Ronaldo Kwateh Ungkap Peran Keluarga dan Cedera ACL di Turki

Ronaldo Kwateh Ungkap Peran Keluarga dan Cedera ACL di Turki

Penyerang Timnas Indonesia Ronaldo Kwateh membagikan kisah perjuangannya menghadapi cedera serius saat berkarier di Turki serta besarnya pengaruh orang tua dalam wawancara di kanal YouTube Sport77 pada Mei 2026. Pemain berusia 21 tahun tersebut sempat absen dari kompetisi kasta tertinggi musim 2025/2026 akibat pemulihan cedera lutut.

Karier Ronaldo di Eropa bersama Bodrum FK terhambat oleh cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang dialami hanya lima hari sebelum keberangkatan SEA Games 2023. Situasi tersebut diperparah dengan keberhasilan klub promosi ke liga utama Turki yang memicu perombakan komposisi pemain dalam skuad.

Sebelum merumput di luar negeri, Ronaldo membela Madura United selama satu setengah tahun dengan dukungan penuh dari manajemen klub untuk mengembangkan sayap ke kancah internasional.

"Di Madura saya 1,5 tahun. Sebenarnya kontrak saya tuh empat tahun. Tapi karena ada perjanjian saya boleh bermain di luar negeri dan saya sangat berterima kasih sama Pak Achsanul dan manajemen," kata Ronaldo Kwateh.

Pihak manajemen Madura United melepas sang pemain setelah adanya ketertarikan dari klub Turki yang memantau performanya secara langsung.

"Mereka sangat support kalau ada tawaran dari luar negeri. Ya, waktu itu tawaran dari Turki. Jadi mereka melepas saya," imbuh Ronaldo Kwateh.

Minat dari Bodrum FK muncul pasca keberhasilan Ronaldo mencetak sepasang gol dalam pertandingan uji coba melawan Antalyaspor U-20 yang memicu langkah komunikasi dari agen pemain.

"Nanya,' Kamu mau enggak main di luar negeri?'. Saya bilang, 'Oh, ya mau. Karena itu juga keinginan saya untuk bermain di luar negeri'. Akhirnya, dia minta nomor telepon saya," kata Ronaldo Kwateh.

Masa persiapan turnamen internasional menjadi momen pahit bagi pemain kelahiran Bantul ini lantaran hantaman cedera parah pada bagian lutut.

"Nah, itu yang saya sedih. Sebelum debut saya ada cedera yang ACL pertama itu. Kenanya pas persiapan SEA Games 2023. H-5 saya uji coba kena ACL," katanya.

Kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih membuat manajemen klub Turki memutuskan untuk tidak menyertakan Ronaldo dalam rencana skuad di Liga 1 hingga akhirnya ia hengkang ke Thailand.

"Mereka naik ke Liga 1 Turki. Mereka merombak tim. Mereka tahu kondisi lutut saya bagaimana, jadi mereka ngomong ke agen saya kalau saya susah ke Liga 1. Setelah dari Turki, saya baru ke Thailand," kata Ronaldo Kwateh.

Ketangguhan mental Ronaldo saat menghadapi dinamika karier diakui bersumber dari figur ayahnya, Roberto Kwateh, yang merupakan mantan pemain profesional di Liga Indonesia.

"Waktu kecil sih sudah sering lihat papa. Terus kalau papa juga latihan saya sudah ikut ke lapangan terus. Jadi memang dari kecil sudah tahu sih kalau papa itu pemain sepak bola," kata Ronaldo Kwateh.

Ingatan Ronaldo terhadap kiprah sang ayah menguat saat Roberto berhasil membawa Deltras Sidoarjo meraih posisi runner-up di kasta kedua sekaligus promosi ke level tertinggi.

"Kalau mengertinya sih waktu papa main di Deltras Sidoarjo. Waktu papa main di Deltras, saya berusia empat atau lima tahun. Saat itu Deltras main di Liga 2, tapi naik ke ISL (Indonesia Super League). Papa yang bantu Deltras jadi runner up," imbuh Ronaldo Kwateh.

Pemain yang kini membela Muangthong United ini mengenang masa kecilnya yang sering berpindah kota mengikuti domisili klub ayahnya, termasuk hingga ke wilayah Papua.

"Disaat itulah saya mulai paham kalau papa seorang pemain sepak bola. Saya selalu dibawa ke stadion. Pokoknya dari kecil sampai akhirnya pas SD baru netap di Jogja. Jadi selama sebelum SD itu, ikut papa ke mana-mana. Sama ibu juga" ungkap Ronaldo Kwateh.

Pengalaman berpindah-pindah tersebut mencakup masa ketika sang ayah memperkuat klub Persiwa yang berbasis di dataran tinggi Wamena.

"Paling jauh sampai ke Wamena, saya ikut juga. Selain Deltras, papa juga pernah main di Persiwa Wamena," terang Ronaldo Kwateh.

Disamping ayahnya, sang ibu memiliki andil besar dengan mendaftarkan Ronaldo ke sekolah sepak bola sejak usia empat tahun demi menyalurkan energi aktifnya.

"Saya masuk SSB itu umur 4 tahun. Karena dulu, padahal enggak boleh. Jadi waktu masuk ke SSB itu tidak boleh. Cuma kata mama, 'Sudah, biarin aja, biar main di situ'. Karena kalau di rumah merusak semua barang-barang. Saya tendangin semua," kata Ronaldo Kwateh.

Kehadiran sang ibu di pinggir lapangan setiap latihan membantu Ronaldo kecil beradaptasi dengan lingkungan sepak bola meski awalnya belum memahami instruksi taktis.

"Umur 5 tahun sudah mulai paham, umur 6 tahun baru paham instruksi pelatih. Waktu umur 4 tahun tuh, mama di pinggir lapangan. Tapi pakai baju SSB gitu biar aku ngerti kayak ini teman-teman main bola," tambah Ronaldo Kwateh.

Ronaldo menegankan bahwa dukungan moral ibunya sangat stabil meskipun ayahnya harus bertanding jauh dari rumah dalam periode yang lama.

"Mama justru support banget. Dulu, waktu sudah menetap di Jogja, papa waktu main di luar kota pastinya, itu mama support banget. Ngantar latihan, terus ditungguin." ujar Ronaldo Kwateh.

Karier profesionalnya saat ini tetap berpijak pada restu dan pendampingan orang tuanya yang tidak pernah absen memberikan dukungan sejak dini.

"Enggak pernah ditinggal. Jadi emang dari kecil, Puji Tuhan, papa sama mama support banget," tutup Ronaldo Kwateh.

Artikel terkait

Rekomendasi