K League Cetak Ratusan Tenaga Profesional Melalui Football Industry Academy

K League Cetak Ratusan Tenaga Profesional Melalui Football Industry Academy

K League mengelola program Football Industry Academy untuk mendidik mahasiswa dan eksekutif guna memperkuat struktur manajemen industri sepak bola profesional di Korea Selatan. Inisiatif ini bertujuan menciptakan tenaga kerja yang siap pakai untuk mengisi berbagai posisi di kantor pusat klub-klub liga nasional.

Manajer tim di K League, Park Woo-in mengungkapkan bahwa efektivitas program ini terlihat dari banyaknya alumni yang terserap di pasar kerja. Sebanyak 29 klub di K League 1 dan K League 2 saat ini mempekerjakan sekitar 100 lulusan akademi tersebut.

"Around 100 academy graduates work in front offices across the 29 clubs in both the K League 1 and K League 2" ujar Park Woo-in, Manajer Tim K League.

Park menjelaskan bahwa penyebaran lulusan tidak hanya terbatas pada klub sepak bola, tetapi juga mencakup organisasi olahraga lainnya hingga ke level internasional. Dari total 800 lulusan, sekitar 30 hingga 40 persen telah bekerja di berbagai asosiasi olahraga, agensi periklanan, media, hingga jenama pakaian olahraga.

"That means each club has around three or four [graduates]. The academy has produced about 800 graduates so far, and 30 to 40 percent of them now work for a wide range of sports-related organizations, including the K League; the Korea Football Association and professional baseball, basketball, volleyball and esports associations; advertising agencies; sports media channels; and sportswear brands. More recently, one graduate even joined the International Olympic Committee" kata Park Woo-in, Manajer Tim K League.

Kurikulum yang diterapkan fokus pada pengalaman praktis di lapangan untuk memastikan transisi yang mulus ke dunia kerja. Park menegaskan bahwa akademi ini tidak mencari keuntungan finansial, sehingga biaya pendidikan ditekan serendah mungkin untuk menjaga motivasi peserta.

"Our goal is education that can be applied immediately in the field" ujar Park Woo-in, Manajer Tim K League.

Park menambahkan bahwa program ini kini mengenakan biaya sebesar 300.000 won untuk menanggulangi penurunan motivasi saat kursus digratiskan. Selain itu, materi yang diberikan melibatkan ahli dari berbagai sektor global dan industri kreatif.

"Profit is not the goal, so we turned it down" kata Park Woo-in, Manajer Tim K League.

Menurut Park, antusiasme terhadap program pemasaran dan hubungan masyarakat sangat tinggi karena melibatkan praktisi dari perusahaan besar. Materi edukasi juga mencakup pemanfaatan data yang sangat krusial bagi manajer umum dan eksekutif klub saat ini.

"The marketing and public relations programs for club staff are drawing particularly strong interest" kata Park Woo-in, Manajer Tim K League.

"In the marketing program, we invited working-level staff from companies and institutions such as Starbucks, the National Museum of Korea, Patagonia and The Pinkfong Company to share their knowledge, and the response [from participants] was very positive" ujar Park Woo-in, Manajer Tim K League.

Park juga menyebutkan bahwa liga mendatangkan ahli dari J.League untuk memberikan kuliah mengenai pendapatan dan operasional data. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan standar kompetisi secara keseluruhan melalui kolaborasi antar-klub.

"For club chief executives and general managers, we invited a representative from the J.League club Urawa Red Diamonds, who generated 100 billion won in revenue, to give a lecture. As data has become increasingly important in football, we also invited a data scientist from the J.League last year to share methods of data operations with the K League" kata Park Woo-in, Manajer Tim K League.

"During training, we stress to club representatives that apart from the 90 minutes when we meet on the field, we are colleagues working toward the same goal" ujar Park Woo-in, Manajer Tim K League.

"The final aim of the education is for clubs to share what they do well and help the K League develop overall" kata Park Woo-in, Manajer Tim K League.

Wakil Presiden K League, Han Woong-soo, mengenang awal mula pembentukan akademi ini pada tahun 2012. Saat itu, ia menyadari sulitnya menemukan sosok berbakat untuk posisi sekretaris jenderal karena kurangnya wadah pengembangan talenta.

"A club owner asked me to recommend a good person to serve as [the K League’s] secretary general back in 2012, but no one suitable came to mind" kata Han Woong-soo, Wakil Presiden K League.

Ia berpendapat bahwa kemajuan liga sangat bergantung pada kualitas orang-orang yang bekerja di dalamnya. Hal ini mendorong liga untuk mengambil langkah nyata dalam membina bakat-bakat baru secara mandiri.

"Nothing works well unless talented people gather in the field. That made us think the league itself had to step up and cultivate talent" ujar Han Woong-soo, Wakil Presiden K League.

Lulusan akademi juga merasakan manfaat langsung dari interaksi dengan para praktisi dan pengerjaan proyek nyata. Lee Seong-jong, yang kini bekerja untuk Suwon Samsung Bluewings, menekankan pentingnya diskusi isu-isu industri dengan sesama rekan peserta.

"I was able to gain firsthand experience from people working in the field" kata Lee Seong-jong, Lulusan Akademi 2022.

"There’s also a lot to learn from peers as we discuss real issues [within the industry]. The best part was carrying out actual projects in connection with clubs" ujar Lee Seong-jong, Lulusan Akademi 2022.

Artikel terkait

Rekomendasi