Puskas Arena di Budapest bersiap menyelenggarakan pertandingan final Liga Champions antara Arsenal melawan Paris Saint-Germain pada Sabtu malam, 30 Mei 2026.
Laga bergengsi di stadion berkapasitas 61.400 penonton tersebut menjadi puncak dari rencana ambisius dan investasi negara selama satu dekade di Hongaria.
Namun, momen bersejarah ini dipastikan berlangsung tanpa kehadiran Viktor Orban sebagai Perdana Menteri Hongaria, setelah dirinya lengser tiga minggu lalu menyusul kemenangan mutlak Peter Magyar.
Pembangunan stadion yang menelan dana pembayar pajak sekitar 500 juta poundsterling atau 672 juta dolar AS ini merupakan warisan kontroversial dari Orban yang dikenal sangat menggemari sepak bola.
Pakar ilmu politik dari Universitas Corvinus Budapest, Profesor Zoltan Balazs menilai hilangnya momen ini menjadi pukulan tersendiri bagi sang mantan perdana menteri.
“After an electoral victory, the final would have been an apotheosis of Orban’s international stature. The show has been completely stolen from him. That must be painful.” kata Profesor Zoltan Balazs, dari departemen ilmu politik di Corvinus University of Budapest.
Kini, Peter Magyar yang akan menjadi sosok utama untuk menyambut komunitas sepak bola Eropa di ibu kota Hongaria tersebut.
Profesor sosiologi olahraga dari University of Worcester, Gyozo Molnar menyebut situasi ini sebagai aspek personal paling pahit dari kekalahan Orban dalam pemilu.
“He built the stadium, lobbied for the event and then secured it. I believe he envisaged this as the crowning moment of his ‘sport as a nation’ project. He will have predicted that he would be victorious in this election and this final, hosted in Hungary, would be the icing on the cake. It would’ve been everything he dreamed of.” ujar Profesor Gyozo Molnar, profesor sosiologi olahraga dan latihan di University of Worcester.
Sebelumnya, pemerintahan Orban sering kali berselisih dengan Uni Eropa terkait kebijakan suaka, termasuk sanksi denda 200 juta euro dari Mahkamah Keadilan Eropa pada 2024.
Sebaliknya, Hongaria justru membangun hubungan yang sangat erat dengan badan sepak bola Eropa, UEFA, melalui serangkaian penunjukan sebagai tuan rumah acara besar.
Budapest berturut-turut menggelar final Liga Champions Wanita 2019, Piala Super Eropa 2020, empat laga Piala Eropa 2020 pada 2021, hingga final Liga Europa 2023.
Presiden Federasi Sepak Bola Hongaria, Sandor Csanyi mengonfirmasi peran besar pemerintah dalam penyediaan infrastruktur tersebut saat penunjukan tuan rumah pada 2024.
“The Puskas Arena and the infrastructure provided by the government for the organization of UEFA events has played a big role in this,” kata Sandor Csanyi, presiden Federasi Sepak Bola Hongaria dalam rilis pers.
Csanyi, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden FIFA dan Bendahara UEFA, merupakan sekutu dekat Orban dalam menjalankan program pembangunan sepak bola nasional.
Pendanaan proyek-proyek ini utamanya berasal dari skema pajak korporasi yang diperkenalkan Orban pada 2011, di mana perusahaan dapat mengalihkan pajak keuntungan mereka ke badan olahraga.
Media lokal 24.HU mengestimasi lebih dari 2 miliar poundsterling telah disalurkan melalui skema tersebut hingga tahun 2021, dengan sepak bola sebagai penerima manfaat terbesar.
Aliran dana tersebut terwujud dalam bentuk stadion baru berkapasitas 24.000 penonton untuk klub Ferencvaros, stadion baru di Debrecen, hingga stadion Puskas Akademia berkapasitas 4.000 penonton di Felcsut.
Orban yang sempat menjadi pemain semiprofesional di masa mudanya menjadikan sepak bola sebagai pusat ideologi politik guna membangkitkan kejayaan Hongaria era 1950-an.
Nama Ferenc Puskas disematkan pada stadion megah di Budapest, sementara rekannya Jozsef Bozsik dijadikan nama untuk stadion baru Honved yang dibuka pada 2021.
Sosiolog Gyozo Molnar menambahkan bahwa keterikatan kuat antara politik dan sepak bola ini mengadaptasi pola dari masa lalu Hongaria.
“If you go back to the Soviet era of Hungary, there was a very strong connection between the Communist party and sports, especially football. When the Iron Curtain fell and it became a democratic country again, a lot of politicians in the early 1990s actively tried to distance themselves from sport because the connection between sport and state was associated with Communism. It was only in 1998, when Fidesz came” ujar Molnar yang tumbuh besar di Hongaria.
UEFA memproyeksikan pertandingan final Liga Champions di Puskas Arena akhir pekan ini akan disaksikan oleh hingga 450 juta penonton di seluruh dunia.