Keberhasilan Ajax Amsterdam menembus babak kualifikasi Liga Konferensi Eropa diwarnai momen tidak biasa di atas lapangan. Penjaga gawang De Godenzonen, Maarten Paes, merasakan atmosfer yang canggung tepat setelah dirinya menjadi penentu kemenangan tim.
Seperti dikutip dari Suara, kiper andalan Timnas Indonesia tersebut tampil gemilang saat menghadapi FC Utrecht. Pertandingan penentu ini harus diselesaikan melalui drama adu penalti yang berakhir dengan keunggulan 4-3 untuk Ajax Amsterdam.
Paes menunjukkan performa luar biasa dengan mementahkan dua tendangan penalti dari pemain lawan. Namun, aksi heroik tersebut tidak langsung disambut dengan selebrasi meriah oleh rekan-rekan setimnya.
Skuad Ajax tampak diselimuti kebimbangan mengenai kepantasan merayakan kelolosan ke turnamen kasta ketiga antarklub Eropa tersebut secara besar-besaran. Alhasil, tidak ada kerumunan pemain yang berlari memeluk sang kiper di lapangan.
Hanya ada satu sosok pemain yang berjalan menghampirinya di tengah lapangan, yakni Lucas Rosa. Kehadiran Rosa yang menyendiri tersebut bahkan sempat memicu kesalahpahaman kecil di atas lapangan hijau.
"Hanya Lucas Rosa yang menghampiri saya. Dia sendirian, jadi dia mengira penyelamatan saya dianulir dan penalti harus diulang," kata Paes.
Momen canggung ini memancing sorotan tajam dari media ternama Belanda, De Telegraaf. Dalam laporannya, mereka mengulas kejanggalan perayaan yang dialami oleh penjaga gawang keturunan Kediri tersebut.
"Biasanya, kiper yang berperan heroik dalam adu penalti akan dikerumuni oleh rekan-rekan setimnya yang sedang merayakan," tulis De Telegraaf.
"Tetapi karena para pemain Ajax ragu apakah itu pantas dilakukan setelah mencapai Liga Konferensi, Paes kehilangan momen kegembiraan itu," tambahnya.
Sebelum menjadi pahlawan kelolosan tim, perjalanan Paes di kancah sepak bola Belanda kerap diterpa kritik pedas dari para pengamat setempat mengenai beberapa kelemahannya di bawah mistar. Menanggapi gelombang kritik tersebut, Paes memilih bersikap realistis serta menunjukkan kesadaran penuh akan aspek-aspek taktis penguasaan bola yang memang harus ia benahi ke depannya.
"Jika Anda memasukkan sembilan puluh menit melawan FC Utrecht, maka saya telah mencatatkan clean sheet tujuh kali dalam 13 pertandingan." ujar Paes.