Drama Korea Perfect Crown resmi mengakhiri penayangannya dengan mencetak rekor rating personal tertinggi pada Sabtu, 16 Mei 2026. Capaian tersebut diraih di tengah gelombang kritik keras dari penonton yang menuduh adanya distorsi sejarah dalam adegan penobatan pangeran.
Data dari Nielsen Korea menunjukkan bahwa episode pemungkas serial yang menampilkan IU dan Byeon Woo Seok ini meraih rating nasional rata-rata sebesar 13,8 persen. Angka tersebut menempatkan melodrama ini sebagai program yang paling banyak ditonton pada hari Sabtu, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Protes publik muncul karena tim produksi dinilai kurang teliti dalam menggarap detail protokol istana, meskipun drama ini menggunakan latar belakang dunia fiksi. Kritik tersebut berfokus pada kesalahan dialog dan aspek busana dalam ritual sakral kerajaan.
Merespons polemik yang berkembang, pihak pembuat serial segera mengeluarkan pernyataan resmi untuk menyampaikan permohonan maaf kepada publik bertepatan dengan hari penayangan episode terakhir. Mereka mengakui adanya kelalaian dalam memeriksa perubahan protokol istana Joseon berdasarkan catatan sejarah.
"Kami dengan tulus meminta maaf kepada para penonton yang telah mendukung drama ini dengan penuh cinta karena telah menimbulkan kekhawatiran terkait latar fiksi dan keakuratan sejarah dalam serial ini," ujar tim produksi.
Sebagai langkah pertanggungjawaban, pihak manajemen berkomitmen untuk segera merevisi bagian audio serta teks terjemahan yang dinilai keliru. Perbaikan materi siaran tersebut nantinya akan diterapkan untuk kebutuhan siaran ulang, layanan video-on-demand (VOD), serta platform penstriman legal di masa mendatang.
Gelombang protes penonton memuncak setelah penayangan adegan penobatan Karakter Pangeran I-an yang diperankan oleh Byeon Woo-seok. Penonton menemukan dua kesalahan fatal yang dianggap tidak sesuai dengan konsep monarki berdaulat yang diusung sejak awal oleh drama tersebut.
Kesalahan pertama terletak pada sorakan para pejabat istana yang meneriakkan kata "Cheonse" yang berarti 1.000 tahun. Penonton menilai ungkapan itu secara historis hanya digunakan untuk penguasa dengan pangkat lebih rendah, seperti Dinasti Joseon saat masih membayar upeti kepada Tiongkok, sementara untuk monarki berdaulat seharusnya menggunakan kata "Manse" yang berarti 10.000 tahun.
Sorotan kedua tertuju pada mahkota upacara tradisional atau myeollyugwan yang dikenakan Pangeran I-an yang hanya memiliki 9 untaian manik-manik. Berdasarkan pakem sejarah, sebuah kekaisaran mandiri yang berdaulat penuh seharusnya menggunakan mahkota dengan 12 untaian manik-manik atau sibi myeollyugwan sebagai simbol status kemerdekaan.