Ronny Gani Garap Animasi Garuda di Dadaku Tanpa AI Demi Animator Lokal

Ronny Gani Garap Animasi Garuda di Dadaku Tanpa AI Demi Animator Lokal

Pembuatan film animasi Garuda di Dadaku menempuh jalur produksi konvensional di tengah maraknya penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk menekan anggaran. Langkah ini diambil oleh para kreator proyek layar lebar tersebut demi menjaga keberlanjutan ekosistem industri animasi di dalam negeri.

Sutradara Ronny Gani bersama produser Shanty Harmayn menegaskan bahwa pengerjaan sinema ini sepenuhnya mengandalkan kemampuan manual manusia. Keputusan strategis tersebut sengaja dipilih agar bakat-bakat animator domestik memiliki wadah yang konsisten untuk berkembang, seperti dikutip dari Suara.

"Karena kita masih percaya dengan kemampuan dan human craft dari talenta-talenta lokal kita ya," kata Ronny Gani usai konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu, 3 Juni 2026.

"Kita percaya juga bahwa kalau yang create itu human, akan lebih bisa kena dengan penerimaannya oleh audience kita," tambahnya.

Pilihan untuk menghindari jalan pintas teknologi kecerdasan buatan berdampak pada skala pengerjaan yang sangat besar. Ronny Gani yang sempat berkarier di industri perfilman Hollywood mengungkapkan bahwa proyek ini memobilisasi sebanyak 550 kru. Dari total kelolaan tersebut, hampir 500 personel di antaranya merupakan animator lokal dengan masa produksi kumulatif mencapai tiga tahun.

Durasi pengerjaan yang panjang ini memberikan ritme kerja baru bagi Shanty Harmayn yang terbiasa menangani film live action.

"Saya belajar banyak dari produser live action yang biasanya set, set, set gitu. Harus menerima (kenyataan bahwa proses animasi) like, oh wow, tiga tahun," tuturnya merujuk pada lamanya proses pembuatan.

Tantangan Revisi dan Metode Penyutradaraan

Proses kreatif selama tiga tahun menemui kendala terbesar pada aspek kedekatan cerita dengan penonton, bukan sekadar urusan visual. Tim sinema sempat melangsungkan Focus Group Discussion (FGD) berulang kali guna memetakan reaksi penonton, yang kemudian memicu konsekuensi berat pada lini produksi jika terdapat adegan yang kurang sesuai.

"Ada yang memang harus di-address (diperbaiki) tapi sifatnya lumayan besar impact-nya terhadap apa yang sudah diproduksi. Jadi dalam tahap produksi yang linear itu harus mundur, nge-redo (mengulang) katakanlah a chunk of work selama sekitar dua sampai tiga bulan di situ lagi," jelas Roni.

Konsekuensi perbaikan data visual yang memakan waktu lama ini sempat memunculkan dinamika diskusi yang intens antara sutradara dan pihak produser.

"Kalau live action, saya sudah tahu, oh banyak komennya, 'Ronny ganti ini'. Tapi ini kalau mau merombak bagian ini, we have to start from all over again. Itu yang bagi saya susah," seloroh Shanty.

Ronny Gani menerapkan standarisasi penyutradaraan internasional untuk menyiasati keterbatasan modal industri lokal yang belum setara dengan teknologi mutakhir Hollywood. Ratusan animator diwajibkan menyimak rekaman vokal para pemeran dan mempraktikkan gerakan akting tersebut secara langsung sebelum mulai menggambar lewat perangkat komputer.

"Saya minta kalian dengar ulang dialognya, recording-nya, terus act out. Kalian acting suara itu. Bikin itu jadi perencanaan kalian, sehingga saat kalian megang komputer, kerjanya udah lebih efektif. Itu metode-metode yang saya pelajari di luar negeri saya terapkan di sini," jelas sang sutradara.

Sinema yang dijadwalkan hadir di jaringan bioskop mulai 11 Juni mendatang ini bukan merupakan pembuatan ulang melainkan memperkenalkan karakter baru bernama Putra. Tokoh ini dikisahkan sebagai seorang anak penderita penyakit asma yang berjuang mengejar cita-cita menjadi pesepak bola profesional seperti Bayu Purnomojati.

Karakter dalam film ini diisi oleh deretan aktor dan aktris dari berbagai generasi. Beberapa nama yang terlibat meliputi Keanu Azka, Quinn Salman, Kristo Immanuel, Bimasena Prisai, Ibnu Jamil, Revalina S. Temat, Emir Mahira, hingga pemain belakang Timnas Indonesia, Rizky Ridho.

Artikel terkait

Rekomendasi