Mercusuar Films Rilis Film Horor Juminten Edan Garapan Dedy Mercy

Mercusuar Films Rilis Film Horor Juminten Edan Garapan Dedy Mercy

Mercusuar Films dan Digital Frame Production secara resmi memperkenalkan proyek layar lebar terbaru berjudul Juminten Edan yang dijadwalkan menyapa penonton pada tahun 2026. Film ini mengusung genre horor psikologis yang berfokus pada kehidupan seorang perempuan disabilitas.

Karya sinematik ini merupakan hasil kolaborasi sutradara Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh dengan naskah yang disusun oleh penulis Alim Sudio. Melalui film ini, para sineas berupaya menghadirkan inovasi narasi dalam industri horor tanah Air, seperti dikutip dari Suara.

Kisah Juminten Edan menyoroti perjalanan hidup Juminten, seorang perempuan dengan hambatan pendengaran dan wicara yang diperankan oleh Meisya Amira. Setelah delapan tahun merantau, ia kembali ke pulau terpencil asalnya bersama suami dan anaknya.

Meskipun awalnya disambut hangat oleh keluarga besar, suasana berubah mencekam ketika perilaku Juminten mulai menunjukkan gelagat tidak wajar. Berbagai aksi berbahaya yang ia lakukan mulai mengancam keselamatan orang-orang di sekitarnya.

Di balik teror yang terjadi, film ini menyimpan rahasia kelam dan luka lama yang belum sembuh dari masa lalu Juminten. Sutradara Dedy Mercy menjelaskan bahwa proyek ini dipersiapkan secara matang untuk membawa genre horor ke ranah yang lebih personal.

"Melalui film ini, saya ingin menghadirkan miniatur masalah sosial dalam keluarga. Ada kehangatan, ada semangat, namun puncaknya adalah sebuah pesan kuat: di zaman modern sekarang, kewarasan justru seringkali lahir dari orang-orang yang dianggap 'gila'," kata Dedy.

Rumah yang semestinya menjadi tempat paling aman bagi keluarga justru bertransformasi menjadi ruang penuh ancaman dalam narasi film ini. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana trauma masa lalu dapat meledak menjadi teror nyata yang menghancurkan keharmonisan.

Tantangan Akting Meisya Amira dan Dimas Aditya

Meisya Amira menghadapi tantangan besar karena harus memerankan karakter tunawicara tanpa dukungan dialog verbal sama sekali. Ia dituntut menyampaikan emosi kompleks hanya melalui gerak tubuh dan ekspresi wajah yang kuat.

"Aku belajar bahasa isyarat bersama coach khusus dari proses reading sampai syuting. Tantangan terbesarnya adalah menjaga emosi tetap hidup tanpa kata-kata," ujar Meisya.

Aktris muda tersebut berupaya mendalami sisi psikologis karakternya agar setiap adegan terasa autentik bagi penonton. Ia menegaskan pentingnya membawa trauma tokoh ke dalam setiap tatapan mata agar penyampaian emosinya terasa jujur.

"Aku harus benar-benar membawa trauma Juminten ke dalam setiap adegan agar setiap tatapan mata terasa jujur bagi penonton," ucap Meisya.

Di sisi lain, aktor Dimas Aditya memerankan karakter Manto, suami dari Juminten yang terjebak dalam dilema antara cinta dan rasa takut. Karakter Manto digambarkan sebagai sosok yang harus menghadapi perubahan drastis pada istrinya di tengah situasi yang mengancam nyawa.

"Cinta bisa mengalahkan apa saja, bahkan ketakutan sekalipun," kata Dimas saat menjelaskan dinamika karakter yang dimainkannya dalam film tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi