Kemenangan Paris Saint-Germain Diwarnai Kericuhan dan Protes Keras Wasit

Kemenangan Paris Saint-Germain Diwarnai Kericuhan dan Protes Keras Wasit

Kemenangan Paris Saint-Germain mempertahankan gelar juara Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal lewat adu penalti di Stadion Puskas Arena, Budapest, Hungaria, pada Sabtu (30/5/2026) malam waktu setempat, memicu kerusuhan besar di Paris dan gelombang protes dari manajer lawan.

Aparat kepolisian Paris menangkap lebih dari 130 orang menyusul bentrokan yang terjadi ketika sekitar 40 ribu suporter memadati area Parc des Princes untuk menonton laga lewat layar raksasa. Dilansir dari Detikcom, sebagian pendukung melemparkan kembang api ke arah petugas keamanan yang kemudian dibalas dengan tembakan gas air mata.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mengerahkan sekitar 22 ribu personel keamanan guna mengantisipasi kejadian fatal seperti musim lalu yang menewaskan dua orang. Selain penangkapan ratusan massa, kepolisian setempat melaporkan kerusakan sedikitnya enam kendaraan dan dua bangunan toko akibat amuk suporter.

Di dalam stadion, jalannya pertandingan diwarnai tiga momen kontroversial oleh wasit asal Jerman, Daniel Siebert, termasuk keputusan tidak memberikan penalti kepada Arsenal saat Bukayo Saka melakukan pelanggaran handsball yang tidak disengaja serta insiden jatuhnya Noni Madueke di kotak penalti setelah berduel dengan Nuno Mendes.

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, melayangkan kritik tajam terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai merugikan timnya dalam laga krusial tersebut.

"I watched it back and it could have been a penalty. Especially if you look at the penalties they have given me this year in this competition. This season, the referee made a decision, and he made a different decision with Cristhian Mosquera and that was an important decision," kata Mikel Arteta, Manajer Arsenal kepada TNT Sports.

Arteta juga meminta para pemainnya untuk menghadapi kesedihan ini secara jujur karena telah berjuang maksimal setelah 22 tahun absen dari partai final Eropa.

"Yes, it's very difficult to take when you are so consistent in this competition to reach the final and in the end lose the trophy on penalties, so it's tough," aku Mikel Arteta, Manajer Arsenal.

Kendati demikian, dia memberikan apresiasi tinggi atas kualitas permainan sang lawan yang mampu menunjukkan dominasi kuat di tingkat Eropa.

"They are an unbelievable team and I congratulate them. The individual quality they have, the way they are coached - they are a top team. You have to go through these emotions and if you feel pain, then face the pain. If you feel you could have done something else, then learn from it. Reflect on it and show the ambition we want to have again," tambah Mikel Arteta, Manajer Arsenal.

Kekalahan ini terasa getir bagi kubu London Utara yang baru saja mengunci gelar Liga Premier Inggris awal bulan ini, namun gagal membawa pulang trofi kompetisi tertinggi Eropa.

"I am very proud of them, considering the season we have had in these circumstances. Internally, we know what we have been through. It is a privilege to coach this group of players and this team, the way they wear this badge and how much dedication they give," kata Mikel Arteta, Manajer Arsenal.

Kekalahan tipis dalam drama adu penalti berkepanjangan dengan skor 4-3 itu sekaligus mencatatkan rekor penguasaan bola terendah Arsenal di bawah asuhannya, yakni hanya sebesar 24,7 persen.

"We haven't done it for 22 years, so imagine this is the second time in our history we've done it, and we need to recognise the season we've had, but right now nothing can take this pain away from you," tutup Mikel Arteta, Manajer Arsenal.

Artikel terkait

Rekomendasi