Kapten Timnas Prancis Kylian Mbappe menegaskan kesiapan penuh untuk memimpin skuad Le Bleus menjelang laga perdana Piala Dunia 2026 melawan Senegal pada 17 Juni mendatang, di tengah gelombang kritik publik terkait kehidupan pribadi serta sikap politiknya.
Sorotan tajam membayangi penyerang Real Madrid tersebut setelah beredar foto-foto liburan mewahnya bersama sang kekasih, Ester Exposito, yang dilansir dari media Haberler menghabiskan biaya sekitar 500 ribu dolar AS untuk menyewa jet pribadi dan kapal pesiar mewah demi menjaga privasi.
Kritik publik terhadap Mbappe belakangan ini dinilai sudah melampaui batas performa olahraga di lapangan, terutama setelah ia secara terbuka memperingatkan masyarakat dalam wawancara bersama Vanity Fair terhadap potensi kemenangan partai sayap kanan National Rally dalam pemilu Prancis.
Sikap kritis penyerang berusia 27 tahun tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak Euro 2024 ketika ia mendesak warga Prancis untuk berpartisipasi dalam pemilu demi masa depan negara.
"It affects me, I know what it means and what consequences it can have for my country when people like them come to power," kata Kylian Mbappe, Kapten Timnas Prancis.
Melalui wawancara terbarunya dengan Vanity Fair, mantan pemain Paris Saint-Germain tersebut juga menyatakan kesiapannya mengemban tanggung jawab baru sebagai pemimpin tim nasional pada turnamen akbar mendatang.
"I'm the captain of the team. It's different now. It's a different responsibility. But I'm ready for that, ready to lead my team to the biggest stage game, and I hope that we are gonna go back with the trophy in Paris and in the Champs-Elysees." kata Kylian Mbappe, Penyerang Timnas Prancis.
Mbappe menambahkan bahwa dirinya sama sekali tidak memikirkan warisan sejarah yang akan ditinggalkan, melainkan fokus meraih kemenangan di lapangan.
"I think when you play, you don't think about the legacy. You think about to perform, and to bring the trophy home." ujar Kylian Mbappe, Penyerang Timnas Prancis.
Gelombang pernyataan politik Mbappe memicu perdebatan sengit dari para legenda sepak bola Prancis, termasuk mantan Presiden UEFA Michel Platini yang memberikan pandangan berimbang saat diwawancarai RTL Prancis.
"I think Kylian is doing a very good job and has evolved his game. He’s gone from being a player with less accuracy in front of goal to being a goalscorer, a finisher. Furthermore, he’s been the top scorer in Spain for two years running," kata Michel Platini, Mantan Presiden UEFA.
Platini mengagumi ketajaman Mbappe yang berhasil menjadi pencetak gol terbanyak di Spanyol selama dua tahun berturut-turut, namun ia melihat publik justru lebih menghakimi opini sosial sang pemain.
"We are very demanding of him, but we are harsher on his public opinions than on his sporting performance," ujar Michel Platini, Mantan Presiden UEFA.
Kendati mendukung hak bersuara pesepak bola modern, Platini menegaskan bahwa pandangan politik pribadi seorang pemain harus sepenuhnya dipisahkan dari tugas membela negara karena jersi tim nasional merepresentasikan seluruh rakyat.
"Kylian Mbappe is right to take a stand when he's not wearing the captain's armband or the French national team jersey. If he's in Madrid or elsewhere, he can take a political stance, of course. But with the French national team armband, with the French national team jersey, you're playing for all French people. So it's difficult to take a stand," kata Michel Platini, Mantan Presiden UEFA.
Mantan kapten Prancis itu memuji kecerdasan para atlet modern yang berani terlibat dalam isu kemasyarakatan, sekaligus menolak anggapan bahwa pesepak bola tidak memiliki kapasitas intelektual.
"It's good that intelligent people can take a stand on societal issues. Footballers aren't necessarily idiots. Some of them are actually quite intelligent," tambah Michel Platini, Mantan Presiden UEFA.
Di sisi lain, Platini tetap memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari setiap pernyataan publik yang bersifat memecah belah opini masyarakat.
"As soon as you take a stand, you'll upset half the world. Unless you stand by everything you say. I think Kylian does," pungkas Michel Platini, Mantan Presiden UEFA.
