Manajer Oliver Glasner resmi meletakkan jabatannya setelah mengantarkan Crystal Palace merengkuh trofi UEFA Conference League di Leipzig. Pelatih asal Austria tersebut sukses mempersembahkan tiga trofi mayor pertama sepanjang sejarah klub dalam kurun waktu 375 hari.
Seperti dilansir dari Suara, keberhasilan bersejarah ini dipastikan setelah The Eagles menundukkan Rayo Vallecano dengan skor 1-0 melalui gol tunggal di partai final. Laga puncak kompetisi Eropa ini sekaligus menjadi momen perpisahan bagi sang manajer.
Gelandang Crystal Palace, Adam Wharton, memberikan kesaksian mengenai dampak instan dan transformasi radikal yang dibawa oleh sang manajer sejak hari pertama kedatangannya di Selhurst Park.
"Dia harus menjadi salah satu manajer terbaik yang pernah dimiliki Crystal Palace," kata gelandang Palace Adam Wharton dikutip dari BBC, Kamis (28/5/2026).
"Dia telah membuat perbedaan besar bagi bagaimana klub memandang kompetisi. Kami tidak hanya ingin bertahan di Premier League dan berada di Eropa, kami ingin menang dan berada setinggi mungkin."
Langkah Crystal Palace menuju podium juara Eropa musim ini dipenuhi rintangan berat akibat krisis internal dan sanksi regulasi. Langkah Palace di Europa League terpaksa dicopot dan diturunkan ke kasta ketiga karena aturan kepemilikan multi-klub UEFA.
Masalah kepemilikan saham ganda oleh pengusaha Amerika Serikat, John Textor, di Palace dan Lyon menjadi pemicu utama sanksi tersebut. Situasi semakin memanas di dalam klub ketika jendela transfer ditutup dengan ketidakpastian skuad.
Glasner dilaporkan sempat mengancam akan mundur jika bek andalan sekaligus kapten tim, Marc Guehi, dilepas ke klub rival. Sang pelatih merasa frustrasi karena pihak manajemen berniat menjual pilar penting saat tim membutuhkan kedalaman skuad.
Hubungan antara Glasner dan Parish selaku pemilik klub sempat berada di titik nadir akibat perbedaan visi tersebut. Memasuki paruh musim, performa tim sempat merosot tajam hingga terlempar dari persaingan papan atas Premier League.
Keterpurukan The Eagles memuncak saat mereka tersingkir secara memalukan oleh tim non-liga, Macclesfield, di ajang FA Cup. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Glasner mendadak mengumumkan rencana kepergiannya setelah manajemen menyetujui penjualan Guehi ke Manchester City.
Perwakilan dari fanzine Crystal Palace Eagle Eye View, Ellie Killick, mengungkapkan situasi psikologis para pendukung fanatik saat konflik internal tersebut memanas.
"Cara kepergiannya diumumkan - dan sikapnya dalam minggu-minggu itu - memberi sedikit awan abu-abu pada perasaan saya terhadapnya," kata Ellie Killick dari fanzine Crystal Palace Eagle Eye View.
"Di bulan Januari, itu adalah waktu yang sulit untuk mendukung Palace."
Warisan Standar Tinggi di Selhurst Park
Meski sempat terjadi perselisihan, Parish memilih untuk mempertahankan Glasner hingga akhir musim karena menyadari kapasitas kepemimpinannya. Keputusan tersebut terbukti menjadi langkah penyelamatan sejarah bagi klub London Selatan ini.
Sebelum era keemasan ini, Crystal Palace merupakan tim yang identik dengan papan tengah Premier League di bawah asuhan Roy Hodgson. Rekomendasi dari mantan direktur olahraga, Dougie Freedman, untuk merekrut Glasner didasarkan pada rekam jejak impresif di Bundesliga.
Kini, trofi Conference League resmi mengamankan satu tiket otomatis bagi Crystal Palace untuk kembali berlaga di kompetisi Europa League musim depan. Glasner menyudahi masa baktinya dengan memberikan pidato perpisahan yang penuh emosi.
"Seknow saya pergi, saya tidak harus setuju dengan ketua," katanya sambil tersenyum. "Dia bilang hari terbaik adalah final FA Cup, tapi saya tidak setuju. Hari terbaik masih akan datang di Leipzig."
"Saat ini saya bahkan tidak percaya ini adalah pertandingan terakhir," kata Glasner setelah peluit akhir pada hari Rabu. "Ini adalah bab yang bagus untuk dibaca dalam buku Crystal Palace tetapi bab-bab bagus lainnya akan menyusul."
"Saya katakan kepada para pemain setelah FA Cup, pergi dan dapatkan apa yang pantas kalian dapatkan - Europa League."
"Sekarang dengan penundaan satu tahun, klub, penggemar, pemain, terkadang Anda harus mengambil jalan memutar dan sekarang Crystal Palace berada di tempat yang seharusnya."
Kepergian pelatih asal Austria ini meninggalkan standar baru yang sangat tinggi bagi siapapun suksesor yang akan memimpin tim di masa mendatang.
"Glasner telah sepenuhnya mengubah lintasan Crystal Palace Football Club," tambah Killick.