Piala Dunia FIFA 1994 tercatat sebagai salah satu tonggak sejarah paling krusial bagi perkembangan sepak bola secara global. Dilansir dari Suara, ajang yang berlangsung di Amerika Serikat ini sempat menuai keraguan besar sebelum resmi dimulai.
Kritik tajam bermunculan saat FIFA pertama kali menunjuk Negeri Paman Sam sebagai tuan rumah. Banyak pihak dari Eropa dan Amerika Selatan menilai negara tersebut belum memiliki budaya sepak bola yang cukup kuat.
Amerika Serikat kala itu memang belum mempunyai liga profesional berskala besar. Namun, antusiasme luar biasa yang ditunjukkan publik selama musim panas 1994 berhasil membungkam keraguan para pengamat sepak bola internasional.
Stadion yang biasanya menjadi arena American Football mendadak berubah menjadi lautan manusia yang mendukung tim nasional mereka. Kesuksesan penyelenggaraan ini akhirnya memicu lahirnya Major League Soccer (MLS) sebagai liga profesional di sana.
Tekanan besar menyertai perjalanan Timnas Amerika Serikat yang bertindak sebagai tuan rumah. Mereka bertekad membuktikan kemampuan bersaing di level tertinggi setelah sebelumnya gagal meraih hasil maksimal pada edisi 1990.
Skuad Amerika Serikat saat itu diperkuat oleh nama-nama ikonik yang menjadi simbol generasi emas awal mereka. Alexi Lalas, Cobi Jones, Marcelo Balboa, hingga penjaga gawang Tony Meola menjadi pilar utama tim.
Laga pembuka melawan Swiss di Pontiac Silverdome mencatatkan sejarah sebagai pertandingan indoor pertama dalam sejarah Piala Dunia. Meskipun berakhir imbang 1-1, pertandingan tersebut dikenang melalui gol tendangan bebas Eric Wynalda.
Kejutan besar terjadi saat Amerika Serikat menumbangkan Kolombia dengan skor 2-1 di Rose Bowl. Hasil ini membawa mereka melaju ke babak 16 besar untuk menantang raksasa sepak bola, Brasil, pada 4 Juli 1994.
Perlawanan sengit ditunjukkan tuan rumah di Stanford Stadium meski Brasil sempat bermain dengan 10 orang. Namun, Amerika Serikat harus tersingkir setelah kalah tipis 0-1 dari tim yang kemudian keluar sebagai juara tersebut.
Kejayaan Brasil dan Tragedi Penalti Italia
Piala Dunia 1994 menjadi momen kembalinya kejayaan Brasil setelah menanti selama 24 tahun. Duet penyerang Romário dan Bebeto menjadi motor serangan mematikan yang membawa Selecao meraih gelar juara dunia keempat.
Partai final yang mempertemukan Brasil dan Italia di Rose Bowl menyajikan drama yang sangat legendaris. Skor kacamata bertahan selama 120 menit sehingga pemenang harus ditentukan lewat adu penalti untuk pertama kalinya di final.
Momen paling ikonik muncul ketika Roberto Baggio yang menjadi tumpuan Italia gagal mengeksekusi penalti terakhir. Tendangannya yang melambung tinggi di atas mistar memastikan gelar juara jatuh ke tangan Brasil.
Skandal Maradona dan Rekor Oleg Salenko
Sisi lain turnamen ini diwarnai oleh skandal besar yang menimpa legenda sepak bola dunia, Diego Maradona. Pemain Argentina tersebut dipulangkan lebih awal setelah dinyatakan gagal dalam tes doping usai laga melawan Yunani.
Selain skandal tersebut, sejarah mencatat rekor luar biasa dari penyerang Rusia, Oleg Salenko. Ia menjadi satu-satunya pemain yang mampu mencetak lima gol dalam satu pertandingan saat menghadapi Kamerun.
Kesuksesan edisi 1994 ini menjadi tolok ukur penting menjelang kembalinya Piala Dunia ke Amerika Serikat pada 11 Juni 2026. Publik kini menantikan apakah antusiasme serupa akan terulang kembali di tanah Amerika.