Manajer Arsenal Mikel Arteta menyatakan kekalahan dramatis timnya dari Paris Saint-Germain pada laga final Liga Champions di Stadion Puskas Arena, Budapest, sangat sulit untuk diterima.
Klub London Utara tersebut gagal mewujudkan mimpi meraih trofi tertinggi Eropa untuk pertama kali dalam 140 tahun sejarah mereka setelah takluk 3-4 melalui adu penalti pada Sabtu malam.
Pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan setelah gol cepat Kai Havertz pada menit keenam disamakan oleh penalti Ousmane Dembele menyusul pelanggaran Cristhian Mosquera terhadap Khvicha Kvaratskhelia.
Arsenal sempat menuntut penalti ketika Noni Madueke dijatuhkan Nuno Mendes, namun wasit Daniel Siebert serta VAR mengabaikan protes tersebut hingga membuat Arteta dan Declan Rice menerima kartu kuning.
Arteta mengungkapkan rasa frustrasinya setelah skuad Meriam London gagal memastikan kemenangan sebelum babak tos-tosan terjadi.
"Pain." kata Arteta.
Arteta menilai timnya telah menunjukkan performa yang sangat konsisten sepanjang kompetisi namun harus menerima kenyataan pahit di laga puncak.
"It is very tough to accept when you are so consistent all the way to the final and in the end you lose the trophy on penalties." ujar Arteta.
Arsitek asal Spanyol tersebut juga menyoroti keputusan pengadil lapangan yang tidak memberikan penalti kepada Arsenal di akhir babak pertama perpanjangan waktu.
"I watched all the penalties in the competition in the last 72 hours to understand what a penalty is and what is not, and that easily can be a penalty." kata Arteta.
Kendati demikian, Arteta menyadari bahwa penyesalan tidak akan mengubah hasil pertandingan dan meminta timnya untuk segera berbenah.
"But it is if, if, if. It is not what happened. We need to do better, we have to improve and find different margins to get the outcome that we want." tambah Arteta.
Pada babak adu penalti, eksekusi Eberechi Eze melebar sebelum kiper David Raya sempat membuka harapan dengan menepis tendangan Nuno Mendes.
Namun, Lucas Beraldo sukses mengecoh Raya, sementara bek Gabriel Magalhaes yang tampil apik sepanjang laga justru menembak bola ke atas mistar gawang.
Arteta menegaskan bahwa perubahan algojo penalti terpaksa dilakukan karena para penendang utama sudah ditarik keluar sebelum laga usai.
"He (Gabriel) wanted to take the fifth penalty. We have prepared and trained for this moment." jelas Arteta.
Absennya sejumlah pilar utama di babak perpanjangan waktu membuat struktur penendang penalti Arsenal mengalami perubahan besar dari rencana awal.
"Normally the penalty takers would be (the already substituted) Bukayo (Saka), Martin (Odegaard) and Kai (Havertz), and we knew that if it goes to extra time, the penalty takers would be different players." tutur Arteta.
Arteta juga membela Eze yang gagal menunaikan tugasnya meski menunjukkan performa impresif selama sesi latihan di Carrington.
"In training, Ebz doesn’t miss any penalties. But then you have to do it in this moment. And we’ve been unfortunate not to have the same precision and efficiency that PSG had and that’s the reason that we haven’t won it." kata Arteta.
Skuad Arsenal dijadwalkan langsung meninggalkan Budapest pada Minggu dini hari untuk bersiap melakukan parade bus terbuka guna merayakan gelar juara Liga Inggris pertama mereka dalam 22 tahun.
Arteta berharap rasa sakit ini bisa menjadi motivasi tambahan bagi anak asuhnya untuk bersaing di level tertinggi Eropa musim depan.
"First of all you have to go through that pain, digest it and turn it into fuel to improve and to reach a different level because it will demand a different level with the quality that is around Europe." pungkas Arteta.
Di akhir pernyataannya, Arteta berjiwa besar dengan memberikan ucapan selamat kepada sang lawan yang dinilainya tampil luar biasa.
"I want to congratulate PSG, Luis (Enrique) in particular, because they are, in my opinion, the best team in the world." kata Arteta.
Sementara itu, pelatih PSG Luis Enrique sukses merayakan gelar Liga Champions ketiganya sebagai manajer setelah sebelumnya meraih kesuksesan bersama Barcelona pada 2015.
"It is a dream that has come true and I’m just so happy." kata Luis Enrique.
Keberhasilan mempertahankan gelar juara Eropa ini sekaligus menegaskan dominasi klub raksasa Prancis tersebut di panggung internasional.
"This back-to-back win is incredible because it is so complicated." tambah Luis Enrique.
Enrique mengklaim bahwa pasukannya memang layak mengangkat trofi kuping lebar tersebut apabila melihat konsistensi performa sepanjang musim.
"We were able to carry the game to Arsenal, dominate, and I am so happy because if I analyse the whole season we clearly deserve the trophy." tutur Luis Enrique.