Persib Bandung bersiap mencetak sejarah baru sebagai klub pertama yang mampu meraih tiga gelar liga secara berturut-turut dalam laga pamungkas kompetisi Super League 2025/2026 melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Sabtu malam, 23 Mei 2026.
Pertandingan penentu takhta tertinggi sepak bola tanah air ini digelar serentak dengan laga kompetitor terdekat, Borneo FC Samarinda yang menjamu Malut United di Stadion Segiri. Dilansir dari bola.kompas.com, skuad Pangeran Biru saat ini memuncaki klasemen dengan koleksi 78 poin dari 33 pertandingan, unggul dua angka dari Borneo FC di peringkat kedua yang mengemas 76 poin.
Dominasi Persib musim ini terbilang stabil setelah memimpin klasemen sejak pekan ke-15 di bawah asuhan pelatih Bojan Hodak. Tim asal Jawa Barat ini mampu melewati fase transisi besar dan regenerasi tim dengan mendatangkan pemain baru seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Adam Alis setelah ditinggalkan sejumlah pilar penting yakni Tyronne del Pino, David da Silva, Ciro Alves, Gustavo Franca, dan Nick Kuipers.
Selain performa domestik yang impresif, Persib mencatatkan pencapaian luar biasa di kancah regional Asia. Skuad Maung Bandung menjadi klub Indonesia pertama yang menjuarai fase grup AFC Champions League Two 2025/2026 dengan raihan 13 poin dari enam laga di Grup G, serta berhasil menembus babak 16 besar untuk menghadapi Ratchaburi FC.
Secara historis, kedekatan emosional masyarakat terhadap klub ini sangat kuat karena diwariskan lintas generasi sejak era kolonial Belanda. Pengamat sejarah Bandung Hevi Fauzan memaparkan bahwa Persib bermula dari penggabungan klub-klub pribumi kecil di Bandung untuk menyaingi hegemoni kelompok Eropa, yang kemudian berujung pada pembentukan PSSI.
"Jadi Persib itu lahir dari klub-klub pribumi kecil yang kemudian membentuk satu klub besar yang mewakili kota," kata Hevi Fauzan, Pengamat Sejarah Bandung.
Hevi menambahkan bahwa sepak bola pada masa Hindia Belanda sarat dengan semangat nasionalisme untuk melawan dominasi sosial kelompok Eropa.
"Orang-orang pribumi ketika bermain bola ingin menyaingi hegemoni orang-orang Eropa. Maka terbentuklah klub-klub sepak bola yang kemudian berujung pada pembentukan PSSI," ujarnya Hevi Fauzan.
Menurut Hevi, kedekatan emosional tersebut kemudian tumbuh menjadi simbol kebanggaan dan kultur yang diwariskan secara alami dalam keluarga di Jawa Barat.
"Orang-orang Bandung dan Jawa Barat akhirnya menganggap Persib sebagai wakil mereka di kancah nasional. Jadi dalam persaingan nasional itu suara mereka diwakili oleh Persib," kata Hevi Fauzan.
Hevi mengenang bagaimana dirinya pertama kali mengenal klub ini secara natural dari sang ayah saat diajak menonton langsung di Stadion Siliwangi.
"Dari kakek ke ayah, lalu ke saya, lalu ke anak saya. Itu terus terjadi," kata Hevi Fauzan.
Ia mengaku tidak pernah dipaksa untuk menjadi pendukung, namun ketertarikan itu tumbuh dari pengalaman masa kecilnya.
"Kalau saya dulu diajak ke stadion mah senang saja. Walaupun belum ngerti bola, tapi di stadion banyak jajanan, banyak pedagang. Jadi awalnya saya senang jajanannya dulu," katanya Hevi Fauzan.
Pengalaman yang sama membuat naluri mendukung klub kebanggaan warga Bandung ini melekat kuat hingga dewasa.
"Ayah saya tidak pernah bilang: Kamu harus dukung Persib. Tidak pernah begitu. Tapi dari pengalaman itu, secara naluri saya ikut mendukung Persib karena ayah saya juga mendukung Persib," ujarnya Hevi Fauzan.
Kisah loyalitas pendukung juga dibagikan oleh Jakob Kusnadi, seorang bobotoh berusia 69 tahun dari Cimuncang Bandung yang telah mengawal perjalanan tim sejak era perserikatan. Jakob bahkan pernah nekat memanjat pohon demi menyaksikan deretan pemain legendaris seperti Ajat Sudrajat, Robby Darwis, dan kiper Sobur.
