Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memutuskan untuk tidak membebankan target tinggi kepada para atletnya yang akan berlaga di turnamen Indonesia Open 2026 di Jakarta.
Langkah tersebut diambil karena federasi lebih memprioritaskan suntikan semangat juang para pemain di lapangan, sebagaimana dilansir dari Detik Sport pada Senin (1/6/2026).
Turnamen berkategori tinggi ini dijadwalkan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, pada tanggal 2 sampai 7 Juni 2026 dengan menampilkan sejumlah pilar terbaik tanah air.
Beberapa perwakilan Indonesia yang siap diturunkan meliputi Jonatan Christie, Putri Kusuma Wardani, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, hingga pasangan Amallia Cahya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti.
Ketua Umum PP PBSI, Fadil Imran, menegaskan bahwa seluruh wakil tuan rumah mempunyai kesempatan yang setara untuk membawa pulang gelar juara, di mana hasil akhir dinilai sebagai buah dari proses latihan.
"Kami tentu berharap seluruh atlet Indonesia dapat memberikan penampilan terbaik. Namun, PBSI tidak ingin membebani para atlet dengan target yang berlebihan," kata Fadil Imran, Ketua Umum PP PBSI.
Pihak pengurus menegaskan bahwa hal utama yang ingin dilihat dari para pebulutangkis nasional adalah daya juang tinggi serta mentalitas yang kuat di atas lapangan.
"Yang kami harapkan adalah mereka bisa tampil maksimal, berjuang hingga poin terakhir, serta menunjukkan karakter juara untuk Indonesia," ujar Fadil Imran, Ketua Umum PP PBSI.
Sorotan dalam kompetisi kali ini juga tertuju pada pemain tunggal putra muda Alwi Farhan yang berusia 21 tahun, namun PBSI tetap memilih untuk menghindarkannya dari tekanan berlebih.
Penilaian terhadap peta persaingan bulutangkis global saat ini dianggap sudah sangat merata sehingga status pemain unggulan tidak lagi menjamin kemenangan mutlak.
"Menurut kami, hasil merupakan konsekuensi dari proses dan persiapan yang baik. Jika ditanya siapa yang berpeluang menjadi juara, saya rasa semuanya memiliki peluang. Kesempatan untuk meraih gelar masih terbuka lebar bagi setiap atlet," ucap Fadil Imran, Ketua Umum PP PBSI.
Bagi organisasi, kesiapan elemen teknis, fisik, hingga kondisi mental pada hari pertandingan jauh lebih krusial dibandingkan dengan nama besar yang dimiliki oleh seorang atlet.
"Persaingan bulutangkis dunia saat ini sangat ketat dan berat. Yang paling menentukan bukanlah nama besar, melainkan siapa yang paling siap secara teknik, fisik, dan mental saat pertandingan berlangsung," tutur Fadil Imran, Ketua Umum PP PBSI.
Oleh karena itu, jajaran pengurus pusat saat ini sepenuhnya mengalihkan fokus kerja guna mematangkan persiapan seluruh delegasi Indonesia.
"Fokus kami adalah membantu para atlet agar dapat mencapai penampilan terbaik mereka di turnamen ini," kata Fadil Imran, Ketua Umum PP PBSI.