Jean-Paul Van Gastel Putuskan Bertahan di PSIM Yogyakarta

Jean-Paul Van Gastel Putuskan Bertahan di PSIM Yogyakarta

Pelatih kepala PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel, secara resmi memutuskan untuk tetap bertahan bersama klub berjuluk Laskar Mataram setelah menyelesaikan musim perdana kompetisi sepak bola nasional pada Juni 2026.

Keputusan juru taktik asal Belanda tersebut dilandasi oleh faktor kenyamanan budaya di Yogyakarta serta keseriusan pihak manajemen dalam membangun struktur organisasi klub, seperti dilansir dari Suara pada Kamis (4/6/2026).

Evaluasi menyeluruh mengenai jalannya kompetisi musim ini dipaparkan langsung oleh sang pelatih melalui keterangan resmi klub.

"Saya sangat menikmati tahun pertama saya di sini. Banyak sekali perjalanan yang harus dilalui, sehingga saya harus beradaptasi dengan hal tersebut," ungkap Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Van Gastel menambahkan bahwa dirinya harus membiasakan diri dengan tantangan geografis serta jadwal pertandingan di Indonesia yang menuntut fisik prima.

"Terkadang, kami harus menjalani laga tandang selama empat hari. Hal itu merupakan sesuatu yang baru bagi saya," imbuh Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Mantan pelatih NAC Breda tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap atmosfer pertandingan sepak bola lokal, terutama berkat kehadiran suporter yang militan.

"Saya pikir liga ini sangat kompetitif, dan saya sangat menikmati pertandingan, khususnya saat dihadiri oleh para suporter. Contohnya pada pertandingan kandang terakhir musim ini, kami dapat mengakhiri musim secara positif dengan kemenangan di kandang," jelas Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Atmosfer luar biasa dari puluhan ribu penonton di stadion-stadion besar diakui menjadi esensi utama dari olahraga sepak bola.

"Pertandingan di Jakarta dan di Bandung yang dihadiri banyak penonton, menurut saya, itulah esensi dari sepak bola: bermain untuk suporter yang datang dalam jumlah besar," ucap Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Kendati demikian, performa kompetisi masih menyisakan catatan karena terdapat beberapa pertandingan yang terpaksa digelar tanpa kehadiran penonton di stadion.

"Namun sayangnya, di liga ini banyak pertandingan yang dimainkan tanpa penonton. Saya pikir hal itu sangat disayangkan karena, seperti yang saya katakan, kami bermain untuk suporter," jelas Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Di samping aspek teknis lapangan, Van Gastel mengakui kehidupan pribadinya bersama keluarga di Kota Yogyakarta berjalan sangat baik.

"Secara keseluruhan, saya sangat senang bisa datang ke sini karena ini memberikan warna baru dalam hidup saya, tidak hanya dari segi sepak bola, tetapi juga kehidupan pribadi," tutur Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Interaksi sosial dengan masyarakat setempat dinilai memberikan wawasan kultural yang sangat berharga.

"Saya bertemu dengan orang-orang baru dan tinggal di dalam budaya yang berbeda. Bagi saya, ini adalah sebuah kekayaan," tambah Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Komitmen jangka panjang bersama Laskar Mataram juga diperkuat oleh visi bersama manajemen untuk meningkatkan profesionalisme klub sepak bola profesional.

"Saya melihat klub ini stabil, dan pihak manajemen serta pemilik klub sangat bersedia menjadikan klub ini benar-benar stabil, sehingga mereka dapat tumbuh tahap demi tahap. Salah satu tugas saya di sini adalah membantu mereka secara bertahap dalam memperbaiki semua aspek struktur organisasi," tegas Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Kenyamanan keluarga selama tinggal di Yogyakarta menjadi faktor penentu terakhir yang memantapkan keputusannya.

"Saya dan keluarga saya sangat menyukai tempat ini. Oleh karena itu, saya sangat senang untuk bertahan," tutup Jean-Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Artikel terkait

Rekomendasi