Manajemen Liverpool menempatkan mantan manajer Bournemouth, Andoni Iraola, sebagai kandidat terkuat untuk mengisi posisi pelatih kepala yang kosong setelah pemecatan Arne Slot pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Juru taktik asal Spanyol tersebut memimpin daftar calon manajer baru di Anfield, meski manajemen klub juga mempertimbangkan opsi lain seperti pelatih Stuttgart, Sebastian Hoeness, dan bos Lens, Pierre Sage.
Peluang Iraola didukung oleh kedekatannya dengan Direktur Olahraga Liverpool, Richard Hughes, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengannya saat masih berada di Bournemouth sebelum Hughes pindah ke Merseyside pada tahun 2024.
Iraola baru saja menyelesaikan pertandingan terakhirnya bersama Bournemouth pada hari Minggu dengan hasil imbang 1-1 melawan Nottingham Forest, yang memastikan tim tersebut finis di peringkat keenam Liga Utama Inggris dan lolos ke Liga Eropa.
Selain Liverpool, nama pria berusia 43 tahun itu juga sempat dikaitkan dengan Crystal Palace menyusul pengumuman kepergian manajer Oliver Glasner, serta sempat dirumorkan dengan Chelsea dan Manchester United sebelum kedua klub masing-masing menunjuk Xabi Alonso dan Michael Carrick.
Media Inggris The Athletic pertama kali mengungkap rencana kepergian Iraola dari Bournemouth pada 14 April, sebelum akhirnya pihak klub mengonfirmasi kepergian tersebut dan menunjuk mantan pelatih Borussia Dortmund, Marco Rose, sebagai pengganti dengan kontrak tiga tahun.
Iraola pertama kali mendarat di Bournemouth pada musim panas 2023 dari klub Spanyol Rayo Vallecano dengan kontrak awal dua tahun, kemudian memperpanjang masa baktinya setelah membawa tim finis di peringkat ke-12 pada musim perdana dan peringkat kesembilan pada musim 2024-2025.
Manajemen Bournemouth menyatakan rasa kecewa mereka karena kehilangan sang manajer, namun mereka tetap menghormati keputusan tersebut dan menjaga hubungan baik setelah sempat melakukan negosiasi selama 15 months demi mempertahankan Iraola di pantai selatan.
Gaya permainan menyerang dengan tempo tinggi yang diterapkan Iraola di Stadion Vitality berhasil membawa Bournemouth menutup musim melalui catatan 18 pertandingan tidak terkalahkan berturut-turut demi mengamankan tiket kompetisi Eropa.