Paris Saint-Germain (PSG) melangkah ke final Liga Champions setelah bermain imbang 1-1 melawan Bayern Munich di Allianz Arena pada Rabu malam, 6 Mei 2026. Hasil tersebut memastikan Les Parisiens unggul agregat 6-5 untuk menantang Arsenal di partai puncak yang akan digelar di Budapest.
Keunggulan tipis PSG dipertahankan melalui pertahanan solid meski Bayern mendominasi penguasaan bola hampir di sepanjang pertandingan. Ousmane Dembele membuka keunggulan bagi tim tamu lebih awal, sebelum Harry Kane menyamakan kedudukan melalui gol pada masa tambahan waktu babak kedua yang tidak cukup untuk membalikkan keadaan.
Kekecewaan mendalam menyelimuti kubu tuan rumah akibat kegagalan memaksimalkan peluang dan beberapa keputusan wasit yang kontroversial. Bayern sempat melancarkan protes keras atas dugaan pelanggaran handball oleh pemain PSG di area terlarang yang tidak digubris oleh wasit maupun VAR.
Kapten Bayern Munich, Manuel Neuer, melontarkan kritik tajam terhadap ketidakefektifan barisan penyerang timnya dalam mengonversi peluang menjadi gol. Kiper veteran tersebut menilai aspek efisiensi menjadi pembeda utama antara kedua tim dalam laga semifinal ini.
"I think we didn't have the killer instinct in attack today, but ultimately we did have the opportunities to win the game" kata Manuel Neuer, Kapten Bayern Munich.
Neuer membandingkan performa timnya dengan PSG yang dianggap sangat klinis dalam memanfaatkan setiap celah. Menurutnya, kegagalan menuntaskan pekerjaan di depan gawang lawan menjadi alasan utama kegagalan Die Roten melaju ke final.
"We didn’t have many clear-cut chances, but when you do get those moments... look at Paris - they were simply killers, scoring five goals the way they did in the first leg. That’s exactly what we needed today. And I think you could see that we were actually close to reaching the final, but we weren’t able to finish the job" ujar Manuel Neuer, Kapten Bayern Munich.
Bek Bayern Munich, Jonathan Tah, mengakui keunggulan lawan secara sportif meskipun merasa sangat kecewa. Ia menyoroti bagaimana gol cepat Dembele mengubah dinamika permainan dan memaksa Bayern bekerja ekstra keras di bawah tekanan.
"They deserved to go to the final. Both games were close. They were different games - you can't compare them. They won twice so you have to give it to them" kata Jonathan Tah, Bek Bayern Munich.
Tah juga mencatat bahwa timnya gagal memberikan tekanan yang cukup pada lini belakang PSG setelah gol pembuka tersebut tercipta. Meski bangga dengan perjuangan rekan-rekannya, fokusnya kini beralih dari turnamen Eropa setelah kekalahan agregat yang menyakitkan.
"They scored the first goal really fast. They defended really good for a lot of minutes. We didn't put enough pressure on the backline. It feels very disappointing right now. To be successful you have to deal with difficult moments. You can't always be the winning team. We can be proud of the way we handled ourselves and gave everything. It will be a good game [the final] but I'm not focusing on this game" kata Jonathan Tah, Bek Bayern Munich.
Di kubu lawan, pelatih Bayern Munich, Vincent Kompany, memberikan pujian pada struktur skuat PSG yang banyak dihuni pemain muda potensial. Ia melihat faktor usia dan perkembangan pesat pemain lawan sebagai kekuatan yang sulit dibendung.
"Ce qui fait la force du PSG, c’est l’âge de l’effectif" kata Vincent Kompany, Pelatih Bayern Munich.
PSG kini berpeluang menjadi tim kedua di era modern yang mampu mempertahankan gelar juara Liga Champions secara beruntun. Laga final melawan Arsenal dijadwalkan berlangsung di Puskas Arena pada 30 Mei 2026 mendatang.