Sikap politik Mbappe tersebut juga memicu komentar dari musisi senior Prancis Michel Sardou yang dimuat dalam kolom harian L'Equipe.
"I like him, because he says things about subjects that we don’t expect him to talk about" kata Michel Sardou dalam kolom harian L'Equipe.
Musisi berusia 79 tahun itu berpendapat bahwa status sebagai atlet profesional tidak menggugurkan hak politik Mbappe sebagai warga negara Prancis.
"It’s good that he has his own ideas. He is a champion, but he is also a citizen who has the right to say: ‘I am for that and against that'" tutur Michel Sardou, Penyanyi Prancis.
Pandangan berbeda disampaikan oleh legenda sepak bola Prancis lainnya, Frank Leboeuf, yang mempertanyakan komitmen dan jiwa kepemimpinan Mbappe di dalam tim.
"No, Kylian Mbappe bukanlah seorang pemimpin bagi saya karena dia terlalu egois dalam pemikirannya, dalam cara dia berpikir," kata Leboeuf kepada SportsBoom, atas nama CSB.
Mantan bek Chelsea itu mengaku pernah bertemu Mbappe sekali saat sang pemain baru bergabung dengan PSG dan menilai penyerang itu sebagai pemuda yang berpendidikan, namun gaya bermainnya dianggap tidak sesuai dengan nilai sepak bola.
"I tidak mengenalnya. Saya hanya bertemu dengannya sekali saat dia bersama tim nasional, and dia bermain untuk Paris Saint-Germain, yang baru saja dia tandatangani saat itu. Sekali lagi, dia pemuda yang hebat, berpendidikan, tetapi pemikirannya, cara dia memandang sepak bola, tidak sejalan dengan nilai-nilai permainan yang saya anut." tutur Frank Leboeuf, Mantan Bek Timnas Prancis.
Leboeuf kemudian menunjuk sejumlah nama seperti William Saliba, N'Golo Kante, dan Antoine Griezmann sebagai sosok pemimpin sejati yang rela berkorban demi kepentingan tim.
"Itlah mengapa saya menyukai orang-orang seperti William Saliba dan N’Golo Kante, pemain-pemain seperti itu yang siap berkorban untuk tim," jelas Leboeuf.
Ia juga memuji komentar Ousmane Dembele mengenai kewajiban membantu pertahanan, serta menilai Mbappe bukan rekan setim terbaik di dunia meskipun berstatus sebagai superstar.
"Itulah perbedaannya bagi saya, dan itulah yang paling penting bagi saya. Antoine Griezmann, juga, adalah pemimpin sejati dalam hal cara bermainnya dan cara dia memikirkan sepak bola. Saya menyukai komentar Ousmane Dembélé, yang mengatakan bahwa jika saya tidak ikut membantu pertahanan, pelatih tidak akan memasukkan saya ke dalam tim, and itulah realitas sepak bola. Mbappé adalah seorang superstar, tetapi dia bukanlah rekan setim terbaik di dunia; itulah masalah saya." pungkas Frank Leboeuf, Mantan Bek Timnas Prancis.
Mengenai perbandingan generasi, Leboeuf menganggap lini serang Prancis saat ini lebih baik dari skuad juara dunia 1998, namun ia meragukan soliditas lini pertahanan mereka saat ini.
"Sulit membandingkan generasi. Sepak bola berbeda; wasit berbeda. Bahkan bolanya sendiri berbeda, jadi sulit. Tapi ini gila untuk dikatakan, tapi menurut saya secara ofensif mereka lebih baik dari kami. Maksud saya, secara defensif, kami lebih kuat. Tapi itu kerja sama tim; itulah intinya. Bahkan pada 1998, kami finis sebagai tim terbaik, mencetak, menurut saya, 15 atau 16 gol selama Piala Dunia, dan kebobolan mungkin hanya satu atau dua gol. Aspek keseluruhan permainan itulah yang kami atasi, dan itu akan menjadi fokus utama. Saya pikir secara ofensif, mereka tidak akan kesulitan mencetak gol. Untuk menjaga gawang tetap bersih, itu akan lebih sulit bagi mereka." ucap Frank Leboeuf, Mantan Bek Timnas Prancis.
Selain polemik mengenai kapten mereka, internal Prancis juga dihadapkan pada kendala teknis menjelang keberangkatan ke Amerika Serikat untuk menghadapi babak penyisihan Grup I yang juga dihuni oleh Irak dan Norwegia.