Ronaldo Kwateh Ungkap Peran Besar Orang Tua dalam Karier Sepak Bola

Ronaldo Kwateh Ungkap Peran Besar Orang Tua dalam Karier Sepak Bola

Penyerang Timnas Indonesia, Ronaldo Kwateh, mengungkapkan rasa syukur atas dukungan masif kedua orang tuanya dalam meniti karier sebagai pesepak bola profesional melalui wawancara yang dirilis kanal YouTube Sport77 pada Kamis, 7 Mei 2026.

Pemain berusia 21 tahun ini mengaku bakatnya mengalir dari sang ayah, Roberto Kwateh, mantan pemain asing asal Liberia yang pernah membela berbagai klub besar Indonesia seperti PSIM Yogyakarta hingga Persitara Jakarta Utara.

Ronaldo menceritakan bahwa dirinya sudah akrab dengan atmosfer lapangan hijau sejak balita karena sering mengikuti agenda pertandingan sang ayah ke berbagai daerah, mulai dari Sidoarjo hingga ke Wamena, Papua.

"Waktu kecil sih sudah sering lihat papa. Terus kalau papa juga latihan saya sudah ikut ke lapangan terus. Jadi memang dari kecil sudah tahu sih kalau papa itu pemain sepak bola," kata Ronaldo Kwateh, penyerang Timnas Indonesia.

Pemahaman Ronaldo terhadap profesi ayahnya mulai mendalam saat Roberto Kwateh memperkuat Deltras Sidoarjo dan berhasil membawa tim tersebut menjadi runner-up untuk promosi ke kasta tertinggi liga Indonesia saat ia berusia sekitar lima tahun.

"Waktu papa main di Deltras, saya berusia empat atau lima tahun. Saat itu Deltras main di Liga 2, tapi naik ke ISL (Indonesia Super League). Papa yang bantu Deltras jadi runner up," tutur Ronaldo Kwateh.

Selama periode tersebut, Ronaldo kecil tidak pernah absen dibawa ke stadion oleh ibunya untuk menyaksikan sang ayah bertanding sebelum akhirnya mereka menetap di Yogyakarta saat ia memasuki usia sekolah dasar.

"Disaat itulah saya mulai paham kalau papa seorang pemain sepak bola. Saya selalu dibawa ke stadion. Pokoknya dari kecil sampai akhirnya pas SD baru netap di Jogja. Jadi selama sebelum SD itu, ikut papa ke mana-mana. Sama ibu juga," ujar Ronaldo Kwateh.

Perjalanan karier Ronaldo sendiri dimulai sangat dini ketika sang ibu mendorongnya masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) di Yogyakarta pada usia empat tahun meskipun secara regulasi usia tersebut sebenarnya belum diperbolehkan bergabung.

"Saya masuk SSB itu umur 4 tahun. Karena dulu, padahal enggak boleh. Jadi waktu masuk ke SSB itu enggak boleh. Cuma kata mama, 'Sudah, biarin aja, biar main di situ'. Karena kalau di rumah merusak semua barang-barang. Saya tendangin semua," kata Ronaldo Kwateh sembari tertawa.

Dukungan ibu Ronaldo sangat krusial karena ia berperan menggantikan tugas sang ayah yang sering bertanding ke luar kota dengan rutin mengantar serta menunggui putranya di pinggir lapangan selama sesi latihan berlangsung.

"Umur 5 tahun sudah mulai paham, umur 6 tahun baru paham instruksi pelatih. Waktu umur 4 tahun tuh, mama di pinggir lapangan. Tapi pakai baju SSB gitu biar aku ngerti kayak ini teman-teman main bola," tambah Ronaldo Kwateh.

Meski sempat mengalami cedera ligamen lutut (ACL) saat membela Semen Padang, Ronaldo mencatatkan sejarah sebagai pemain termuda yang debut di timnas senior pada usia 17 tahun saat melawan Timor Leste, 27 Januari 2022.

"Mama justru support banget. Dulu, waktu sudah menetap di Jogja, papa waktu main di luar kota pastinya, itu mama support banget. Ngantar latihan, terus ditungguin," kata Ronaldo Kwateh dilansir dari Bola.com.

Pemain yang namanya terinspirasi dari legenda Brasil, Ronaldo de Lima, ini menegaskan bahwa kehadiran kedua orang tuanya menjadi pilar utama dalam menjaga performanya baik di level klub maupun saat membela Skuad Garuda.

"Enggak pernah ditinggal. Jadi emang dari kecil, Puji Tuhan, papa sama mama support banget," tutup Ronaldo Kwateh.

Artikel terkait

Rekomendasi