Raphinha Tolak Klub London demi Gabung Barcelona dan Impikan Harry Kane

Raphinha Tolak Klub London demi Gabung Barcelona dan Impikan Harry Kane

Winger Barcelona Raphinha mengungkapkan dalam wawancara bersama TNT Sports Brasil pada Kamis, 21 Mei 2026, bahwa dirinya telah menolak penawaran menggiurkan dari dua klub besar London demi bergabung dengan raksasa Liga Spanyol tersebut pada musim panas 2022.

Pemain asal Brasil tersebut memutuskan meninggalkan Leeds United demi mengikuti jejak para legenda negaranya seperti Ronaldinho dan Neymar di skuad Blaugrana. Keputusan tersebut terbukti tepat setelah dirinya berhasil mempersembahkan trofi La Liga, Copa del Rey, hingga Spanish Super Cup, serta menjadi pilar penting di bawah asuhan pelatih Hansi Flick pada musim 2025/2026.

"Saya mendapat tawaran dari tim Biru dan juga tim Merah dari London, tetapi keputusan terbaik dalam karier saya adalah bergabung dengan Barcelona," ungkap Raphinha seperti dikutip dari TNT Sports Brasil yang dilansir oleh Fabrizio Romano.

Penawaran dari tim biru dan merah tersebut secara luas diyakini merujuk pada Chelsea dan Arsenal yang kala itu bersaing ketat di Liga Inggris. Komitmen pemain berusia 29 tahun itu di Camp Nou tetap kokoh meskipun belakangan muncul rumor transfer serta ketertarikan bernilai finansial besar dari sejumlah klub Liga Pro Arab Saudi.

Di sisi lain, Barcelona saat ini tengah mengantisipasi kepergian Robert Lewandowski yang kontraknya segera habis. Terkait komposisi pemain ideal, mantan bintang Leeds United itu membeberkan kekagumannya terhadap kapten tim nasional Inggris yang kini membela Bayern Munich.

"Ya, ia memiliki insting posisi yang luar biasa; ia bermain bagus dan mencetak gol. Saya memasukkannya ke dalam kategori pemain yang sangat hebat. Dia hampir jenius, tapi jenius sangat langka di level itu," kata Raphinha saat ditanya mengenai satu pemain modern yang paling ingin ia jadikan rekan setim.

Selain membahas mengenai dinamika transfer klub, sang penyerang sayap juga membagikan pandangannya mengenai atmosfer persaingan menjelang turnamen akbar Piala Dunia FIFA 2026. Ia menegaskan persaingan sengit antarklub, termasuk tensi tinggi dalam laga El Clasico, otomatis mencair saat para pemain berkumpul membela tim nasional Brasil.

"Saya tidak pernah memperhatikan hal itu, setidaknya tidak dalam kasus Vini dan saya, atau Rodrygo, Militão, dan Endrick. Ketika kami bergabung dengan tim nasional, persaingan klub praktis menghilang karena kami tahu kami di sini membela negara kami terlepas dari di mana kami bermain. Saya rasa itu tidak dipaksakan. Bukan berarti, ‘Saya harus masuk tim nasional dan saya harus mengesampingkan bagian itu.’ Tidak. Itu adalah sesuatu yang terjadi secara alami," jelas Raphinha mengenai hubungannya dengan para bintang Real Madrid.

Komitmen para pemain Selecao disebut murni untuk mengesampingkan urusan klub demi fokus penuh pada target negara. Ketegangan yang terkadang muncul di lapangan dinilai sebagai hal yang wajar dalam sepak bola.

"Kami tiba di kamp pelatihan dan kami akur. Bahkan di El Clásico, kami saling menghormati; masing-masing dari kami membela tim kami dengan segala kemampuan yang kami miliki, tetapi ketika kami berada di tim nasional, persaingan itu hilang," tutur Raphinha.

Mantan pemain Sporting CP itu pun mengakui bahwa dirinya mulai merasakan ketegangan yang semakin meningkat seiring dengan semakin dekatnya jadwal turnamen dunia tersebut. Rasa cemas dinilai menjadi hal yang sangat manusiawi bagi setiap pesepak bola.

"Kami mengesampingkan klub dan fokus pada tim nasional. Terkadang kami memang memanas, tetapi itu normal. Jika El Clásico tidak memanas, itu bukanlah El Clásico," tambah Raphinha.

Kapten Barcelona tersebut juga memaparkan adanya obrolan santai di internal pemain mengenai skenario ideal partai puncak turnamen. Ia berharap timnas Brasil dapat berjumpa dengan timnas Spanyol yang dihuni rekan setimnya, Lamine Yamal.

"Saya sangat cemas, tetapi hanya ketika Piala Dunia semakin dekat. Misalnya, saya merasa cemas tentang Piala Dunia saat ini, tetapi itu tidak sama dengan berada 15 hari lagi menuju turnamen atau sehari sebelum pertandingan pembuka kami," urai Raphinha.

Pertandingan menghadapi Spanyol diprediksi akan menyajikan tontonan yang sangat kompetitif mengingat kualitas skuad yang dimiliki kedua negara. Keyakinan tersebut didasari oleh komposisi materi pemain kedua tim yang merata di semua lini.

"Ini adalah rasa gugup yang wajar tentang bermain di turnamen ini. Kita akhirnya merasa seperti ini karena Piala Dunia adalah Piala Dunia – tidak mungkin menganggapnya enteng. Kecemasan dan kegugupan ini wajar, terlepas dari level masing-masing pemain," tegas Raphinha.

Wacana mengenai laga final ideal tersebut rupanya sudah sempat dibicarakan oleh bintang sepak bola Brasil lainnya bersama talenta muda Spanyol. Raphinha menilai laga tersebut akan menjadi salah satu pertandingan paling menarik dalam sejarah sepak bola modern.

"Neymar dan Lamine Yamal telah sepakat untuk final Brasil melawan Spanyol di Piala Dunia. Saya juga akan senang jika ada pertandingan seperti itu di final. Akan sangat bagus jika ada final Brasil melawan Spanyol," cetus Raphinha seperti dilansir dari media Spanyol SPORT.

Pihak manajemen Barcelona dikabarkan tetap puas dengan pondasi lini serang bentukan Hansi Flick yang mengombinasikan kreativitas Raphinha dan Lamine Yamal. Untuk mengisi slot yang ditinggalkan Lewandowski, direktur olahraga Deco kini tengah memantau penyerang Chelsea Joao Pedro dan Julian Alvarez dari Atletico Madrid.

Artikel terkait

Rekomendasi