Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kini menghadapi ancaman serius terkait penyebaran penyakit menular. Risiko penularan virus meningkat drastis seiring penerapan format baru turnamen yang melibatkan 48 tim.
Gelaran sepak bola terbesar ini diperkirakan bakal mendatangkan lebih dari lima juta penonton ke tiga negara tuan rumah. Seperti dikutip dari Suara, otoritas kesehatan dunia menaruh perhatian khusus pada potensi lonjakan kasus infeksi menjelang kompetisi yang bergulir mulai 11 Juni mendatang.
Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) selaku otoritas kesehatan Korea Selatan bahkan telah menerbitkan peringatan khusus. Imbauan tersebut ditujukan bagi warga negara mereka yang memiliki rencana untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di lokasi.
Salah satu fokus utama KDCA adalah fluktuasi penularan campak yang signifikan di wilayah Amerika Utara. Di Meksiko, tingkat infeksi penyakit tersebut dilaporkan mengalami kenaikan hingga mencapai angka 7,57 kasus per 100 ribu penduduk.
Kondisi serupa terjadi di Amerika Serikat yang telah mencatat sebanyak 1.792 kasus campak sepanjang tahun ini. Angka tersebut bergerak mendekati akumulasi total kasus pada tahun lalu yang menyentuh angka 2.288 infeksi.
Kanada juga mengalami situasi yang tidak kalah mengkhawatirkan terkait penyebaran virus ini. Negara tersebut terpaksa kehilangan status bebas campak yang telah dipertahankan sejak 1998 akibat kemunculan ribuan kasus infeksi impor sejak 2024.
Selain ancaman campak, wisatawan dan penonton juga diminta meningkatkan kewaspadaan saat berada di Meksiko. Negara tersebut hingga kini masih dikategorikan sebagai wilayah endemis untuk penyakit hepatitis A.
Wabah Ebola Jadi Perhatian Dunia
Kekhawatiran sektor kesehatan tidak hanya bersumber dari dinamika internal di tiga negara penyelenggara. Ancaman eksternal yang bersifat global turut memicu kewaspadaan tinggi, terutama dari daratan Afrika.
Kawasan Kongo dan Uganda saat ini sedang berada di tengah situasi krisis akibat hantaman wabah Ebola berskala besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya risiko penularan lintas negara yang sangat tinggi dari wilayah tersebut.
Berdasarkan data WHO, tercatat lebih dari 300 kasus dugaan Ebola yang muncul di kedua negara Afrika tersebut. Sejauh ini, sekurangnya 88 orang kedapatan meninggal dunia akibat serangan virus mematikan itu.
Kondisi darurat ini membuat WHO menetapkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Penetapan status darurat kesehatan global tersebut menegaskan perlunya langkah preventif ketat demi mencegah perluasan wabah ke ajang internasional.