Jaksa Agung New York dan New Jersey Selidiki Tiket FIFA

Jaksa Agung New York dan New Jersey Selidiki Tiket FIFA

Otoritas hukum Amerika Serikat resmi meluncurkan investigasi mendalam terhadap FIFA terkait dugaan manipulasi pasar dan lonjakan ekstrem harga tiket Piala Dunia 2026 musim panas ini. Penyelidikan tersebut dipicu oleh penerapan sistem harga dinamis yang dinilai sangat merugikan para konsumen dan penggemar sepak bola.

Penyelidikan resmi ini dipimpin langsung oleh Jaksa Agung New York Letitia James bersama Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport, sebagaimana dilansir dari Suara. Fokus dari pengusutan hukum ini membidik seluruh sistem alokasi serta mekanisme distribusi internal yang diterapkan oleh organisasi sepak bola tertinggi dunia tersebut.

Sistem harga dinamis yang pertama kali diadopsi dalam sejarah turnamen ini mendongkrak tarif tiket pertandingan final di New Jersey secara drastis dari 6.730 dolar AS menjadi 10.990 dolar AS pada April lalu. Lonjakan ini melewati rekor tiket termahal Piala Dunia Qatar 2022 yang berkisar 1.600 dolar AS, bahkan diperparah dengan munculnya kategori kursi baris depan khusus yang menembus angka di atas 30.000 dolar AS.

Pakar hukum menilai FIFA menyalahgunakan status mereka untuk mengeruk keuntungan sepihak di pasar Amerika Utara melalui taktik penjualan menit-menit terakhir tanpa transparansi sisa kuota yang memicu kepanikan buatan di masyarakat.

"FIFA telah menggunakan apa yang mungkin kita sebut sebagai taktik menakut-nakuti untuk menciptakan permintaan akan tiket dan memberi tahu orang-orang bahwa mereka harus membayar harga tinggi karena jika tidak, mereka akan melewatkan acara sekali seumur hidup ini," kata Derek Howard, seorang pengacara sekaligus pengajar di University of San Francisco.

Mekanisme penjualan buta atau blind ticketing juga menuai kecaman karena pembeli dipaksa menyetor uang tanpa mengetahui posisi kursi spesifik mereka hingga mendekati hari pelaksanaan turnamen.

"Masalah di balik hal itu adalah konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah hal tersebut benar atau tidak," lanjut Derek Howard.

Kekecewaan publik semakin memuncak karena banyak penonton kategori satu ditempatkan di area sudut stadion yang memiliki sudut pandang tidak ideal, sementara kursi strategis di sisi lapangan dialokasikan sepihak untuk sponsor korporat dan tamu premium.

"Menjadi jujur tentang penjualan tiket itu tidak rumit. Namun FIFA telah mengubah pembelian tiket Piala Dunia menjadi sebuah tantangan kebingungan, kelangkaan palsu, dan harga yang sangat tinggi — semuanya mengorbankan konsumen dan warga New Jersey yang bekerja keras," ujar Jennifer Davenport, Jaksa Agung New Jersey.

Otoritas hukum menegaskan bahwa tindakan memanipulasi konsumen demi mendapatkan keuntungan dari harga tiket yang tinggi tidak dapat ditoleransi dalam sistem perlindungan konsumen.

"Tidak boleh ada orang yang dimanipulasi untuk membayar harga setinggi langit untuk mendapatkan kursi, dan para penggemar harus dapat mempercayai bahwa tiket yang mereka beli adalah tiket yang akan mereka terima," kata Letitia James, Jaksa Agung New York.

FIFA berdalih melalui klausul bahwa representasi visual stadion pada situs web mereka hanya bersifat panduan sementara, namun ahli hukum menegaskan klausul itu tidak membuat FIFA kebal dari tuntutan pidana penipuan. Mantan Presiden Donald Trump bahkan menyatakan keengganannya untuk membayar ribuan dolar hanya demi menyaksikan laga pembuka tim nasional negaranya.

Artikel terkait

Rekomendasi