Pari Kesit Rilis Lagu Hiphop AI Kritik Eksploitasi Lahan Papua

Pari Kesit Rilis Lagu Hiphop AI Kritik Eksploitasi Lahan Papua

Sebuah lagu hiphop provokatif berjudul "Pesta Para Babi Pembangunan" kini tengah menjadi sorotan publik di media sosial karena liriknya yang tajam mengkritik penguasa. Karya yang viral ini digarap oleh sosok seniman anonim yang menggunakan nama samaran Pari Kesit.

Seperti dikutip dari Suara, lagu tersebut menyoroti luka mendalam terkait eksploitasi lahan adat di Tanah Papua. Menariknya, proses pembuatan karya musik ini tidak memanfaatkan studio rekaman konvensional, melainkan menggunakan kolaborasi teknologi kecerdasan buatan (AI).

Meskipun diproduksi secara digital, substansi dan nyawa dari lagu ini diambil dari realitas nyata. Karya ini mendapatkan inspirasi utama dari film dokumenter tajam yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dengan judul "Pesta Babi".

Melalui bait-bait liriknya, Pari Kesit mengajak para pendengar untuk melihat langsung nasib pedih masyarakat adat Papua yang semakin terpinggirkan dari tanah kelahiran mereka. Lagu ini dibuka dengan baris lirik yang penuh sindiran terhadap kebijakan pembangunan.

"Tanah dibakar atas nama pangan, hutan dibelah atas nama masa depan."

Lirik tersebut menggambarkan dampak nyata dari perluasan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ekspansi perkebunan kelapa sawit korporasi. Kebijakan tersebut dinilai terus mengikis hutan-hutan adat yang selama ini menjadi sumber kehidupan utama bagi masyarakat lokal Papua.

"Papua menangis di balik proposal korporasi," tulis Pari Kesit.

Bait tersebut menjadi sentilan keras terhadap keterlibatan berbagai perusahaan raksasa. Perusahaan-perusahaan tersebut dituding mengeksploitasi lahan demi keuntungan sepihak, sementara warga asli hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.

Sorotan Pada Narasi Stabilitas Negara

Dampak Investasi di Wilayah Selatan

Pari Kesit tidak hanya mengarahkan kritiknya kepada pihak korporasi, tetapi juga menyasar narasi yang sering digaungkan oleh pemerintah. Ia menyoroti penggunaan istilah stabilitas negara yang kerap dijadikan alasan untuk memuluskan arus investasi, khususnya di wilayah selatan Papua.

"Negara bicara stabilitas sambil tanam kolonisasi," ucapnya dalam lirik yang lugas.

Bagi sang musisi, kehadiran aparat keamanan serta intervensi negara di daerah tersebut justru sering kali memicu konflik baru. Kondisi ini membuat masyarakat adat kerap diposisikan sebagai penghambat masuknya modal investasi.

Ancaman Terhadap Kepunahan Peradaban

Melalui karya ini, Pari Kesit memberikan peringatan bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi yang ditampilkan, ada peradaban masyarakat adat di timur Indonesia yang sedang terancam punah. Lagu ini ditutup dengan sebuah pertanyaan reflektif untuk menggugah kesadaran publik.

"Apakah aku, kamu, kita akan tetap diam?"

Kehadiran karya ini menjadi sebuah bukti bahwa teknologi AI dapat menghasilkan resonansi sosial yang kuat jika dipadukan dengan keresahan masyarakat yang tulus. Kini, pesan tersebut kembali kepada publik mengenai nasib keberlanjutan peradaban masyarakat adat Papua.

Artikel terkait

Rekomendasi