Kompetisi sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 2025–2026 di Kota Kudus dan Malang resmi berakhir. Turnamen ini memunculkan deretan pemenang baru yang tampil memukau di lapangan hijau, seperti dikutip dari Suara.
Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menyampaikan pesan penting mengenai arah masa depan sepak bola putri Indonesia. Ia menegaskan pembentukan karakter dan kecintaan siswi terhadap sepak bola jauh lebih bernilai daripada sekadar mengejar kemenangan.
Langkah ini diharapkan menjadi standar baru bagi sekolah serta pelatih daerah dalam membina atlet muda. Hal tersebut bertujuan agar mental anak-anak tidak terbebani sejak usia dini.
Timo Scheunemann menjelaskan bahwa proses seleksi pemain selama turnamen tidak hanya berpatokan pada kemampuan teknis mengolah bola. Bakat seorang pemain dapat berkembang maksimal jika ditunjang disiplin latihan yang tinggi serta rasa bahagia saat bertanding.
"Prestasi itu memang penting, tapi yang tidak kalah penting adalah konsistensi para siswi dalam latihan," tutur Timo.
Ia menambahkan, peningkatan kemampuan teknik dasar secara otomatis akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kesenangan bermain.
"Ketika kemampuan mereka meningkat, mereka akan semakin senang bermain sepak bola. Dari situ baru digali potensi dan bakatnya," lanjut pelatih berpengalaman tersebut.
Pihak sekolah juga didorong untuk menjadikan sepak bola sebagai media pembentukan mental yang selaras dengan nilai-nilai pendidikan.
Perkembangan Pembinaan di Kudus dan Malang
Timo Scheunemann melihat adanya perbedaan tingkat kematangan pembinaan antara kedua kota penyelenggara. Kudus dinilai telah memiliki fondasi sepak bola putri yang sangat mapan karena konsisten menjaga ritme pertumbuhan selama tiga tahun terakhir.
Sementara itu, Malang menunjukkan lonjakan signifikan pada jumlah peserta dan kualitas pemain meski baru dua kali menyelenggarakan turnamen ini.
"Malang baru dua kali menggelar MLSC, namun perk Perkembangannya sudah terlihat baik, dari jumlah pemain maupun kualitas pemain," ungkap Timo.
Tim pelatih memantau langsung ke berbagai sekolah untuk memastikan tidak ada pemain potensial yang terlewat. Proses ini dilakukan demi menjaring talenta terbaik yang akan dimasukkan ke dalam tim All-Star masing-masing kota.
Daftar Pemenang Turnamen
Persaingan di lapangan menunjukkan peta kekuatan sepak bola putri tingkat akar rumput yang semakin kompetitif dan merata.
Kejutan terjadi di Kudus pada kategori KU 12 saat SDN Jambean 02 Pati mengalahkan juara bertahan SDUT Bumi Kartini lewat adu penalti. Pada kategori KU 10 Kudus, MI NU Baitul Mukminin menjadi juara setelah menang telak dengan skor 4-1.
Di wilayah Malang, SDN Lowokwaru 3 menguasai kategori KU 12 setelah menang tiga gol tanpa balas di partai final. Sementara untuk kategori KU 10 Malang, SDN Tulungrejo 02 mengunci gelar juara usai melewati laga sengit yang berakhir 3-1.
Persiapan Tim All-Star Menuju Tingkat Nasional
Para pemain yang tampil menonjol di laga final, terutama pada kategori KU 12, kini mengemban misi penting untuk membawa nama baik daerah.
Timo Scheunemann memastikan para finalis tersebut akan segera dipersiapkan untuk memperkuat tim All-Star Malang dan Kudus. Mereka dijadwalkan bertanding di Kudus pada akhir Juni mendatang untuk menghadapi perwakilan terbaik dari 12 kota lain di Indonesia.