Pelatih Persija Jakarta Mauricio Souza membeberkan penyebab utama timnya gagal bersaing dalam perebutan takhta juara kompetisi BRI Super League 2025/2026. Penegasan tersebut disampaikan selepas laga penutup musim kontra Semen Padang FC di Jakarta International Stadium pada Sabtu (23/5), sebagaimana dilansir dari Medcom.
Persija mengakhiri kompetisi di peringkat ketiga klasemen akhir dengan raihan 71 poin setelah menang telak tiga gol tanpa balas. Kendati demikian, performa minor di markas sendiri menjadi catatan krusial yang mengganjal langkah Macan Kemayoran untuk menggeser dominasi Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda.
“Kami meraih poin terbanyak di laga tandang. Namun di kandang sendiri, kami kehilangan sekitar 11 poin,” kata Mauricio Souza.
Klub asal ibu kota ini tercatat memiliki rekam jejak impresif saat melakoni laga tandang sepanjang musim. Akan tetapi, inkonsistensi yang ditandai dengan sejumlah hasil seri dan kekalahan di kandang membuat poin penting terbuang demi gelar juara.
“Tim yang bermain bagus di luar kandang biasanya punya keuntungan besar di kompetisi. Tapi kami tidak bisa menjaga konsistensi saat bermain di kandang sendiri,” ujar Mauricio Souza.
Faktor lain yang disoroti oleh juru taktik asal Brasil tersebut adalah aspek kedisiplinan pemain. Kerugian besar harus diterima tim dalam beberapa laga krusial akibat akumulasi kartu merah yang dikeluarkan wasit.
“Belum lagi ada beberapa pertandingan ketika pemain kami terkena kartu merah, yang akhirnya merugikan kami,” kata Mauricio Souza.
Di samping evaluasi teknis, pelatih berusia 52 tahun itu tetap memberikan apresiasi mendalam terhadap kerja keras jajaran pemain, staf pelatih, hingga ofisial sepanjang musim bergulir. Ucapan terima kasih secara khusus juga dialamatkan kepada basis massa pendukung, The Jakmania, atas suntikan energi yang diberikan di setiap pertandingan.