Lima klub Indian Super League (ISL) mengancam akan meninjau kembali partisipasi mereka dalam kompetisi akibat ketidakpastian struktur dan masa depan komersial sepak bola India pada Jumat, 23 Mei 2026.
Pernyataan bersama tersebut dirilis melalui unggahan media sosial menyusul perselisihan antara Federasi Sepak Bola India (AIFF) dan mitra papan atas, Football Sports Development Limited (FSDL), terkait masalah kontraktual.
Kompetisi musim ini terpaksa berjalan dengan sistem satu leg dan sempat tertunda hingga baru bisa dimulai pada 14 Februari sebelum berakhir pada 21 Mei setelah kesulitan mendapatkan penawar hak siar.
Para pemilik klub mengeluhkan ketiadaan proyeksi finansial yang jelas, terutama setelah munculnya tawaran hak komersial baru dari perusahaan asal Inggris, Genius Sports, senilai Rp64,4 miliar per tahun.
Klub-klub ISL kemudian mendesak AIFF untuk memberikan kejelasan jangka panjang dan mengajukan model alternatif yang memungkinkan klub mempertahankan 90 persen kepentingan ekonomi di dalam struktur liga.
"With deep concern and disappointment, the clubs of the Indian Super League wish to state that, given the continued uncertainty surrounding professional football in India, we are now compelled to review the extent of our commitment to the league beyond the current season," ujar pernyataan bersama perwakilan klub-klub ISL.
Pihak manajemen klub menegaskan bahwa investasi tetap berjalan di tengah situasi sulit, namun ketidakjelasan arah kompetisi membuat operasional finansial menjadi tidak berkelanjutan.
"Our clubs have consistently invested in Indian football, often in difficult and uncertain circumstances, and remain deeply committed to its future. However, the continued absence of structural certainty, commercial clarity and long-term visibility has made it increasingly difficult to justify the financial and operational commitments required to compete sustainably," kata pernyataan bersama perwakilan klub-klub ISL.
Frustrasi juga muncul dari para penyandang dana karena mereka merasa terus menghadapi ketidakpastian dalam struktur regulasi tempat mereka beroperasi.
"Indian football has the foundation to be far greater than it is today. It is therefore disappointing that those who have built, funded, promoted and sustained the league continue to face uncertainty over the very structure within which they are expected to operate," tutur pernyataan bersama perwakilan klub-klub ISL.
Melalui tuntutan tersebut, klub-klub meminta AIFF untuk mengevaluasi model alternatif yang kredibel demi membangun kerangka kerja liga yang lebih inklusif dan stabil.
"At the heart of Indian football's future must be a financially sustainable league. The clubs have proposed an alternative model which we believe is credible, constructive and worthy of being evaluated on merit, alongside any other proposal before the AIFF. We urge the AIFF to acknowledge the realities faced by those funding and operating the league, and work collaboratively towards a framework that is sustainable, inclusive and built with all stakeholders in mind," tegas pernyataan bersama perwakilan klub-klub ISL.
Di sisi lain, situasi internal liga juga diwarnai keluhan dari jajaran manajemen mengenai proyeksi pendapatan finansial jangka pendek dan panjang yang buram.
"Owners know that it is impossible to breakeven but they would at least like to be told there is light at the end of the tunnel, however long that tunnel is," ungkap seorang CEO klub.
Ketidakjelasan musim depan tersebut langsung berdampak pada susunan tim, salah satunya membuat pelatih East Bengal, Oscar Bruzon, memutuskan untuk mundur.
Krisis regulasi ini semakin rumit setelah anggota Komite Eksekutif AIFF, Valanka Alemao, melayangkan nota keberatan hukum terkait pelaksanaan Sidang Umum Luar Biasa (SGM) AIFF yang dinilai berpotensi melanggar konstitusi dan putusan Mahkamah Agung.
"…the AIFF despite adopting the said Constitution as directed by Hon’ble Supreme Court … has called for a SGM without filling the vacancies for eminent sportspersons and thus is in violation both of its own Constitution and also in contempt of the judgment of the Hon’ble Supreme Court," kata Valanka Alemao, Anggota Komite Eksekutif AIFF.
Alemao menambahkan bahwa pertemuan tersebut tidak bisa dilaksanakan karena kuorum anggota badan umum belum terpenuhi secara sah.
"...the SGM cannot be held without completing the quorum of general body members as per Article 20 of the AIFF Constitution (as approved by the Hon’ble Supreme Court)," jelas Valanka Alemao, Anggota Komite Eksekutif AIFF.
Sesuai agenda, AIFF menjadwalkan pertemuan lanjutan antara pejabat teras federasi dengan para pemilik klub ISL untuk membahas amandemen konstitusi yang menyelaraskan aturan dengan Undang-Undang Tata Kelola Olahraga Nasional 2025.