"Saya muter satu hari penuh, motor sampai hampir mogok. Tapi tetap, namanya cinta Persib. Senangnya susah dibayangkan," ujarnya Jakob Kusnadi, Bobotoh Persib.
Kini, Jakob masih terus menjaga tradisi kultural tersebut dengan mengajak anak hingga cucunya langsung ke stadion.
"Minggu kemarin saya bawa tiga cucu ke stadion. Jadi memang ini budaya bagi saya dan keluarga," katanya Jakob Kusnadi.
Kecintaan mendalam tersebut ditegaskan Jakob sebagai bentuk identitas kolektif masyarakat Tanah Pasundan.
"Saya meyakini, bobotoh bukan sekadar suporter. Mereka adalah penafsir hidup lewat sepak bola," kata Jakob Kusnadi.
Menjelang laga krusial ini, antusiasme tinggi juga ditunjukkan oleh Iqbal Septiadi, seorang bobotoh berusia 29 tahun asal Kota Tasikmalaya yang melakukan aksi ekstrem berjalan kaki menuju Stadion GBLA demi menunaikan nazar juara.
"Iya, memang tahu belum resmi juara, tapi kemungkinannya sudah 90 persen. Daripada nanti saya berangkat pas sudah juara, pasti jalanan macet banyak yang konvoi," ujar Iqbal Septiadi, Bobotoh Persib.
Ibal melakukan perjalanan disiplin sejak Jumat dini hari dan berhasil menembus kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung pada malam harinya.
"Berangkat setelah subuh, ini baru sampai (Nagreg). Saya cuma istirahat dua kali, itu pun hanya untuk makan," kata Iqbal Septiadi.
Aksi jalan kaki murni dilakukan untuk membayar nazar karena dirinya bahkan belum mengantongi tiket pertandingan pamungkas.
"Saya belum punya tiket. Jalan kaki ke GBLA cuma mau bayar nazar saja. Mungkin nanti pulangnya baru naik bus," kata Iqbal Septiadi.
Meski harus mendukung dari luar area lapangan, Iqbal tetap menaruh optimisme tinggi pada taktik racikan Bojan Hodak.
"Insyaallah, yakin dapat 3 poin dan yakin juara. Apalagi main di GBLA dengan dukungan puluhan ribu Bobotoh," kata Iqbal Septiadi.
Momentum perburuan gelar hattrick ini turut memicu memori kolektif legenda Persib Sutiono Lamso yang mengenang sejarah final Liga Indonesia edisi pertama 1994/1995 di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 30 Juli 1995. Dilansir dari pojokpapua.id, Sutiono merupakan pencetak gol tunggal penentu kemenangan melawan Petrokimia Putra.
"Sangat spesial sekali. Karena Perserikatan dan Galatama disatukan jadinya Liga Indonesia. Yang pertama itu, ya tahun 1994/1995. Saat kita bikin gol dan kita juara, ya saya sangat antusias sekali ya waktu itu," kata Sutiono Lamso, Mantan Pemain Persib.
Sutiono menceritakan bagaimana luar biasanya sambutan para pendukung bahkan sebelum rombongan tim tiba di arena pertandingan.
"Begitu pulang, saya juga diarak. Sebelum datang ke stadion juga saya sudah dicari-cari sama penonton. Mereka bilang,'Mana Sutiono, mana Sutiono'. Alhamdulillah, saya bisa bikin gol ya," imbuh Sutiono Lamso.
Trofi tersebut menjadi sangat monumental lantaran skuad Pangeran Biru kala itu murni mengandalkan pemain lokal di bawah arahan pelatih legendaris Indra Thohir.
"Ya, sangat meriah sekali waktu itu. Jadi tonggak sejarah Persib, kita jadi bintang satu. Itu awalnya bintang satu di jersey Persib. Tanpa pemain asing. Pemain lokal semua. Tapi musuhnya pemain asing," ujar Sutiono Lamso.
Atmosfer stadion yang dipadati sekitar 90 persen bobotoh memberikan suntikan motivasi besar bagi dirinya untuk membongkar pertahanan lawan.
"Banyaklah ya, momen-momen waktu itu. Pokoknya saya sebagai pemain depan, apalagi karena Bobotoh yang sangat besar sekali ya. Mayoritas 90 persen itu, Stadion Gelora Bung Karno sudah dikuasai oleh Persib," tukas Sutiono Lamso.
Sepanjang pertandingan sengit tersebut, Sutiono secara taktis terus bergerak aktif mencari celah di lini belakang musuh.
