New York Knicks memastikan diri melangkah ke babak Final NBA untuk pertama kalinya sejak musim 1998-1999 setelah menundukkan tuan rumah Cleveland Cavaliers dengan skor telak 130-93 pada laga keempat Final Wilayah Timur di Rocket Arena, Senin, 25 Mei 2026 malam waktu setempat.
Kemenangan dominan tersebut membuat tim asuhan Mike Brown menyapu bersih seri final wilayah dengan keunggulan mutlak 4-0 sekaligus memperpanjang rekor kemenangan beruntun mereka menjadi 11 laga selama fase playoff musim ini.
Jalen Brunson dinobatkan sebagai MVP Final Wilayah Timur setelah mencatatkan rata-rata 25,5 poin dan 7,7 assist di sepanjang seri ini, termasuk performa gemilang dengan torehan 38 poin saat membalikkan ketertinggalan 22 poin pada laga pertama.
Keberhasilan ini membawa Knicks berpeluang mengakhiri puasa gelar juara NBA selama 53 tahun, di mana mereka terakhir kali mengangkat trofi juara pada musim 1972-1973 setelah mengalahkan Los Angeles Lakers.
Pelatih kepala New York Knicks, Mike Brown, mengungkapkan bahwa pencapaian luar biasa ini diraih melalui proses yang tidak mudah serta membutuhkan komitmen kerja keras dari seluruh elemen tim.
"tidak ada yang mudah dalam hal ini" kata Brown.
Brown menambahkan bahwa performa anak asuhnya didorong oleh kedisiplinan tingkat tinggi, rasa saling percaya, serta semangat juang yang luar biasa di atas lapangan.
"Mereka melakukan hal-hal yang selalu saya bicarakan: mereka saling bertanggung jawab, they percaya pada prosesnya, mereka bermain dengan semangat kompetitif yang tak tertandingi," ujar Brown.
Menurutnya, komunikasi yang baik dan fokus pada detail permainan menjadi kunci utama timnya mampu memenangkan rentetan pertandingan secara berturut-turut.
"Jika Anda melakukan hal-hal itu sambil fokus pada detail, berkomunikasi, dan mengerahkan energi serta usaha, Anda memiliki peluang untuk memenangkan beberapa pertandingan berturut-turut." kata Brown.
Pelatih Cleveland Cavaliers, Kenny Atkinson, memberikan pujian atas kehebatan Jalen Brunson dalam membaca situasi pertandingan dan memimpin serangan Knicks.
"Itulah yang dilakukan pemain hebat, bukan?" kata Atkinson.
Atkinson mengakui bahwa strategi pertahanan yang diterapkan timnya gagal membendung aliran bola dari sang kapten Knicks yang tampil sangat tidak mementingkan diri sendiri.
"Mereka membaca permainan, dan permainan menentukan hal itu. Tentu saja, kami memberikan lebih banyak kepada dia, dan dia menemukan pemain lain. … Menghilangkan beberapa opsi mencetak gol, menyerangnya, memberinya penampilan berbeda. Dia melakukan pembacaan yang tepat, permainan yang tepat." ujar Atkinson.
Analis ESPN, Tim Bontemps, sempat menyoroti keterpurukan lini serang Cavaliers pada laga kedua yang menjadi titik awal hilangnya momentum tuan rumah dalam seri ini.
"I sort of agree with what Donovan Mitchell’s message was after the game," kata Bontemps.
Bontemps sepakat dengan penilaian tim pelatih Cavaliers yang menganggap ketidakefektifan lini serang sebagai penyebab utama kekalahan mereka.
"And Kenny Atkinson’s message after the game, which was that this was an offensive loss for the Cavs." ujar Bontemps.
Menjelang laga ketiga, Bontemps menilai kualitas ofensif Cavaliers masih jauh dari standar yang seharusnya mereka tunjukkan.
"The Cavs just were not good enough offensively," kata Bontemps.
Padahal, Cavaliers memiliki komposisi skuad yang dirancang untuk menjadi salah satu tim dengan skema penyerangan terbaik di liga.
"The Cavs are built to be an excellent offensive team," cetus Bontemps.
Bontemps menilai Cavaliers memiliki talenta yang cukup untuk mengimbangi permainan fisik dari Knicks.
"And their offense was not good enough tonight." tutur Bontemps.
Meski demikian, ia melihat Knicks memiliki peluang besar untuk segera menyudahi perlawanan Cavaliers jika mampu memanfaatkan momentum di markas lawan.
"They have the talent to win the series," ucap Bontemps.
Knicks kini tinggal menunggu pemenang dari Final Wilayah Barat antara San Antonio Spurs dan Oklahoma City Thunder yang saat ini kedudukannya masih imbang 2-2.
"They can play with the Knicks." kata Bontemps.
Pengamat olahraga dari The Athletic, Jason Lloyd, menambahkan bahwa faktor kelelahan fisik menjadi kendala utama yang terlihat jelas pada raut permainan Cavaliers di sepanjang seri ini.
"But if the Knicks are going into this game Saturday night," ujar Lloyd.
Menurut Lloyd, kelesuan pemain di lapangan membuat atmosfer pertandingan di markas Cavaliers kehilangan energinya hingga akhirnya seri ini berakhir dengan eliminasi.
"they have a chance to end this thing." kata Lloyd.
Di sisi lain, performa konsisten diperlihatkan oleh center Cavaliers, Jarrett Allen, yang sempat menyatakan bahwa timnya menyukai tantangan bermain di bawah tekanan penonton sebelum laga ketiga bergulir.
"Fatigue certainly seems to have been an issue throughout this series with the Knicks and was on display again in Game 3. The Cavs looked lethargic, the building lacked energy because the home team gave them nothing to cheer for and now this erratic, inconsistent season could come to an end Monday night," ujar Allen.
Kemenangan di laga penutup ini sekaligus menegaskan dominasi statistik Knicks yang dilansir oleh CBS Sports sebagai tim dengan ofensif dan defensif terbaik di Playoff NBA 2026.
"Begitulah perjalanan playoff kami sejauh ini, selalu dalam posisi tertekan. Jadi kami suka membuat semuanya menarik dan membuat semua orang penasaran dengan pertandingan berikutnya," kata Allen.