Langkah kaki para pelaku industri kreatif kerap terbentur oleh dinding tebal yang tak kasat mata di dalam gedung bioskop tanah air. Aroma jagung bakar dan redup lampu lobi teater seakan menyimpan cerita lain di balik layar perak, sebuah ruang kompetisi yang dinilai tidak lagi ramah bagi para sineas independen.
Jakarta: Produser film Nicki R.V. dari 786 Production menyinggung jadwal penayangan bioskop yang diduga dikuasai oleh rumah produksi tertentu.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang diselenggarakan oleh Komisi VII DPR RI, Nicki mengatakan bahwa beberapa asosiasi film yang menghadiri rapat di parlemen tersebut tidak sepenuhnya mewakili para pelaku industri perfilman Indonesia. Protes keras ini langsung disampaikannya di hadapan para wakil rakyat.
“Adapun rapat-rapat yang dibuat terdahulu dan kami sempat monitor beberapa rapat per tahun ini yang oleh asosiasi-asosiasi, itu kami perjelas, Pak, itu tidak mewakili perfilman Indonesia secara utuh. Itu kami lihat hanya kepentingan-kepentingan pribadi,” kata Nicki, dikutip dari saluran YouTube TVR Parlemen, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Ia mengaku memiliki data yang membuktikan bahwa rumah produksi yang tergabung dalam asosiasi tersebut telah menguasai jadwal tayang bioskop. Hal ini dinilai membuat ekosistem industri perfilman Indonesia menjadi sangat buruk.
Dugaan Monopoli Jadwal Tayang
Dominasi layar perak oleh segelintir korporasi besar dianggap menjadi akar masalah yang mencekik napas rumah produksi kecil. Pola distribusi yang ada saat ini ditengarai menutup pintu bagi keberagaman karya sinema nasional.
“Saya melihat mereka terlalu menguasai jadwal tayang. Itu ekosistem yang sangat buruk,” ujar Nicki.
Adapun beberapa rumah produksi yang disebutkannya antara lain MD Pictures dan Starvision. Nama-nama besar ini memang kerap mendominasi papan pengumuman film terlaris di berbagai jaringan bioskop tanah air sepanjang tahun.
“Satu tahun kalau kita perhatikan, macam MD bisa sampai 8-9 judul, Starvision 11 judul, dan lain-lain pada Multivision, ada Falcon, dan lain-lain,” lanjut Nicki.
Dominasi Rumah Produksi Besar
Sebagai catatan, MD Pictures telah merilis 9 film sepanjang tahun 2025 untuk ditayangkan di bioskop, termasuk Pabrik Gula yang tayang pada momen Lebaran tahun lalu. Sementara itu, rumah produksi Starvision memiliki 10 film yang tayang di bioskop pada tahun 2025. Salah satunya adalah Petaka Gunung Gede yang masuk ke dalam jajaran film terlaris pada tahun tersebut dengan 3,4 juta penonton.
Meski begitu, Nicki menyampaikan bahwa ada beberapa rumah produksi yang cukup merilis dua hingga tiga judul film saja dalam setahun. Langkah ini dinilai dapat memberikan kesempatan kepada rumah produksi lain untuk mendapatkan jadwal tayang di bioskop.
Tuntutan Keadilan Kuota Tayang
Menurutnya, masalah tersebut perlu menjadi pembahasan serius. Nicki pun meminta keadilan kepada para anggota dewan terkait pembagian jatah jadwal tayang di bioskop demi kelangsungan seluruh pelaku industri film.
“Kita maunya kali ini kita benar-benar Pak dapat keadilan di tempat ini yang kita bicarakan,” ucap Nicki.
Penolakan Jadwal Tayang Sepihak
Keresahan ini diketahui muncul setelah Nicki mendapatkan kabar dari pihak bioskop bahwa film yang diproduksinya tidak mendapatkan jadwal tayang pada Agustus 2026. Padahal, ia mengaku telah mengajukan permohonan tersebut sejak November 2025.