tony Prabowo, Kurator Tari Komunitas Salihara.

Melalui berbagai sudut pandang yang berbeda tentang identitas, rasa keterasingan, serta pertanyaan yang selalu berlanjut akan makna kepenariannya, pertemuan ini terasa seperti upaya mengenal tubuh baru bagi keduanya. Narasi yang dibangun melampaui batas-batas negara kepulauan tempat mereka berasal.

"Kehadiran pertunjukan tari kontemporer Islands ini jadi penting, karena bukan hanya menampilkan kolaborasi dua seniman dari dua latar budaya saja. Tapi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam soal asal-usul, keterasingan, dan upaya manusia mengenali dirinya sendiri," sambung Tony Prabowo, Kurator Tari Komunitas Salihara.

Pencarian Nelayan dan Jejak Internasional

Karya Islands ini sebenarnya bermula dari legenda seorang nelayan yang tengah mencari jati dirinya. Dalam upaya menyingkap kisah di balik namanya sendiri, Wang Yeu-kwn memutuskan untuk berlayar menuju negara-negara kepulauan di Asia Tenggara. Di perjalanan inilah ia menjalin dialog dengan Danang Pamungkas, menyatukan pengalaman tubuh dan fragmen kehidupan mereka menjadi sebuah karya seni.

Sebelum akhirnya singgah di Komunitas Salihara Jakarta, Islands telah lebih dulu dipentaskan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada awal Mei. Pementasan di Indonesia ini menjadi bagian kedua dari proyek ambisius Wang Yeu-kwn yang bertajuk A Trilogy - Quest of Relationships.

Prestasi karya ini pun mulai diakui di panggung dunia. Pentas Islands telah terpilih sebagai finalis Bloom Prize, sebuah kategori untuk koreografer pendatang baru dalam ajang The Rose International Dance Prize 2027. Penghargaan bergengsi ini diselenggarakan oleh Sadler's Wells, salah satu institusi tari paling terkemuka di London, Inggris.

Sebagai bagian dari finalis Bloom Prize, Islands dijadwalkan akan kembali naik panggung di London pada periode Januari hingga Februari 2027 mendatang. Pencapaian ini menegaskan bahwa narasi tentang pulau, balon hitam, dan pencarian identitas manusia memiliki bahasa universal yang mampu menyentuh penonton lintas benua.

Artikel terkait

Rekomendasi