Komunitas Indo Harry Potter baru saja menggelar acara bertajuk Muggle Assemble di area Planetarium, Taman Ismail Marzuki. Acara yang berlangsung pada Kamis pagi (14/5/2026) tersebut menjadi ruang pertemuan yang hangat bagi para penggemar yang tumbuh bersama kisah penyihir karya J.K. Rowling ini.
Para peserta yang hadir tampak mengenakan berbagai atribut khas dunia sihir, mulai dari syal Gryffindor, jubah hitam Hogwarts, hingga pin platform 9¾. Pertemuan ini dimanfaatkan para anggota untuk saling bertukar cerita mengenai karakter favorit dan adegan film yang paling membekas.
Seperti dilansir dari Suara, komunitas penggemar ini ternyata telah bertahan selama 25 tahun di Indonesia. Indo Harry Potter tercatat sudah aktif jauh sebelum media sosial seperti Instagram atau TikTok menjamur, di mana dulunya para anggota saling terhubung melalui mailing list dan forum internet sederhana.
Gerakan ini bermula dari obrolan virtual para pembaca novel Harry Potter di awal tahun 2000-an. Setelah buku tersebut masuk ke Indonesia, para penggemar mulai mencari satu sama lain di internet untuk berdiskusi mengenai teori cerita dan sekolah sihir Hogwarts.
Salah satu prefek Indo Harry Potter, Paman Hadi, menceritakan bahwa komunitas ini mulai terbentuk sekitar tahun 2001 melalui fasilitas mailing list.
"Dulu itu semacam WhatsApp group, tapi lewat email," ujarnya sambil tertawa.
Pertemuan tatap muka pertama kali mulai diadakan pada rentang tahun 2001 hingga 2002. Aktivitas awal mereka masih sangat sederhana, seperti duduk bersama membahas buku terbaru atau mengobrol seputar film yang sedang tayang di bioskop.
Seiring meningkatnya demam Harry Potter di tanah air, komunitas ini ikut berkembang pesat. Mereka mulai mengadakan kegiatan nonton bareng berskala besar hingga menyewa satu studio bioskop penuh, serta terlibat dalam peluncuran buku resmi bersama pihak penerbit.
"Dulu mungkin kita salah satu komunitas pertama yang bikin nobar satu studio bioskop," kata Paman.
Perkembangan teknologi turut mengubah pola interaksi di dalam Indo Harry Potter. Setelah masa kejayaan mailing list berakhir, komunitas ini sempat memanfaatkan Facebook dan Twitter, sebelum akhirnya bergeser ke Instagram, TikTok, hingga grup WhatsApp.
"Sekarang kebanyakan pindah ke Instagram sama WhatsApp group," ujar salah satu prefek Indo Harry Potter, Paman Hadi.
Kehadiran platform digital menjadi faktor kunci yang membuat komunitas ini mampu bertahan selama seperempat abad. Melalui media sosial, informasi mengenai gathering dan diskusi kini dapat menjangkau penggemar dari berbagai wilayah di Indonesia secara lebih mudah.
Salah satu pengurus komunitas, Alam Putra, menjelaskan bahwa Indo Harry Potter saat ini rutin menggelar acara dengan konsep hybrid yang memadukan pertemuan tatap muka dan virtual.
"Event kita hybrid, jadi ada yang offline dan online untuk menjangkau teman-teman di luar kota," jelas Alam.
Hingga kini, berbagai kegiatan rutin masih terus berjalan secara konsisten. Agenda tersebut meliputi nonton bareng Movie Magic, gathering Back to Hogwarts, Potter Bukber, hingga acara santai Muggle Assemble yang tidak mewajibkan anggotanya memakai konsep dunia sihir.
Selain pertemuan fisik, pengurus juga sering mengadakan kegiatan virtual untuk memperingati momen penting komunitas.
"Tahun kemarin kita sempat live di Instagram untuk ulang tahun IHP," kata Alam.
Bagi para penggemar yang tertarik mengikuti aktivitas mereka, informasi mengenai agenda dan program komunitas rutin dibagikan melalui akun Instagram @infoharrypotter, dengan tautan grup WhatsApp yang disematkan pada bagian bio profil.