Aparat kepolisian menangkap lebih dari 130 orang di Paris, Prancis, menyusul terjadinya bentrokan dan gangguan keamanan setelah laga final Liga Champions pada Sabtu (30/5) malam waktu setempat.
Kericuhan tersebut dipicu oleh oknum suporter Paris Saint-Germain (PSG) yang merayakan kemenangan tim mereka atas Arsenal dalam perebutan trofi juara Eropa, seperti dilansir dari Detik Sport.
Massa pendukung yang berjumlah lebih dari 40 ribu orang sebelumnya memadati area sekitar Parc des Princes untuk menonton pertandingan melalui layar raksasa.
Perayaan gelar juara Liga Champions kedua secara beruntun yang diraih PSG lewat adu penalti di Puskas Arena itu kemudian berubah menjadi bentrokan dengan petugas keamanan.
Kepolisian Paris mengerahkan ribuan personel guna mengamankan titik-titik rawan di ibu kota Prancis, di mana hingga pukul 23.00 waktu setempat dilaporkan enam kendaraan dan dua toko mengalami kerusakan.
Sebagian pendukung PSG dilaporkan menembakkan kembang api ke arah aparat, yang kemudian direspons petugas antihuru-hara dengan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengonfirmasi bahwa pihak berwenang telah menerapkan sistem pengamanan ketat untuk mengantisipasi eskalasi kekerasan.
"Ada sistem pengamanan yang sangat kuat dan sangat solid untuk membatasi kekerasan," ujar Laurent Nuñez, Menteri Dalam Negeri Prancis.
Langkah preventif berskala besar diambil pemerintah dengan mengerahkan sekitar 22 ribu polisi demi menghindari terulangnya tragedi musim lalu yang menewaskan dua orang.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa fokus utama tindakan pengamanan adalah untuk melindungi hak warga dalam merayakan kemenangan secara kondusif.
"Tanggung jawab kami adalah menjamin semua orang dapat merayakan secara meriah, tenang, dan aman sepenuhnya," kata juru bicara kepolisian.
Terlepas dari sejumlah titik kericuhan, sekitar 20 ribu suporter terpantau memadati kawasan Champs-Élysées dengan situasi yang secara umum relatif terkendali.