Riset Populix Ungkap Olahraga Jadi Sarana Networking Pekerja Urban

Riset Populix Ungkap Olahraga Jadi Sarana Networking Pekerja Urban

Keterbatasan waktu akibat padatnya jam kerja kerap menjadi rintangan bagi masyarakat urban untuk aktif bergerak. Namun, hambatan ini terbukti tidak menyurutkan komitmen para pekerja di kota besar untuk tetap menjalankan aktivitas fisik.

Dikutip dari Medcom, studi terbaru bertajuk How Sport is Becoming Part of Work and Regular Activity Among Indonesian Workers memetakan preferensi dari 840 responden pekerja muda urban. Data tersebut menyoroti ragam pilihan olahraga serta motivasi di balik aktivitas mereka.

Aspek kepraktisan kini menjadi indikator utama bagi para pekerja dalam menentukan jenis olahraga yang akan mereka jalani sehari-hari.

"Kami melihat adanya perubahan nyata pada profil pegiat olahraga masa kini. Bagi para pekerja muda di kawasan urban yang kami survei, olahraga bukan lagi sekadar aktivitas pengisi waktu luang atau kebugaran semata, melainkan sudah menjadi bagian integral dari rutinitas kerja, aktivitas harian, hingga sarana membangun jejaring," jelas Retno Gumelar, selaku Quantitative Research Manager Populix dalam sesi Time-out Briefing di Jakarta, Selasa 26 Mei 2026.

Fleksibilitas waktu menempatkan aktivitas luar ruangan yang sederhana dan olahraga berbasis digital di rumah pada posisi puncak. Berikut adalah rincian persentase jenis olahraga yang digemari oleh para pekerja:

  • Running & Outdoor (67%): Kategori ini mendominasi lewat aktivitas joging (45%), jalan santai (33%), serta partisipasi dalam ajang maraton resmi (2%).
  • Team Sports (32%): Olahraga beregu tetap populer untuk kebersamaan, yang dipimpin oleh sepak bola (18%) dan futsal (12%).
  • Cycling (30%): Bersepeda santai atau leisure cycling memegang porsi 26%, sementara porsi untuk sepeda balap atau road bike berada di angka 3%.
  • Rocket & Court (29%): Olahraga raket didominasi oleh bulu tangkis (21%), diikuti olahraga baru padel yang mulai naik daun sebesar 4%.
  • At-Home Digital (26%): Sebanyak 21% pekerja memanfaatkan panduan video gratis di platform YouTube atau Instagram, sedangkan 4% menggunakan aplikasi berbayar.
  • Strength & Gym (25%): Latihan beban mandiri di rumah dipilih oleh 13% pekerja, sementara 12% lainnya memilih beraktivitas di pusat kebugaran.
  • Lifestyle & Recreational (17%): Aktivitas renang diminati oleh 16% pekerja, sedangkan olahraga golf berada di angka 1%.
  • Mind-Body (14%): Untuk meredakan stres, yoga menjadi pilihan bagi 9% pekerja dan pilates diminati oleh 5% responden.

Pergeseran Motivasi Menuju Interaksi Sosial

Tujuan para pekerja urban dalam berolahraga kini tidak lagi terbatas pada kesehatan fisik semata. Sebanyak 60% responden memang memanfaatkan aktivitas ini sebagai me time atau momen personal untuk melepaskan penat setelah bekerja.

Meski demikian, dimensi interaksi sosial tercatat sangat kuat di kalangan pekerja modern. Riset menunjukkan bahwa 53% pekerja berolahraga untuk menikmati waktu berkualitas bersama keluarga atau pasangan.

Selain itu, sebanyak 40% responden memanfaatkannya sebagai sarana membangun jaringan profesional atau networking. Sementara itu, 39% lainnya menggunakan momen olahraga untuk berkumpul kembali dengan lingkaran pertemanan mereka.

Fenomena ini terlihat dari kebiasaan pasca-olahraga. Walaupun 60% pekerja memilih langsung pulang, sebagian besar lainnya memanfaatkan momen tersebut untuk bersosialisasi, seperti nongkrong, minum kopi, makan bersama komunitas, hingga melanjutkan kerja kelompok.

Artikel terkait

Rekomendasi