Pep Guardiola Tolak Label Manajer Premier League Terbaik

Pep Guardiola Tolak Label Manajer Premier League Terbaik

Modernisasi dan dominasi taktik di Liga Inggris kerap melahirkan perdebatan mengenai siapa peracik strategi terhebat sepanjang masa. Namun, Pep Guardiola menegaskan dirinya sama sekali tidak peduli terhadap label sebagai manajer terbaik Premier League.

Juru taktik asal Spanyol tersebut dipastikan bakal berpisah dengan Manchester City pada akhir musim 2025/26. Walau masa baktinya masih menyisakan kontrak selama semusim lagi, ia sudah memantapkan keputusan untuk menyudahi kariernya di Stadion Etihad.

Seperti dilansir dari Detik Sport, kebersamaan mantan pelatih Barcelona itu bersama The Citizens telah berlangsung selama 10 tahun, terhitung sejak 2016 sampai 2026. Dalam kurun waktu satu dekade, total 20 trofi berhasil dipersembahkan, yang berarti ia mencatatkan rata-rata dua kuping juara dalam setiap musim.

Pencapaian emasnya juga ditandai saat mengantarkan rival sekota Manchester United itu merengkuh trofi Liga Champions untuk pertama kalinya pada tahun 2023. Pada periode yang sama, tim asuhannya sukses mengunci gelar treble winners.

Melihat rekam jejak mentereng tersebut, dua legenda sepak bola Inggris, Gary Neville dan Jamie Carragher, sepakat menyebut pria berusia 55 tahun itu sebagai salah satu manajer teragung dalam sejarah kompetisi kasta tertinggi Inggris. Menanggapi sanjungan dari dua pandit itu, sang manajer memilih bersikap acuh tak acuh.

"Gary dan Jamie adalah fans Man United dan Liverpool kan? Dengar, sejujurnya aku sama sekali tidak memikirkan tentang hal itu. Aku tahu aku sukses dan itu sudah cukup," kata Pep Guardiola.

Bagi sosok kelahiran Santpedor ini, pengakuan dari figur penting di dunia sepak bola jauh lebih berarti ketimbang sebuah perdebatan publik.

"Pujian terbesar buatku adalah dari Sir Alex Ferguson. Itu membuatku bahagia," ujar Pep Guardiola.

Hubungan interpersonal yang erat dengan anak-anak asuhnya di ruang ganti juga menjadi elemen emosional yang melengkapi lembaran akhir kariernya di Manchester.

"Namun aku juga dapat pesan dari De Bruyne, Manuel Akanji, dan lainnya. Hal-hal itu membuat betapa beruntungnya aku di sini. Jadi, aku nggak mau berdebat yang nggak penting," tutur Pep Guardiola.

Komitmen penuh dan dedikasi emosional diakui selalu menjadi modal utamanya dalam menukang sebuah tim sepak bola, tanpa perlu mengkhawatirkan penilaian dari pihak luar.

"Aku bahagia di sini, di Barcelona, dan Bayern Munich. Aku mencoba yang terbaik dan memberikan segalanya untuk setiap orang di dalamnya," ucap Pep Guardiola.

Artikel terkait

Rekomendasi