Piala Dunia 1970 Hadirkan Revolusi Teknologi dan Sportivitas Tinggi

Piala Dunia 1970 Hadirkan Revolusi Teknologi dan Sportivitas Tinggi

Piala Dunia 1970 menjadi salah satu turnamen paling sakral bagi para pencinta sepak bola dunia karena menyuguhkan perpaduan keindahan seni, sportivitas, hingga kematangan taktis. Turnamen edisi kesembilan yang digelar di Meksiko ini juga menjadi momen bersejarah dalam revolusi teknologi siaran.

Seperti dikutip dari Medcom, kompetisi ini menjadi turnamen pertama yang disaksikan penonton layar kaca dalam format siaran televisi berwarna. Visual jersey kuning terang Brasil, rumput stadion yang hijau, serta kehadiran bola Adidas Telstar bermotif hitam-putih berhasil mengubah sepak bola menjadi tontonan budaya populer global.

Pele kembali memperkuat Brasil demi misi membawa pulang trofi Jules Rimet setelah sebelumnya sempat bersumpah enggan bermain akibat cedera pada Piala Dunia 1966. Pelatih Mario Zagallo menyatukan lima pemain bernomor punggung 10 di klub masing-masing, yaitu Pele, Tostao, Rivelino, Gerson, dan Jairzinho, menjadi kekuatan mematikan.

Brasil mencetak rekor 100 persen kemenangan sejak babak kualifikasi hingga partai final yang menjadi catatan pertama dalam sejarah Piala Dunia. Penyerang mereka, Jairzinho, juga mengukir rekor unik sebagai satu-satunya pemain yang selalu mencetak gol di setiap laga putaran final dengan total koleksi tujuh gol.

Laga semifinal antara Italia melawan Jerman Barat di Stadion Azteca berakhir dengan plakat resmi sebagai Game of the Century atau Pertandingan Abad Ini. Pertandingan berjalan imbang 1-1 pada waktu normal, sebelum drama lima gol tercipta pada babak perpanjangan waktu.

Gerd Mueller membuka keunggulan Jerman Barat pada menit ke-94, yang langsung dibalas Italia lewat gol Tarcisio Burgnich menit ke-98 dan Luigi Riva menit ke-104. Jerman Barat menyamakan kedudukan lewat gol kedua Gerd Mueller pada menit ke-110, sebelum Gianni Rivera mengunci kemenangan Italia menjadi 4-3 satu menit kemudian.

Kapten Jerman Barat, Franz Beckenbauer, menunjukkan aksi heroik dengan tetap bermain menggunakan perban yang mengikat lengan kanan ke dadanya akibat mengalami dislokasi bahu. Pemain berjuluk Der Kaiser itu menolak keluar lapangan karena jatah pergantian pemain timnya sudah habis.

Lahirnya Regulasi Kartu dan Pergantian Pemain

Piala Dunia 1970 menjadi pelopor penerapan regulasi modern FIFA untuk menjaga keselamatan pemain dan kelancaran laga. Sistem kartu kuning dan kartu merah resmi diperkenalkan dengan inspirasi dari warna lampu lalu lintas guna mengatasi kendala bahasa antara wasit dan pemain.

Tingginya sportivitas sepanjang turnamen membuat tidak ada satu pun kartu merah yang keluar dari kantong wasit pada edisi ini. Selain itu, aturan pergantian pemain maksimal dua orang mulai berlaku, dengan Anatoly Puzach dari Uni Soviet sebagai pemain pengganti pertama dalam sejarah.

Brasil keluar sebagai juara setelah menaklukkan Italia yang kelelahan dengan skor telak 4-1 di hadapan 107.000 penonton Stadion Azteca. Gol penutup dari kapten Carlos Alberto Torres yang melibatkan kerja sama sembilan pemain berbeda dinilai sebagai salah satu gol tim terbaik sepanjang masa.

Penobatan Abadi dan Akhir Dongeng Pele

Kemenangan ini membuat Brasil berhak menyimpan trofi emas asli Jules Rimet secara permanen di Rio de Janeiro karena berhasil memenangkannya sebanyak tiga kali. Skuad Selecao sebelumnya telah meraih gelar juara dunia pada edisi 1958 dan 1962.

Turnamen ini menjadi akhir dongeng indah bagi Pele yang pamit dari panggung internasional sebagai satu-satunya manusia dengan koleksi tiga cincin juara Piala Dunia. Catatan sejarah tersebut menjadi rekor yang belum tersentuh oleh pemain lain hingga saat ini.

Faktor geografis Meksiko yang berada di dataran tinggi dengan oksigen tipis dan cuaca panas membuat edisi ini mencatatkan sejarah baru bagi regulasi medis. FIFA untuk pertama kalinya mengizinkan para pemain untuk meminum air di pinggir lapangan saat pertandingan sedang berjalan.

Artikel terkait

Rekomendasi