Paris Saint-Germain (PSG) sukses mempertahankan trofi juara Eropa setelah mengandaskan perlawanan Arsenal melalui babak adu penalti yang dramatis dengan skor akhir 4-3 di Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu (30/5/2026) malam WIB, dilansir dari Suara.
Kemenangan klub raksasa Prancis untuk kedua kalinya secara beruntun tersebut dipastikan setelah eksekusi penalti Gabriel Magalhaes melambung tinggi. Di tengah perayaan juara rekan setimnya, Kapten PSG Marquinhos memilih menghampiri dan memeluk erat bek Arsenal tersebut karena teringat kegagalan penaltinya sendiri pada Piala Dunia 2022.
Pertandingan puncak ini semula berjalan sengit setelah gol pembuka Kai Havertz untuk Arsenal disamakan oleh sepakan penalti Ousmane Dembele pada paruh kedua. Skor imbang 1-1 terus bertahan hingga waktu normal dan babak tambahan waktu berakhir, sehingga pemenang harus ditentukan lewat titik putih.
Marquinhos membeberkan bahwa hantaman psikologis yang ditanggung seorang pemain bertahan akibat kesalahan fatal di laga sekrusial final Liga Champions sangat berat. Dirinya secara instan merasakan empati yang mendalam karena pernah berada di posisi yang sama saat membela Timnas Brasil kontra Kroasia.
"Begitu dia gagal mengeksekusi penalti, saya langsung teringat bagaimana perasaan saya ketika gagal melawan Kroasia yang membuat kami tersingkir dari Piala Dunia terakhir," ujar Marquinhos.
Pemain veteran berusia 32 tahun tersebut sadar betul bahwa proses pemulihan mental dari kegagalan besar di partai puncak membutuhkan ketangguhan jiwa yang luar biasa.
"Itu adalah momen yang sangat sulit baginya, sebuah tanggung jawab yang besar. Saya pernah mengalaminya sendiri dan tahu betapa beratnya ketika hal seperti itu terjadi kepada seorang pemain," jelas Marquinhos.
Menurutnya, Gabriel merasakan tekanan yang sangat besar karena ambisi tinggi untuk membawa Arsenal meraih trofi bergengsi tersebut.
"Anda harus sangat kuat untuk bisa bangkit dari momen seperti itu, dan saya tahu betapa sulitnya," ucap Marquinhos.
Mengingat beratnya beban emosional tersebut, Marquinhos sengaja menunda waktu bahagianya merayakan takhta juara demi mendatangi kompatriotnya.
"Gabriel benar-benar ingin memenangkan gelar ini dan merasakan semua tekanan itu. Dia tahu jika gagal, maka mimpi tersebut akan hilang dan kami yang akan menjadi juara," tambah Marquinhos.
Dalam momen emosional di tengah lapangan tersebut, sang kapten membisikkan serangkaian kalimat positif agar Gabriel tidak merasa bersalah sendirian atas kegagalan mengeksekusi penalti penentu.
"Saya hanya ingin meluangkan beberapa menit dari perayaan saya untuk dirinya, memeluknya dan mendoakan yang terbaik untuknya," beber Marquinhos.
Bek senior PSG ini juga menegaskan bahwa hasil buruk di final tidak akan melunturkan kualitas mentereng yang ditunjukkan oleh Gabriel sepanjang musim.
"Saya mengatakan kepadanya bahwa saya pernah melalui momen seperti itu dan tahu betapa sulitnya, tetapi dia bisa bangkit Kembali," kata Marquinhos.
Marquinhos menambahkan bahwa performa impresif Gabriel bersama Arsenal telah membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu pemain bertahan terbaik di dunia.
"Gabriel menjalani musim yang luar biasa bersama Arsenal. Dia membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu bek terbaik di dunia dan menunjukkan kepada semua orang bahwa dia pemain hebat," sambung Marquinhos.
Ia juga menyampaikan pesan pembelaan bahwa menyalahkan Gabriel atas kegagalan skuad asuhan Mikel Arteta di partai puncak adalah tindakan yang tidak adil.
"Dia tidak pantas memikul seluruh beban dari kekalahan itu di pundaknya," tegas Marquinhos.
Setelah laga final ini, kedua pemain belakang tersebut dijadwalkan akan segera kembali bersatu di dalam pemusatan latihan Timnas Brasil guna menyatukan kekuatan menghadapi perhelatan akbar Piala Dunia 2026.
"Dan di Timnas Brasil, kami membutuhkan dirinya untuk Piala Dunia. Saya hanya ingin memeluknya, menunjukkan bahwa dia sangat dihargai oleh kami dan memberi selamat atas semua yang telah dia lakukan musim ini," pungkas Marquinhos.