Sektor perhotelan di berbagai kota penyelenggara Piala Dunia 2026 melaporkan angka reservasi kamar yang meleset dari target awal. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius bagi para pelaku industri hanya enam minggu sebelum turnamen dimulai.
Berdasarkan data survei American Hotel and Lodging Association (AHLA), dilansir dari Suara, ditemukan bahwa hampir 80 persen hotel di kota tuan rumah mencatat tingkat pemesanan yang lebih rendah dari proyeksi semula.
Fenomena ini bahkan terlihat di wilayah seperti Kansas City. Di lokasi tersebut, jumlah pemesanan kamar dilaporkan lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata okupansi pada periode Juni atau Juli di tahun-tahun normal.
"Meski lebih dari lima juta tiket pertandingan telah terjual, permintaan itu belum diterjemahkan menjadi pemesanan hotel yang kuat," tulis AHLA dalam laporan resminya.
Beberapa faktor utama diidentifikasi sebagai penyebab lesunya permintaan ini. Salah satunya adalah rendahnya volume kunjungan wisatawan internasional serta adanya kebijakan pembatalan kamar dalam skala besar yang dilakukan oleh pihak FIFA.
Pengetatan aturan imigrasi dan tingginya biaya pengurusan visa menuju Amerika Serikat dinilai menjadi penghambat utama bagi suporter asing. Hal ini membuat banyak penggemar sepak bola ragu untuk merencanakan perjalanan mereka.
Pihak AHLA juga menyoroti kendala teknis lainnya yang merugikan industri. Mereka menunjuk lamanya antrean pengajuan visa serta ketidakpastian proses masuk di bandara sebagai faktor yang mencederai minat wisatawan internasional.
"Bagi banyak penggemar, perjalanan ke AS untuk Piala Dunia kini terasa jauh dari sambutan karpet merah," ungkap AHLA dalam pernyataan resminya.
Selain masalah administratif, faktor ekonomi global turut memperparah keadaan. Penguatan nilai tukar dolar AS membuat total biaya perjalanan menjadi jauh lebih mahal bagi pengunjung dari luar negeri.
Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi pengusaha hotel yang semula memprediksi musim panas 2026 sebagai periode keuntungan maksimal. Harapan untuk meraih pendapatan besar kini terancam oleh sepinya minat menginap dari para pendukung tim nasional peserta.