"Jadi gimana caranya nih saya bisa bikin gol lawan Petrokimia Putra di final. Saya berusaha terus pokoknya mencari kelemahan-kelemahan pemain belakang lawan. Saya berusaha untuk bikin peluang dari awal pertandingan. Bila atas kena, bola bawah masih kena juga. Harus gimana caranya?" tutur Sutiono Lamso.
Gol bersejarah akhirnya tercipta pada menit ke-79 berkat umpan matang dari Yusuf Bachtiar yang berhasil mengelabui penjaga gawang asing lawan.
"Akhirnya ada momen. Waktu itu ada umpan dari Kang Yusuf di depan gawang, enggak saya shooting. Kalau saya tembak, reflek kipernya bagus. Itu kipernya pemain asing. Kalau saya shooting, pasti kena blok," kata Sutiono Lamso.
Sutiono sengaja melakukan gerakan tipuan guna mematikan langkah antisipasi kiper sebelum menceploskan bola.
"Makanya, begitu saya pura-pura nembak, saat kipernya mulai gerak, baru saya shooting. Bolanya masuk gawang sangat lambat. Karena kalau langsung saya shooting pasti kena blok karena refleksnya bagus," jelas Sutiono Lamso.
Kemampuan membaca peta kekuatan lawan didapat tim setelah sempat bertemu pada fase penyisihan grup kompetisi.
"Itu dari apa? Dari pengalaman main pertama kan kita sebetulnya pas penyisihan ketemu Petrokimia Putra juga. Soalnya kita satu grup. Kan jadi lebih mengenal. Pas main pertama itu di penyisihan, hasilnya kosong-kosong kalau enggak salah," ucap Sutiono Lamso.
Hasil evaluasi dari pertemuan pertama dimanfaatkan dengan baik oleh jajaran pelatih untuk merumuskan formula taktik yang tepat.
"Makanya, pas main keduanya baru kita tahu. Oh ini, caranya seperti ini. Kelemahannya mungkin di sini. Kita coba terus pokoknya," tutur Sutiono Lamso.
Sesaat setelah gol tercipta, situasi di pinggir lapangan sempat emosional karena penonton mulai merangsek turun sebelum laga usai.
"Waktu saya bikin gol, penonton kayaknya sudah masuk ke dalam lapangan. Saking apa ya, senangnya. Bobotoh itu, sampai wah, saya juga, sudah itu kan diamankan juga karena pertandingan belum selesai. Banyak kuda-kuda kalau enggak salah waktu itu, yang di pinggir lapangan untuk mengamankan penonton. Karena di sentel ban pononton sudah banyak waktu itu," ujar Sutiono Lamso.
Pesta pora berlanjut setelah peluit panjang berbunyi, di mana Sutiono digendong oleh massa yang merayakan kemenangan.
"Begitu pertandingan selesai, saya sudah enggak biasa apa-apa. Semua masuk ke lapangan. Saya diangkat. Kaus saya dibuka, diambil. Celana juga sudah mau diambil. Bahaya kalau celana sampai diambil. Ya sudah, kaus saja enggak apa-apa," pungkas Sutiono Lamso.
Sutiono Lamso sendiri merantau dari Purwokerto pada akhir 1988 dan meniti karier awal melalui kompetisi internal bersama klub Produta.
"Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwekerto. Terus masu klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh. Ada kompetisi internal Persib," kata Sutiono Lamso.
Ketajamannya mencetak gol di kompetisi internal langsung menarik perhatian tim pencari bakat untuk mempromosikannya ke skuad utama.
"Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta. Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi," imbuhnya Sutiono Lamso.
Pelatih Nandar Iskandar kemudian langsung memanggil penyerang yang saat itu baru menginjak usia 22 tahun untuk bergabung dengan tim senior.
"Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib. Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib. Antwara percaya enggak percaya," kenang Sutiono Lamso.
Kepercayaan tersebut dibayar tuntas oleh Sutiono dengan membukukan delapan gol pada musim pertamanya di kompetisi Perserikatan.
"Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir,'Benar nih'. Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu," paparnya Sutiono Lamso.
Ia juga sempat menyabet gelar top skor pada turnamen pramusim Piala Utama 1992 yang mempertemukan tim-tim terbaik dari Perserikatan dan Galatama.
"Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan. Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan," ujar Sutiono Lamso.
Laga pekan ke-34 melawan Persijap Jepara ini menjadi penentu apakah momentum kejayaan masa lalu dapat didekonstruksi oleh skuad modern Persib Bandung untuk mengunci gelar juara liga musim ini.