Keberhasilan Mikel Arteta membawa Arsenal merengkuh trofi juara Premier League 2025/2026 menjadi buah manis dari kerja keras selama enam setengah tahun. Dilansir dari Detik Sport, kunci utama dari pencapaian luar biasa ini adalah keberaniannya dalam mengubah total budaya di dalam klub.
Gelar juara Premier League 2025/2026 tersebut sekaligus menyudahi penantian panjang Arsenal selama 22 tahun. Trofi ini menjadi pencapaian yang sangat diidam-idamkan, meskipun sebelumnya Arteta telah mempersembahkan piala FA untuk tim berjuluk Meriam London tersebut.
Sebelum mencicipi kesuksesan besar ini, Arsenal harus melewati masa-masa sulit dengan finis sebagai runner-up selama tiga musim berturut-turut. Proses panjang untuk mencapai titik tertinggi kompetisi sepak bola Inggris ini dilalui dengan perjuangan yang tidak mudah.
Manajemen Arsenal menunjuk Mikel Arteta sebagai manajer pada Desember 2019 setelah memecat Unai Emery. Kondisi internal klub dilaporkan sangat kacau ketika mantan pemain Arsenal asal Spanyol tersebut pertama kali tiba.
Arteta langsung mengambil langkah berani dengan mengubah budaya organisasi klub terlebih dahulu. Langkah awal yang dilakukannya adalah menggelar kajian mendalam untuk memahami perasaan orang-orang yang bekerja di Arsenal.
Hasil kajian menunjukkan hal yang kurang memuaskan bagi Arteta. Ia mengaku sama sekali tidak terkesan dengan cara para pekerja di klub mendefinisikan perasaan mereka terhadap organisasi tempat mereka bekerja.
Proses meruntuhkan budaya lama yang keliru di Arsenal membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan, skuad Meriam London sempat finis di peringkat kedelapan pada dua musim pertama kepemimpinan Arteta, yang memicu gelombang desakan pemecatan.
Meskipun mendapat tekanan dari suporter, dewan direksi klub tetap memberikan kepercayaan penuh terhadap metode yang diterapkan Arteta. Salah satu figur penting yang terus mendukung adalah Co-Chair Arsenal, Josh Kroenke, yang memimpin bersama ayahnya, Stan Kroenke.
"I first met Mikel Arteta when he played for Arsenal, so I have a bit of an idea of his personality. My dad and I knew a lot about the man behind the player," kata Josh Kroenke di podcast The Overlap bersama Ian Wright dan Gary Neville.
"But in the summer of 2019, after we went to Baku, Azerbaijan for the Europa League final, that's when everything started to feel real for me. And I remember talking to my dad that maybe we need to take a step back first to finally move forward."
"So when we arrived that December, and it was arguably a transition period, we could really see the club was at a point that we needed to really recreate the culture."
"And when I sat down with Mikel, he went through all his football tactics, but the conversation I really remember was about culture."
"But when I come to this training ground and see the people that are here, I think it's a testament to what Mikel and his staff have achieved over the last six years. Not just on the pitch, but off the pitch," ujarnya.