Tim bulutangkis putra Prancis mencetak sejarah besar setelah berhasil menyingkirkan pemegang gelar terbanyak, Indonesia, pada laga penyisihan terakhir Grup D Piala Thomas di Horsens, Denmark, pada 28 April 2026.
Kemenangan telak 4-1 atas Indonesia tersebut memastikan kegagalan pertama Merah Putih lolos dari fase grup sepanjang sejarah keikutsertaan mereka dalam turnamen edisi ke-31 yang berlangsung pada 24 April hingga 3 Mei 2026 tersebut.
Dominasi Prancis berlanjut dengan mengalahkan tim-tim raksasa lainnya seperti Jepang dengan skor 3-0 di perempat final dan India dengan skor serupa di babak semifinal sebelum akhirnya takluk dari China di partai puncak.
| Partai | Pertandingan | Skor |
|---|---|---|
| Tunggal Putra 1 | Jonatan Christie vs Christo Popov | 19-21, 14-21 |
| Tunggal Putra 2 | Alwi Farhan vs Alex Lanier | 16-21, 19-21 |
| Tunggal Putra 3 | Anthony Ginting vs Toma Junior Popov | 20-22, 21-15, 20-22 |
| Ganda Putra 1 | Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri vs C. Popov/T. J. Popov | 21-18, 19-21, 21-11 |
| Ganda Putra 2 | M. Reza Pahlevi/Sabar Karyaman vs Eloi Adam/Leo Rossi | 19-21, 19-21 |
Kebangkitan bulutangkis di Prancis sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang sejak dibawa oleh para ekspatriat Inggris pada paruh kedua abad ke-19, tepatnya mulai tahun 1875 di wilayah Prancis Utara.
Analisis mengenai evolusi olahraga ini diuraikan oleh Julie Grall dalam disertasinya di Université Rennes pada tahun 2018 yang membedah praktik bulutangkis di Prancis hingga periode 1979.
"Bulutangkis sepertinya mengikuti proses kemunculan karakteristik banyak olahraga modern yang datang dari seberang selat (Inggris, red.). Olahraga-olahraga yang berkaitan pada sebuah bentuk ‘Anglomania’, seperti kasus renang, rugby, tenis, yang dianggap fenomena kultur asing yang di masa itu sedang digandrungi kalangan kelas orang-orang kaya," tulis Grall.
Grall menambahkan bahwa terdapat data yang menyebutkan aktivitas klub bulutangkis sudah eksis di Prancis sejak tahun 1892, meski publikasi resmi Federasi sempat mencatat tahun yang berbeda.
"’Revue du tennis et du Badminton’ yang jadi publikasi resmi kedua federasi itu antara 1934 dan 1939, menyebutkan bahwa bulutangkis sudah dimainkan di Prancis sejak 1896, saat kemunculan banyak klub di Dieppe, Paramé, Dinard, Pau, dan lain-lain. Namun terbitan publikasi berikutnya menyebutkan secara spesifik bahwa eksebisi pertama dihelat di Paris pada 1905 dan klub Prancis pertama didirikan tahun 1903. Bulutangkis sudah eksis (di Prancis) sejak 1892," sambungnya.
Perkembangan awal olahraga ini terkonsentrasi di kota-kota pesisir utara seperti Dieppe, di mana komunitas ekspatriat Inggris membangun asosiasi dan fasilitas latihan yang mencerminkan relasi sosial mereka.
"Misalnya di Dieppe, tempat 3.000 komunitas ekspatriat Inggris di antara 25 ribu populasi kota itu yang berkontribusi terhadap berdirinya klub bulutangkis. Asosiasi-asosiasi ini mencerminkan logika terciptanya relasi sosial di antara lingkaran dekat para imigran dengan aktivitas khususnya. Di Saint-Servan, instruktur militer Inggris, J.E. Jones yang ditugaskan di kota itu, mendirikan empat lapangan bulutangkis indoor di sebuah sekolah," sambung Grall.
Sejarah juga mencatat peran atlet sepeda asal Denmark, Charles Meyer, yang mengubah garasi besar menjadi lapangan bulutangkis indoor pertama di Prancis pada Oktober 1917, sebagaimana ditulis Jean-Yves Guillain dalam bukunya.
"Pada 1908, klub bulutangkis Dieppe menggelar kompetisi pertama di luar Inggris. Turnamen yang sukses itu diikuti serangkaian ajang-ajang pertandingan eksebisi tak biasa berupa ajang ganda tiga, pertandingan antara ganda putri melawan seorang pebulutangkis tunggal putra yang berlangsung sampai 21 poin," ungkap Guillain.
Namun, momentum emas bulutangkis di Prancis tersebut sempat terhambat akibat pecahnya Perang Dunia I yang mengisolasi wilayah-wilayah kunci seperti Dieppe dari bagian Prancis lainnya.
"Namun sayangnya melejitnya bulutangkis –berkat kolaborasi Inggris-Prancis– harus terhenti akibat Perang Dunia I. Kondisi perang mengganggu ‘era emas’ bulutangkis, terutama di Prancis, di mana Dieppe jadi area yang terus terisolasi dari segenap wilayah Prancis lainnya. Baru setelah perang olahraga –yang tadinya hanya eksklusif di Inggris Raya dan sedikit wilayah Eropa– itu mulai ‘diekspor’ ke bagian lain di dunia," tambahnya.