Naegohyang FC Amankan Tiket Piala Champions Wanita FIFA

Naegohyang FC Amankan Tiket Piala Champions Wanita FIFA

Tiket menuju ajang global Piala Champions Wanita FIFA tahun depan resmi diamankan oleh Naegohyang FC setelah memenangi laga final Liga Champions Wanita Asia di Kota Suwon, Korea Selatan, pada Sabtu, 23 Mei 2026. Klub asal Korea Utara tersebut mengunci gelar juara lewat kemenangan tipis 1-0 atas tim asal Jepang, Tokyo Verdy Beleza.

Gol penentu kemenangan Naegohyang FC dilesakkan oleh kapten tim, Kim Kyong Yong, sesaat sebelum babak pertama berakhir. Penyerang berusia 24 tahun tersebut berhasil mengonversi umpan dari Jong Kum melalui skema serangan balik cepat yang dibangun dari sektor kiri lapangan.

Hasil positif ini sekaligus membalas kekalahan telak Naegohyang FC dari Tokyo Verdy Beleza dengan skor 0-4 saat kedua tim bertemu di fase grup. Sebelum melangkah ke partai puncak, klub asal Pyongyang yang berdiri sejak tahun 2012 ini menyisihkan tuan rumah Suwon FC Women dengan skor 2-1 di babak semifinal.

Pertandingan final ini mencatatkan sejarah baru karena menjadi momen pertama kali dalam delapan tahun terakhir bagi tim olahraga Korea Utara melintasi perbatasan untuk berkompetisi di Korea Selatan. Kehadiran mereka menyedot perhatian 3.000 penonton dari kelompok sipil yang didukung oleh Kementerian Unifikasi Seoul.

Direktur LSM Korea Selatan Peace Network, Cheong Wook-sik, menilai kedatangan tim ini membawa pengaruh emosional yang kuat bagi publik di tengah situasi kedua negara yang belum berdamai sejak tahun 1950.

"We have long been the closest neighbours, yet also the most hostile towards each other," kata Cheong Wook-sik, Direktur Peace Network.

Melalui momentum positif di lapangan hijau ini, ia menaruh harapan bagi perkembangan hubungan diplomatik kedua belah pihak di masa depan.

"I hope these football events can help change that, even if it may sound too idealistic." ujar Cheong Wook-sik, Direktur Peace Network.

Dukungan langsung di stadion juga ditunjukkan oleh generasi lansia yang memiliki ikatan sejarah, termasuk seorang pria berumur 94 tahun asal Korea Utara, Choi Hyo-kwan, yang sengaja datang demi memberikan suntikan semangat.

"I heard they were playing Japan today, so I came out to support them," kata Choi Hyo-kwan, Penonton.

Ia juga menyampaikan doa terbaik bagi keselamatan dan performa seluruh pesepak bola yang sedang bertanding.

"Above all, i just hope everyone stays healthy, avoids injuries and goes all the way to victory." ujar Choi Hyo-kwan, Penonton.

Keberhasilan di sektor olahraga ini disebut erat kaitannya dengan fokus pembinaan talenta muda yang berjalan masif di Korea Utara, seperti dipaparkan oleh Profesor Studi Korea Utara di Dongguk University, Kim Yong-hyun.

"North Korea is highly focused on discovering and training young football talent," kata Kim Yong-hyun, Profesor Studi Korea Utara di Dongguk University.

Sistem penjaringan atlet di negara tersebut diakui berjalan sangat terstruktur, bahkan sejak masa lampau sewaktu sekolah olahraga elite mulai mencari murid berbakat dari jenjang sekolah dasar atau menengah.

"Even in the 1990s, when I was training in North Korea, there was already a well-established system in schools to nurture young athletic talent," kata Kim Sang-yoon, Mantan Petinju Nasional Korea Utara.

Ia menegaskan kembali mengenai pola seleksi ketat yang diterapkan pada institusi pendidikan olahraga khusus tersebut.

"At elite sports schools, talented students were usually selected and trained from elementary or middle school." ujar Kim Sang-yoon, Mantan Petinju Nasional Korea Utara.

Sutradara film asal Austria, Brigitte Weich, yang sempat mendokumentasikan perjalanan tim sepak bola wanita Korea Utara selama lima tahun, memberikan analisisnya mengenai prioritas penuh otoritas negara pada cabang olahraga tertentu.

"Maybe someone came to Kim Jong-il and said to him that we could use this," kata Brigitte Weich, Sutradara Film.

Ia berpendapat bahwa keterbatasan di bidang ekonomi, sains, dan hak asasi manusia tidak menghalangi negara tersebut untuk berprestasi karena adanya sistem pelatihan terpusat yang diterapkan dari jajaran atas.

"North Korea is not the best in economics, science, human rights and the rest, but in countries like this they can be good at some sports because, from the top down, they can focus on training and nothing else." ujar Brigitte Weich, Sutradara Film.

Prestasi Naegohyang FC kian melengkapi kedigdayaan sepak bola wanita Korea Utara setelah sebelumnya tim nasional junior mereka memenangi Piala Dunia Wanita U-20 FIFA 2024, Piala Dunia Wanita U-17 FIFA 2025, serta Piala Asia Wanita U-17 AFC 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi