Mantan manajer Manchester City Pep Guardiola menyebut Liverpool era Jurgen Klopp sebagai momok paling menakutkan sepanjang karier kepelatihannya di Inggris. Pernyataan tersebut disampaikan setelah dirinya resmi menyudahi masa bakti di Manchester City dengan raihan 20 trofi, dilansir dari Suara pada Jumat (29/5/2026).
Pengumuman emosional ini muncul setelah Manchester City menelan kekalahan 1-2 dari Aston Villa pada pertandingan pamungkas. Rivalitas taktis antara kedua manajer tersebut telah berlangsung selama 30 pertandingan di berbagai kompetisi dengan catatan Klopp unggul 12 kemenangan, Guardiola 11 kemenangan, dan 7 laga imbang.
Persaingan sengit ini sudah dimulai sejak keduanya melatih di Bundesliga Jerman sebelum akhirnya berpindah ke Premier League. Puncak rivalitas terjadi pada musim 2018-2019 saat Manchester City menjuarai liga dengan selisih hanya satu poin dari Liverpool yang mengoleksi 97 poin.
Meskipun Manchester City mendominasi dengan menyapu bersih empat gelar liga berikutnya termasuk musim 2022-2023, Guardiola tetap menaruh hormat tinggi kepada rivalnya. Pengakuan mengenai beratnya menghadapi armada The Reds diungkapkan langsung oleh pria berusia 55 tahun tersebut saat diwawancarai Noel Gallagher.
"Demi kualitas lawan yang kami hadapi, kami telah menghadapi banyak lawan tetapi Liverpool adalah mimpi buruk. Setiap saat, itu adalah mimpi buruk," kata Guardiola.
Di luar lapangan sepak bola, kedua juru taktik legendaris ini tetap menjaga hubungan personal secara profesional. Guardiola mengungkapkan bahwa komunikasi di antara mereka berdua tetap berjalan baik sejak masih berkarier di Jerman.
"Hubungan itu sangat baik. Selalu sangat baik, bahkan saat masih di Jerman. Kami saling berhadapan berkali-kali saat dia berada di Dortmund." kata Guardiola.
Mantan pelatih Bayern Munich tersebut kemudian menambahkan bahwa setelah keduanya sama-sama pensiun, sebuah rencana pertemuan santai akan segera diwujudkan. Rencana makan malam bersama ini menjadi momen pertama bagi kedua manajer setelah bertahun-tahun bersaing ketat.
"Kami belum pernah makan malam bersama sekali pun, tetapi sekarang hal itu akan terjadi." ujar Guardiola.
Selain faktor strategi permainan, atmosfer stadion Anfield dinilai menjadi elemen krusial yang menyulitkan tim tamu. Militansi para pemain Liverpool saat tampil di kandang diakui mampu meruntuhkan mentalitas lawan.
"Mereka sangat, sangat bagus pertama-tama. Tetapi pada saat mereka menghadapi kami, mereka tahu bahwa itu adalah pertandingan terbaik dari mereka dan yang terbaik di Anfield." kata Guardiola.
Guardiola menegaskan bahwa keangkeran markas Liverpool bukan sekadar mitos belaka karena faktor sejarah besar yang dimiliki stadion tersebut. Gaya permainan menekan yang diterapkan tim tuan rumah membuat kunjungan ke Anfield selalu menjadi tantangan terberat.
"Anfield memiliki sejarah yang tidak dimiliki stadion mana pun. Jarang ada tim yang bisa menang di Anfield. Tempat yang sangat sulit bagi saya karena cara mereka bermain, bukan hanya karena stadionnya." kata Guardiola.
Rivalitas panjang yang melibatkan taktik Gegenpressing dan Positional Play ini kini resmi berakhir di panggung domestik sepak bola Inggris. Kepergian Pep Guardiola dan Jurgen Klopp sekaligus menandai dimulainya babak baru dalam peta persaingan Premier League ke depan.