Penyanyi Sabrina Carpenter mengambil tindakan tegas dengan mengajukan permohonan perintah larangan mendekat terhadap seorang pria yang diduga melakukan penguntitan. Langkah hukum ini ditempuh setelah pelaku nekat menerobos masuk ke area pekarangan rumah pribadinya.
Aksi penguntitan agresif tersebut dilaporkan berlangsung sejak April lalu. Pelaku sempat menolak untuk meninggalkan lokasi kejadian sebelum akhirnya diringkus oleh pihak Kepolisian Los Angeles (LAPD).
Perlindungan hukum sementara kini juga telah diberikan kepada saudara perempuan Sabrina, Sarah, beserta kekasihnya, George, demi menjamin keselamatan bersama. Kasus ini mencuat setelah dilansir dari Medcom yang mengutip laporan USA TODAY.
Gugatan penghentian pelecehan sipil resmi didaftarkan ke Pengadilan Los Angeles pada Jumat, 29 Mei 2026. Berkas hukum tersebut mengungkap bahwa pelaku pertama kali mencoba berinteraksi langsung pada 23 Mei lalu dengan mendatangi pintu depan rumah sang penyanyi.
Tindakan nekat itu dilakukan setelah pelaku melompati pekarangan tetangga demi menjebol pagar pengaman yang melindungi rumah Sabrina Carpenter. Kejadian tersebut dinilai sebagai tindakan yang disengaja dan sangat mencemaskan.
"Bagi saya jelas sekali bahwa tindakannya itu disengaja, diperhitungkan, dan agresif, yang tentu saja sangat mencemaskan," tulis Sabrina Carpenter dalam gugatannya.
Pria tersebut dilaporkan berusaha keras memaksa masuk ke dalam rumah tanpa izin atau persetujuan. Ketika pintu tidak bisa dibuka, pelaku menggetok pintu dan membunyikan bel sebelum akhirnya tim keamanan mengusirnya dari area properti.
Dalam dokumen pengadilan, Sabrina Carpenter menyatakan bahwa pria itu sempat menolak pergi dan mengklaim secara palsu bahwa ia mengenal sang penyanyi secara pribadi. Pelaku terus melawan hingga pihak LAPD datang dan menangkapnya.
Sebelum insiden penerobosan, pelaku diduga sempat berkeliaran di sekitar lokasi selama dua jam menggunakan mobil untuk mengawasi situasi. Tim keamanan sempat menegur pria tersebut saat mengemudikan mobilnya mendekati area jalan masuk rumah.
Pada 25 Mei lalu, pria tersebut kembali mendatangi kediaman Sabrina Carpenter untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Hal ini membuat pihak kepolisian kembali dikerahkan ke lokasi kejadian untuk menangani situasi tersebut.
Penyelidikan lebih lanjut dari tim keamanan pribadi menemukan fakta bahwa pria tersebut telah melakukan penguntitan sejak sekitar 20 April lalu. Perilaku pelaku menunjukkan pola eskalasi yang jelas dan mengkhawatirkan karena bergerak semakin dekat ke rumah.
Rangkaian insiden ini menimbulkan ketakutan yang mendalam terhadap keselamatan pribadi serta semua orang yang tinggal di rumah tersebut. Tindakan fisik pelaku dinilai sebagai pelanggaran privasi paling meresahkan yang pernah dialami.
"Tindakannya yang secara fisik mencoba membuka dan memasuki pintu depan rumah saya tanpa undangan, persetujuan, atau dasar hukum apa pun adalah salah satu pelanggaran keselamatan pribadi dan privasi paling meresahkan yang pernah saya alami," ungkap Sabrina Carpenter.
Sabrina Carpenter juga menyoroti perilaku delusional pelaku yang merasa kehadirannya diharapkan di rumah tersebut. Tindakan penguntitan dan penerobosan ini diakui telah menimbulkan tekanan emosional yang berat dan berkelanjutan bagi dirinya.
“Saya takut akan apa yang mungkin ia lakukan jika pengadilan tidak membatasi ruang geraknya,” tutur Sabrina.
Berkas gugatan yang diajukan juga menyertakan bukti berupa foto-foto pelaku saat berada di area rumah yang terekam oleh kamera bel pintu. Anggota Unit Manajemen Ancaman LAPD dan tim keamanan pribadi turut menyerahkan pernyataan tertulis.
Saat ini, Sabrina Carpenter bersama Sarah dan George telah mendapatkan perintah larangan mendekat sementara. Sidang yang dijadwalkan pada akhir bulan ini akan menentukan apakah perintah perlindungan tersebut akan ditetapkan secara permanen.