John Herdman Beberkan Strategi Satukan Pemain Diaspora dan Lokal di Timnas Indonesia

John Herdman Beberkan Strategi Satukan Pemain Diaspora dan Lokal di Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengungkapkan metode khusus untuk menjembatani kesenjangan antara pemain diaspora dari Eropa dan pemain lokal dari Super League, seperti dilansir dari Bola.

John Herdman kerap menekankan soal "brotherhood" atau "persaudaraan" sebagai salah satu kuncinya untuk membangun Timnas Indonesia.

Namun, di sisi lain, skuad Timnas Indonesia berisi pemain yang relatif beragam.

Sebagian berisi para pemain diaspora yang berkarier di Eropa, seperti Maarten Paes (Ajax Amsterdam), Emil Audero (Cremonese), Jay Idzes (Sassuolo), hingga Kevin Diks (BorussiaMonchengladbach).

Sementara komposisi skuad Timnas Indonesia lainnya berasal dari para pemain lokal di Super League.

Sebut saja Rizky Ridho (Persija Jakarta), Dony Tri Pamungkas (Persija Jakarta), Marc Klok (Persib Bandung), hingga Yakob Sayuri (Malut United).

Untuk menghubungkan gap kedua kelompok pemain di atas, John Herdman memiliki cara tersendiri.

Penyelarasan visi menjadi landasan utama yang diterapkan oleh juru taktik asal Inggris tersebut dalam menangani keberagaman karakter pemain.

"Semua dimulai dari filosofi. Sebagai pelatih, Anda harus memiliki definisi yang jelas tentang kinerja tinggi (high performance)," tegas John Herdman.

"Bagi saya, kinerja tinggi adalah untuk melampaui (overachievement)," imbuhnya.

"Untuk membangun Indonesia, ada dua hal utama: framework budaya dan framework taktik. Dan apa yang didahulukan? Budaya."

John Herdman menganggap framework budaya dapat menjadi cara untuk membangun hubungan pemain diaspora dan pemain lokal.

"Ketika membicarakan koneksi antara pemain diaspora dan pemain lokal Indonesia, maka framework budaya jauh lebih penting. Anda harus menyeleraskan semua orang dengan satu tujuan yang sama."

"Semua pemain harus berada di Timnas karena alasan yang tepat, yaitu membawa negara ini menuju Piala Dunia."

"Ada 280 juta orang Indonesia, dan kita semua memiliki satu tujuan yang sama ke Piala Dunia."

"Satu hal itu kemudian menjadi budaya, dan itu mendorong budaya, itu menciptakan apa yang saya sebut persaudaraan," tegas mantan pelatih Kanada itu.

Artikel terkait

Rekomendasi