Sejumlah pembalap MotoGP mengusulkan perubahan posisi start di Sirkuit Barcelona guna menekan risiko kecelakaan saat memasuki tikungan pertama setelah insiden tabrakan pada balapan GP Catalunya, Minggu (17/5/2026).
Dilansir dari Otorider, desakan ini muncul setelah Johann Zarco terlibat kecelakaan dengan Pecco Bagnaia dan Luca Marini saat start ulang, menyusul rentetan insiden serupa pada tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan Takaaki Nakagami dan Enea Bastianini.
Pembalap VR46 Ducati, Fabio Di Giannantonio, menjadi salah satu sosok utama yang kembali menyuarakan usulan untuk memajukan posisi start agar mendekati tikungan pertama demi mengurangi kecepatan motor.
"Dengan start yang begitu jauh dari tikungan pertama, kami sampai di sana dengan kecepatan tinggi, tetapi bukan kecepatan yang biasa kami capai [pada lap normal]," kata Fabio Di Giannantonio.
Pembalap asal Italia itu menilai jarak start yang terlalu jauh membuat para pembalap kesulitan dalam menentukan titik pengereman yang tepat, sehingga potensi kesalahan kecil dapat memicu dampak yang sangat fatal.
"Jadi kami tidak benar-benar tahu titik pengereman yang sempurna untuk tikungan pertama. Jadi kesalahan kecil bisa menjadi kesalahan besar dan menyebabkan bencana besar. Hal yang sempurna, saya pikir setiap pembalap akan setuju dengan ini, adalah memulai sedekat mungkin dengan tikungan pertama," lanjut Fabio Di Giannantonio.
Ia menambahkan bahwa pemindahan grid start ke posisi yang lebih depan akan mempermudah formasi pembalap saat melewati tikungan awal tersebut.
"Lalu kita bisa masuk dan melewatinya, dan setiap orang bisa mendapatkan tempatnya di โularโ besar para pengendara," ungkap Fabio Di Giannantonio.
Tingginya kecepatan motor saat mendekati tikungan juga berdampak langsung pada stabilitas aerodinamis kendaraan akibat turbulensi hebat di tengah rombongan pembalap.
"Tenu saja, tiba di sana dengan gigi kelima dengan kecepatan tinggi, dengan banyak pergerakan aerodinamis, banyak turbulensi - itu juga merupakan masalah besar saat ini," jelas Fabio Di Giannantonio.
Kondisi dinamis tersebut diakuinya sangat sulit dikelola karena para pembalap hanya mengalaminya secara langsung sebanyak dua kali sepanjang akhir pekan kompetisi.
"Ketika Anda berada di antara motor, motor tersebut benar-benar berbeda dibandingkan ketika Anda hanya berada di belakang satu motor. Jadi, semua hal itu hanya Anda alami dua kali dalam satu akhir pekan, Sprint Race dan Grand Prix. Dan sangat, sangat sulit untuk bersikap tepat dan mengelolanya," tutur Fabio Di Giannantonio.
Usulan modifikasi sirkuit ini juga mendapat dukungan penuh dari pembalap HRC, Joan Mir, yang menyoroti bahaya pengereman massal dari kecepatan ekstrem di area tersebut.
"Saya sepenuhnya setuju dengan Diggia, karena di tikungan pertama kita sudah mencapai gigi kelima. Titik pengeremannya sangat panjang. Ada 20 motor yang berhenti di sana dari kecepatan 300 km/jam," cetus Joan Mir.
Mantan juara dunia itu berharap pihak penyelenggara bersedia mendiskusikan perubahan tata letak grid start demi meningkatkan keselamatan bersama di masa depan.
"Tentu saja, ruang untuk kesalahan sangat sempit. Dan saya pikir, ya, mungkin solusi yang baik adalah menggeser grid sedikit ke depan, untuk mencapai tikungan pertama dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah," tambah Joan Mir.
Meskipun risiko balapan di sirkuit tersebut tetap ada, para pembalap berkomitmen untuk membawa masalah ini ke forum evaluasi keselamatan.
"Saya yakin kita akan membicarakannya. Kita akan mencoba mencari keselamatan semua orang. Tetapi pada akhirnya, ini adalah risiko di trek ini. Jadi semoga kita bisa menyelesaikan ini untuk masa depan," pungkas Joan Mir.