Karya seni pertunjukan Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional melalui produksi bertajuk Hikayat Perahu atau The Tale of Boat. Seperti diberitakan oleh Medcom, pertunjukan ini resmi masuk dalam program Performing Arts 2026 di ajang La Biennale di Venezia, Italia pada Juni 2026.
Keikutsertaan karya produksi Bumi Purnati tersebut menjadi bukti bahwa seni pertunjukan Indonesia semakin diperhitungkan di level dunia. Pertunjukan ini menggabungkan unsur teater, musik tradisional, dan narasi spiritual khas Asia Tenggara untuk menghadirkan pengalaman artistik yang kuat serta autentik.
Sutradara Sri Qadariatin memimpin langsung produksi Hikayat Perahu. Sri Qadariatin sebelumnya dikenal luas melalui keterlibatannya dalam produksi internasional legendaris seperti I La Galigo dan Persephone karya Robert Wilson.
Ide pementasan ini terinspirasi dari Syair Perahu karya sastrawan sufi Melayu, Hamzah Fansuri. Kisah tersebut menggambarkan perjalanan spiritual manusia dalam mencari makna hidup dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui simbol sebuah perahu yang mengarungi samudera kehidupan.
Sentuhan Modern pada Audio Nusantara
Founder MusicYes, Riccardo Mazzoni, dipercaya menangani keseluruhan produksi audio resmi bersama RM Entertainment dan Red Studio. Kepercayaan untuk menggarap audio pertunjukan diberikan langsung oleh Restu Imansari Kusumaningrum yang aktif membawa karya seni Indonesia ke panggung internasional.
Dalam proses produksinya, Riccardo bersama tim Red Studio mengerjakan perekaman dialog teater, vokal tradisional, instrumen etnik, hingga berbagai unsur perkusi budaya Nusantara. Seluruh materi audio kemudian diproses menggunakan teknologi sound design sinematik dan mastering berstandar internasional.
Menurut Riccardo, proyek ini menghadirkan tantangan yang berbeda dibanding produksi musik modern pada umumnya. Ia menilai unsur budaya dalam karya tersebut harus dijaga agar tetap memiliki jiwa dan karakter aslinya.
"Instrumen tradisional dan nyanyian budaya tidak bisa diperlakukan seperti produksi pop biasa. Ada resonansi emosional dan spiritual yang harus tetap hidup. Tugas kami bukan sekadar membuat audio terdengar bagus, tetapi memastikan identitas artistiknya tetap utuh ketika dipresentasikan kepada audiens internasional," ujar Riccardo Mazzoni.
Red Studio yang berbasis di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, selama ini dikenal aktif mengembangkan karya musik dan budaya melalui pendekatan produksi modern tanpa menghilangkan identitas tradisional.
Materi audio ini tidak hanya dipersiapkan untuk pertunjukan langsung di Venezia, tetapi juga akan didistribusikan secara global melalui MusicYes Digital Distribution. Sejak 2016, platform tersebut konsisten mendukung distribusi world music dan musik etnik Indonesia ke pasar internasional.
Bagi Riccardo, proyek ini memiliki makna lebih besar dibanding sekadar produksi pertunjukan biasa. Ia percaya karya budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di panggung seni dunia.
"Indonesia memiliki kekayaan artistik yang luar biasa, dan saya percaya karya-karya seperti ini layak mendapatkan tempat di panggung dunia," katanya.